Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
79. Batu Bulan


__ADS_3

"Sebenarnya batu apa ini. Kenapa master memintaku untuk membawanya !" Gumam Neil sambil berbaring dan memutar mutar batu ditangannya.


Tidak lama, rasa kenyang dan lelahnya membuat kedua matanya tertutup. Neil masuk ke alam lain lagi. Alam yang juga ditemuinya di bumi.


Diruang kepala akademi, Milia yang tidak tenang dengan permintaan Geiz langsung menceritakannya kepada Juan. Mendengar cerita Milia, Juan hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.


"Lalu apa pendapatmu mengenai permintaan Master Geiz ?" Tanya Juan pada Milia.


"Eehmm, kitab terlarang adalah salah satu benda yang dijaga. Kita bisa memberikan alternatif kepada Master Geiz". Jawab Milia dengan lugas.


"Apa kau tahu apa alasan Master Geiz sangat menginginkannya ?"


"Membalas dendam".


"Lalu apakah ada cara lain untuk mengalahkan makhluk yang sekuat dewa ?"


Milia yang mendengar balasan dari Juan tidak bisa berkata apa apa lagi untuk menanggapinya. Tapi dia tetap pada keyakinannya.


"Tapi, kitab terlarang juga bukan sebuah benda yang bisa dipelajari siapa saja. Jika tidak bisa mengendalikannya, penggunanya bisa menjadi monster".


"Kau juga benar. Jika melawan iblis itu tidak mungkin, begitu pula dengan kitab terlarang. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan?"


Milia memikirkan mengenai pandangan yang diberikan oleh Juan. Dengan lirih dia menjawab. "Master Geiz harus melupakan dendamnya".


"Aku serahkan urusan itu padamu ?"


"Baik master kepala. Akan ku usahakan yang terbaik !"


Dihari berikutnya di pemakaman akademi, prosesi pemakaman ayah kandung Geiz telah selesai dilaksanakan. Tidak ada banyak yang hadir, hanya para tetua dan beberapa guru yang sedang tidak bertugas.


Setelah memberikan penghormatan terakhirnya, mereka kembali ke tempatnya masing masing, hanya menyisakan Geiz yang masih berlutut di depan nisan ayah kandungnya.


Momen inilah yang dimanfaatkan oleh Milia untuk membantu Geiz melupakan dendamnya. Dia mengumpulkan semuanya dan merancang rencananya secara bersama sama.


"Apa yang sedang kalian bicarakan ?"


Geiz tiba tiba datang saat Milia dan semuanya sedang membahas rencananya.


"Ehh, kami sedang merencanakan renovasi pemakaman. Sepertinya beberapa bangunan sudah mulai rapuh". Balas Milia dengan terbata bata.


Tidak membalas kembali, satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan untuk melanjutkan kembali aktivitasnya.


"Master Yosh, bisakah kita berbicara sebentar ?"


Sebelum Yosh pergi meninggalkan ruangan, Geiz memanggilnya untuk membahas sesuatu.

__ADS_1


"Ehhh, tentu. Apa yang ingin kau bicarakan Master Geiz ?"


Melihat ke arah Neil, Geiz kemudian meminta batu yang dibawanya dari bukit bulan.


"Berikan batu itu ?"


Neil yang mendengar permintaan gurunya, kemudian mengeluarkan dan menyerahkan batunya kepada Geiz. Milia Juan dan beberapa orang yang melihat batu itu serentak tertegun. Sebuah batu yang sangat langka sekarang ada di hadapan mereka.


Juan dan Ren yang melihatnya juga merasa heran karena Neil seringkali beruntung mendapatkan barang barang berharga dan langka. Secara bersamaan mereka berdua menarik nafas beratnya.


"Apakah batu ini bisa menggantikan sumber kekuatan alat sihir murid bodoh itu ?" Geiz menyindir Neil sambil memberikan batu itu pada Yosh.


Yosh yang menerima batu itu masih tertegun, dia tidak menyangka akan dapat menyentuh batu yang sangat langka itu.


"Darimana kalian menemukan batu ini ?" Tidak menjawab Yosh malah bertanya pada Geiz.


Tidak mendapatkan jawaban dari Geiz dan Neil, Yosh berusaha mengembalikan pikirannya sebagai peneliti yang profesional.


"Ehm, melihat dari corak dan auranya, tidak salah lagi ini adalah batu bulan. Sebuah batu yang menurut legenda hanya dapat ditemui di istana Dewi Bulan".


