Tambatan Hati Kaisar Kegelapan

Tambatan Hati Kaisar Kegelapan
Chapter 41


__ADS_3

Saat ini Kanoko sedang bersama sang istri dikediaman persik


"Yang mulia, apa anda bahagia"


Mendengar pertanyaan itu Kanoko yang saat ini sedang berbaring dipangkuan sang istri tersenyum


"Hm, aku sangat sangat bahagia"


Nalila tersenyum sambil mengelus surai hitam milik sang suami.


Hari ini pagi yang cerah dan saat ini semua orang melakukan tugasnya masing-masing


Dan tidak lama perdana menteri Mishugi datang ingin menemui Kanoko


tok tok


Mendengar ada seseorang, Kanoko kesal karena acara sayang sayangnya dengan sang istri harus terganggu


"cih, siapa yang mengganggu sih"


Sedangkan Nalila tersenyum "yang mulia, kau tidak boleh seperti itu"


Nalila beranjak membuka pintu ruangan


"masuk lah"


Saat itu seseorang pun datang dan langsung menunduk


"maaf yang mulia saya mengganggu anda"


Nalila menggeleng dan tidak lama Kanoko datang dengan pakaian jubah


"kau memang mengganggu" ucapnya datar


Si pelayan itu menjadi tidak enak


"Ada apa kau datang sepagi ini haah"


Pelayan yang ternyata adalah Hajime melirik sebentar namun kerena Nalila paham maka


"saya pergi dulu yang mulia"


"sayang ingat kau pergi harus dengan para dayang" setelah mengatakan itu muncullah dua orang gadis siapa lagi kalau bukan Chita dan Liana .


"Yang mulia" ucap mereka berdua


Saat itu Kanoko yang melihat itu menatap


"kalian jaga istri ku dengan baik, kalau ada apa apa cepat beri tahu aku" perintahnya


"baik yang mulia" setelah mengatakan itu Nalila pergi bersama kedua gadis itu tidak lupa ia menyuruh satu orang


"Hai kau kemari lah" perintah Kanoko


orang itu pun menghampiri Kanoko


"kau ku beri tugas untuk menjaga permaisuri, dan ingat selalu waspada"


mendengar itu orang itu mengangguk


"karena aku yakin Mishugi dan juga kaki tangannya ada disekitar kita sekarang"


Orang itu menunduk dan kemudian


"Yang mulia, saya ingin mengatakan sesuatu "


mendengar itu Kanoko pun kembali menatap bawahannya


"cepat katakan" tegas


Orang itu terdiam sejenak namun tidak lama


"anda masih ingat Hikaru Tachimi seorang gubernur negeri ini"


Kanoko mengangguk sebagai jawabannya


"Dia lah yang sudah membunuh pelayan terdahulu yang mulia yosaka"


mendengar itu Kanoko tersentak kaget

__ADS_1


"dari mana kau mengetahuinya"


"Saat anda diangkat menjadi kaisar, seorang pelayan diminta membawakan makanan"


Kanoko mengingat itu dan ia kembali mengangguk


"Apakah pelayan itu sampai"


Kanoko "iya aku ingat saat itu memang ibunda meminta seorang pelayan membawakan aku makanan, tapi aku tidak melihatnya setelah itu"


orang itu "anda tahu pelayan itu terbunuh oleh tuan Hikaru, mungkin anda tidak mempercayai nya"


Kanoko bukan tidak percaya, tapi dia hanya menunggu waktu yang tepat.


"lanjutkan lagi"


Orang itu kembali melanjutkan ucapannya


"Waktu itu si pelayan mendengar kalau tuan Matsumoto berencana membelot kerajaan namun, setelah itu pelayan itu langsung ketahuan"


Mendengar itu Kanoko berfikir keras yang ia takutkan istrinya lah dalam bahaya


Sedangkan saat ini Nalila berada di taman yang masih dikawasan kediaman sang raja.


"yang mulia, pasti yang mulia kaisar sangat mencintai anda" ucap Liana


Nalila tersenyum tidak lama kemudian seorang perempuan datang


"oh ini selir Tsuyu itu"


Mendengar itu Nalila tersenyum lalu memberi hormat pada wanita yang tidak lain adalah Harana.


"eh nyonya berani nya kau" ucapannya terputus saat tangannya dicengkeram oleh teman yang ada sampingnya.


"Siapa kau beraninya, berbicara tidak sopan dengan ku" ucapnya sombong


"maafkan dia nyonya, dia sudah tidak sopan pada anda" ucap Nalila lembut


Perempuan itu pun membuang muka dengan sombongnya


"Heh, tolong ajari pelayan mu itu tata krama yaa seluruh istana ini tahu kalau aku a..." ucapanya terputus


Nalila menoleh saat mendengar suara itu dan langsung memberi hormat sedangkan Harana langsung terdiam dan menunduk


Yaa yang menginstruksikan tadi adalah Kanoko


"Oh nyonya Tachimi, apa yang anda lakukan disini"


Mendengar itu Harana berusaha untuk tersenyum


"itu yang mulia, saya ingin menemui yang mulia permaisuri, tapi" sambil menatap Nalila dengan pandangan mengejek


"Saya ingin tahu bagaimana rupa selir yang anda pilih"


