Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
59. Teman Baru


__ADS_3

Keesokan harinya di kantin akademi, Sam dan Verzy berjalan mendekati 2 pemuda yang sedang menyantap makanan. Kedua pemuda tersebut terlihat nampak sangat akrab.


"Lien..." Panggil Sam yang langsung duduk di kursi depannya.


"Maaf Sam, kami makan duluan. Kalian terlalu lama".


"Benar, jadi kami makan duluan. Apa kalian sudah memesan makanan ?" Tanya seorang pemuda di sebelah Lien.


"Ehh... Perkenalkan Sam. Dia teman sekamarku, Fahre. Kami baru berkenalan tadi pagi". Sambung Lien setelah menelan makanannya.


"Perkenalkan aku Sam, dan ini teman sekamarku Verzy" Sam juga memperkenalkan Verzy. Mereka saling berkenalan satu sama lain.


"Aku Fahre, senang bertemu denganmu Sam, Verzy. Kemarin api hitammu sangat hebat Sam. Reputasi keluarga Huosan memang tidak salah".


Sam yang mendengar pujian dari Fahre sedikit tertawa senang. Tapi dia tidak ingin berdiri hanya karena nama kelurganya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa berdiri sendiri tanpa nama keluarga.


"Ehm, aku ingin memesan makanan sebentar". Ucap Verzy yang bangkit dari duduknya. Melihat Sam yang masih duduk, dia melanjutkan. "Apa kau tidak ingin memesan sesuatu Sam ?"


"Tidak. Aku sudah makan sesuatu saat kau mandi". Balas Sam dengan sedikit senyuman.


"Sepertinya kau sedikit makan Sam. Apa karena itu kau lebih kuat ?" Tanya Versi dengan lugasnya.


Mendengar pertanyaan Verzy, Lien yang sedang menyantap makanannya sedikit tersedak. "Uhukk uhuuk..."


"Apa kau tidak apa Lien ?" Tanya Fahre yang sedang memijit mijit pundaknya.


"Tidak.. aku hanya tersedak".


Melihat Lien sudah membaik, Sam menjawab pertanyaan Verzy. "Aku hanya, maksudku aku sudah makan ini". Sam mengeluarkan sebuah pil dari cincin dimensinya.


"Wahh, berapa kali sehari kau meminum pil itu Sam. Bukankah itu pil gizi tingkat tinggi ?" Tanya Fahre dengan antusias.


"Tidak, aku hanya meminumnya saat kelelahan saja. Kalian tahu kemarin kan ?"


Lien yang mengerti kalau Sam hanya berpura pura melanjutkan makannya. Dia sangat kelaparan karena tadi malam tidak makan sesuatu.


"Apa kau juga punya pil gizi seperti itu Lien ?" Fahre menatap Lien dengan penuh hasrat.


"Aku punya banyak".


"Apakah kau bisa memberikanku beberapa Lien. Aku hanya memiliki beberapa pil gizi tingkat menengah."


Lien yang mendengar permintaan Fahre kembali menghentikan makannya. Dia sedikit kesal karena makannya terganggu. Sementara Verzy mulai memesan makanannya.


"Ini ambillah !" Lien yang sudah mengambil beberapa pil gizi tingkat tinggi dari cincin dimensinya kemudian memberikannya kepada Fahre.

__ADS_1


"Terima kasih Lien".


"Sepertinya kalian sangat akrab ?" Tanya Sam melihat kebersamaan Lien dan Fahre.


Mendengar kata kata Sam, Lien dan Fahre saling pandang. Sebagai teman sekamar 6 tahun ke depan, tentu saja mereka harus akrab. Saat Lien dan Fahre saling pandang, Putri Teresta datang yang membuat semua orang menatapnya.


Putri Teresta yang datang dengan teman temannya berjalan ke arah meja disebelah Sam dan Lien. Verzy yang sedang membawa makanannya mempercepat langkahnya ke meja makan.


"Putri Teresta ke arah sini". Cakap Zy pada teman semejanya.


"Kami juga tahu". Jawab Lien dan Fahre bebarengan.


Sampai di mejanya, Putri Teresta tersenyum kepada 4 pemuda disampingnya. Menatap Sam, tatapan Putri Teresta semakin dalam. Teman teman Putri yang sedikit sombong heran dengan sikap ramah Putri Teresta kepada 4 pemuda disampingnya.


"Putri terlalu baik. Seharusnya mereka yang menyapa kita. Benar kan teman teman". Kata salah satu teman Putri Teresta yang di angguki oleh teman lainnya.