Geiz yang baru mengetahui mengenai infomasi itu juga nampak tertegun. Batu yang awalnya dia kira hanya sebuah batu langka biasa ternyata lebih dari sebuah batu langka.


"Tadi kau bertanya apakah batu ini bisa menggantikan batu sihir... Batu ini dapat meningkatkan kemampuan alat sihir berkali kali lipat". Jawab Yosh pada pertanyaan Geiz sebelumnya.


Neil yang mendengar perkataan Juan sudut bibirnya berkedut. Dia kemudian menutupi pandangan Juan pada batu bulan miliknya yang dipegang oleh Yosh.


"Master Yosh jangan pedulikan mereka".


"Bocah itu... ?" Gumam Juan yang didengar oleh orang didekatkan.


"Seperempat batu ini sudah cukup untuk menggantikan batu sihirmu. Sisanya mau kau jadikan apa Neil ?" Yosh bertanya kepada Neil.


"Sisanya..."


"Kenapa kau bertanya pada murid bodoh ini. Sisanya aku serahkan pada akademi, tapi ... "


Geiz memandang ke arah Juan dan Milia. Dia kemudian melanjutkan kata katanya.


"Tapi aku meminta kompensasinya"


Juan yang mengerti maksud perkataan Geiz tidak ingin memberikan ruang pada Geiz untuk mendapatkan keinginannya.


"Aku tidak memerlukannya" Jawab Juan dengan tak acuh.


"Kalau begitu, tolong Master Yosh menyimpannya terlebih dahulu".

__ADS_1


"Baiklah, akan aku simpan sisanya. Tapi ini akan menjadi aset akademi. Jika dalam keadaan genting, batu ini akan digunakan".


Geiz mengangguk tanda setuju. Neil juga ikut mengangguk tanda setuju. Juan juga mengangguk tanda setuju.


"Akan ku usahakan yang terbaik !" Tutup Yosh pada obrolan mereka.


Selesai obrolan, mereka kembali ke aktivitasnya masing masing. Misi untuk membuat Geiz melupakan dendamnya pun dimulai. Kini semua orang akan lebih dekat dengan Geiz untuk memberinya dukungan.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Waktu yang dinantikan oleh Geiz akhirnya tiba. Pagi buta, dia mendapat kabar kalau ibu kandungnya sudah menunjukkan tanda tanda kesadarannya. Jari jemarinya sudah terlihat bergerak.


Geiz yang mendapat kabar kesembuhan ibunya langsung bergegas menuju ke ruang perawatan. Betapa senangnya Geiz saat dia sampai disana ternyata ibunya sudah sadar sepenuhnya.


Masih melihat ibunya dalam keadaan terbaring, Geiz berjalan menemuinya. Merapikan pakaiannya dia menyapa ibu kandungnya setelah sekian lama.


"Ibu..."


Ibu kandung Geiz yang mendengar seseorang memanggil namanya memberikan respon pandangannya.


"Kau siapa ?"


"Aku Geiz bu, Gaiz Sander".


"Tidak mungkin. Anakku Geiz masih kecil".


Membalas perkataan Geiz, ibu kandung Geiz merasakan sakit dikepalanya. Dia sedikit mengerang kesakitan. Perawat meminta Geiz untuk keluar dan tidak bertanya sesuatu yang membebani pikiran ibu kandungnya terlebih dahulu.


"Apakah bibi sudah sadar ?" Yuwe yang baru datang langsung menanyakan kabar yang didengarnya pada Geiz.


"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa mendengar suaranya kembali".


"Lalu kenapa kau nampak bersedih ?"


"Rubah sialan itu..." Geiz mengepalkan tangannya dan memukul tembok didepannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi ?"


"Selain membunuh ayahku, dia juga merenggut memori ibuku.. tidak akan kumaafkan !" Geiz mengatakannya dengan rasa penuh amarah.


"Tenanglah Geiz. Bibi baru sadar, masih banyak waktu untuk memulihkan semuanya".


Mendengar perkataan Yuwe, Geiz merasa sedikit tenang. Mengingat kembali perlakuan yang mungkin dilakukan oleh rubah iblis pada kedua orang tuanya, Geiz mengambil nafas beratnya.


"Ngomong dimana Neil, beberapa hari ini aku tidak melihatnya ?" Tanya Yuwe untuk mengalihkan pikiran Geiz.


"Dia sudah memulai latihannya dengan master kepala beberapa hari yang lalu". Jawab Geiz dengan tak acuh.

__ADS_1


__ADS_2