Kanoko yang sudah tahu sifat ibu mertuanya itu tersenyum remeh


"Lalu apa urusanmu dengan siapa selir yang aku pilih, hm apakah aku harus minta izin padamu"


Mendengar itu Harana tergagap "bu bukan begitu yang mulia, tapi kita harus tahu latar belakang gadis itu"


"Apakah kau yang menentukan hm, bukan kan"


Nalila yang mendengar itu langsung memegang lengan


"maaf kan aku, menyela pembicaraan kau benar nyonya saya memang bukan dari keluarga bangsawan tapi saya tulus mencintai yang mulia kaisar, saya mencintainya bukan karena beliau adalah raja, bukan kerena kedudukan tapi saya mencintai beliau kerena beliau tahu ada yang siap menerima apa adanya walaupun seandainya dia tidak menjadi raja lagi ada yang bisa menemaninya" ucap Nalila.


Mendengar ucapan dari istrinya Kanoko tersenyum


"Apakah putri mu bisa melakukan itu, hm bahkan mungkin saat ini dia sedang bersolek"


Harana mencengkram gaunnya


"oh aku lupa, kau itu hanya ibu dari seorang permaisuri pajangan kan jadi kau tidak berhak berlaku tidak sopan pada selirku" Harana sangat terkejut mendengar ucapan Kanoko


Kanoko pun menatap Nalila dengan lembut


"selir ku, kembali lah ke kamar mu dan istirahatlah" ucapnya agak keras


melihat itu Harana pun terkejut dia tidak pernah melihat kaisar berlaku selembut itu terhadap siapapun, namun lihat didepannya dia berlaku lembut pada seorang wanita yang menurutnya rendahan itu.

__ADS_1


Ini tidak bisa dibiarkan!!


Sepeninggalan nalila Kanoko menatap tajam ibu mertuanya itu


"kenapa, kau terkejut, dengar ini nyonya Tachimi, aku bisa melakukan apa saja dan mungkin aku bisa menendang suami mu dari sini, jadi suruh suamimu itu agar berhati-hati padaku" ucap Kanoko


Kanoko memang sengaja berkata demikian karena ia ingin melihat reaksi dari istri Mishugi itu dan benar saja ada kemarahan yang tersimpan dimata nya.


'Apa jangan jangan, yang mulia tahu rencana ku dan suamiku' inner Harana


tanpa ia sadari jika Kanoko mendengar apa yang difikirkan oleh perempuan tua itu.


'Kau tidak tahu siapa aku yang sesungguhnya, kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya''


"nyonya Harana, lebih baik anda pergi dari kediaman selirku"


Mau tidak mau Harana pun pergi dengan keadaan kesal


Saat itu ia melihat para prajurit menjaga kediaman selir Tsuyu dengan sangat ketat


"baru saja jadi selir diperlakukan bak ratu saja heh, memang nya apa yang dilakukan selir rendahan itu" gumamnya.


Saat itu Lenting yang mendengar jika permaisuri Nalila dihina ia pun menghampiri harana


"eh nyonya, sebaiknya kau pelan kan suara mu"


Mendengar itu Harana menatap tajam kearah Lenting


"berani sekali kau!!, siapa kau haah!!"


"heh, jangan mentang-mentang putrimu seorang permaisuri kau bisa seenaknya nyonya harana, dengar kan ini baik baik" jedanya


"Putrimu bahkan tidak lebih baik dari selir Tsuyu, mungkin selir Tsuyu lah yang cocok sebagai ratu negeri kegelapan ini, bukan putrimu yang ambisius sama seperti mu"


Setelah mengatakan itu Lenting pun pergi dengan senyum puas sedangkan Harana semakin kesal


ia pun berniat untuk mendatangi putrinya namun


"Anda mau kemana" tiba tiba seseorang menghentikan langkahnya


"siapa kau berani menghentikan langkah ku"


prajurit itu menjawab "maafkan aku nyonya tapi yang mulia, melarang nyonya untuk datang kekediamanya"


"itu tidak mungkin, aku adalah ibunya dia tidak mungkin menolak kedatangan ku"


Saat itu Minami (palsu) pun keluar


"ada apa ribut ribut"


para penjaga yang melihat permaisuri itu keluar langsung menunduk


"yang mulia"


Minami (palsu) melihat kearah perempuan itu


'Pasti dia ibu dari gadis ini, mau apa dia datang kemari, hm pasti ada maksud tertentu'


"yang mulia permaisuri, tolong lah ibumu ini" ucapnya


Minami (palsu) pun menatap para prajurit dengan tajam


"kalian tahu, dia itu ibuku, beraninya kalian berlaku tidak sopan kepadanya"


Setelah mengatakan itu Minami menghampiri sang ibu


"ibu, kau. tidak apa apakan"


Harana menggeleng pelan, Minami membawa sang ibu masuk kedalam kediamannya


"sayang bagaimana perlakuan yang mulia kepadamu"


Minami menunduk "seperti yang kau lihat, beliau masih saja dingin kepada ku"


Harana melihat kediaman putrinya yang terlihat mewah namun sangat dingin karena putrinya tidak bahagia .



namun bukan itu tujuannya dia menikah kan putrinya karena tujuan utamanya adalah membalas dendam

__ADS_1


bersambung


__ADS_2