Putri Teresta yang mendengar ujaran dari teman temannya hanya menanggapinya dengan senyuman. Sementara Lien Verzy dan Fahre yang melihat senyuman Putri Teresta, menelan ludahnya sendiri berkali kali.


Sesaat kemudian, Putra Mahkota bersama dengan seorang rekannya juga masuk ke dalam kantin. Sekarang giliran para murid perempuan yang nampak histeris. Mereka juga berharap Putra Mahkota dapat duduk dimeja disamping mereka.


"Putri, bisakah kau meminta Putra Mahkota untuk duduk di samping kita ?". Pinta salah satu teman Putri Teresta.


Putri Teresta yang memahami kepribadian Putra Mahkota, menolak halus permintaan temannya. "Putra Mahkota hanya memikirkan tentang kekuatan. Dia akan menolaknya".


"Aku juga akan menjadi kuat". "Aku juga".


Melihat ketiga temannya yang sudah terpengaruh dengan pesona Putra Mahkota, Putri Teresta memijit kepalanya. Dia merasa sepertinya telah salah memilih teman.


"Teman teman, bisakah kita memesan makanannya ?" Tanya Putri Teresta kepada teman temannya.


Lien, Verzy dan Fahre yang mendengar perkataan Putri Teresta bangkit dari kursinya dan menawarkan jasa pemesanan makanan.


"Perkenalkan Putri, saya Verzy. Makanan apa yang ingin Putri makan, biar saya yang memesannya ?"


"Saya Lien, jika Putri ingin meminum sesuatu saya akan membelikannya untuk Putri".


"Saya juga akan membelikan desert yang Putri mau. Nama saya Fahre".


Putri Teresta yang mendapatkan tawaran dari 3 pemuda tampan disampingnya merasa tersanjung. Menatap ke arah Sam, dia sebenarnya mengharapkan Sam mendekati dirinya.


"Aku ingin makan fried rice dan perasan lemon ditambah coklat balok". Teman teman Putri Teresta menyampaikan pesanannya.


"Aku mau roti bakar isi keju dan segelas green tea".


"Aku..."

__ADS_1


Belum selesai mereka menyampaikan pesanannya, Lien Verzy dan Fahre menjawabnya dengan bebarengan. "Hentikan.. kalian pesan sendiri saja".


Teman teman Putri Teresta yang mendengar jawaban dari ketiga pemuda didepannya, sudut bibir mereka berkedut. Mereka tidak mengira kalau ada pemuda yang menolak pesona dirinya.


Sementara Sam yang merasa malu dengan tingkah ketiga temannya bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah meninggalkan kantin akademi. Lien yang melihat Sam melangkah pergi, meninggalkan Putri Teresta dan mengejar Sam.


"Sam, tunggu aku". Seru Lien pada Sam.


"Kenapa kau mengikutiku. Bukankah kau ingin dekat dengan Putri Teresta".


"Aku hanya kesal karena kita tidak satu kamar !"


"Apa hubungannya dengan itu ?"


"Tidak ada. Heehee. Tapi apa kau benar meminum pil gizi itu Sam ?"


"Tidak. Bukankah kau sudah mengetahuinya".


"Hmm, tapi untuk apa kau berbohong. Jika kakek mengetahuinya, dia akan menghukummu !"


"Sebenarnya aku malu mengakuinya. Tapi aku tidak memiliki uang sama sekali".


Lien yang mendengar jawaban dari Sam tertegun lalu tertawa terbahak bahak. "Hahahahaaa... Putra Duke tidak memiliki uang, hahahahaaa.. sangat menggelikan"


"Jangan keras keras Lien. Kau membuatku malu".


"Ahh maaf Sam. Aku hanya sangat terkejut mendengarnya". Balas Lien yang masih tertawa kecil.


Lien mengambil beberapa kantong emas dan memberikannya kepada Sam. "Apakah orang tuamu lupa mengisi perbekalanmu juga". Tanya Lien lebih lanjut.


Di kediaman Duke Huosan, Viana yang sudah duduk di meja makan, belum juga menyantap makanannya.


"Apa yang kau pikirkan Viana. Cepat makan makananmu.". Pinta Duke pada istrinya.


"Aku menunggu Sam. Bukankah dia seharusnya sudah kembali ?"


"Kembali...."


Mendengar istrinya menunggu Sam, Duke mengingat sesuatu. "Aku lupa mengatakannya padamu Viana. Setelah lulus seleksi, Sam akan langsung tinggal di asrama". Duke mengatakannya dengan sedikit terbata bata.


"Apa ?"


"Itu adalah aturan baru akademi sejak 3 tahun yang lalu... Kenapa kau begitu cemas ?"


"Aku belum memberikan perbekalan pada Sam !"

__ADS_1


__ADS_2