
Nalila saat ini sedang berada di kamar menunggu sang kaisar, wajahnya sedikit merona karena teringat saat ia kedua kalinya menyuapi sang kaisar.
Pertama saat Kanoko terluka parah dan kedua tadi saat berada dimeja makan
flashback
Nalila dan Kanoko masih ada di meja makan dan di sana terdapat piring yang terisi makanan dan belum tersentuh sama sekali.
"Yang mulia apa syaratnya" tanya Nalila lagi dan saat itu para dayang pun juga penasaran .
'Yang mulia, pasti ingin menggoda yang mulia permaisuri, kan _ pelayan
'Diam lah kau lancang sekali kau berbicara dengan ku lewat telepati seperti ini _ kaisar
Pelayan itu menunduk takut sedangkan nalila
"yang mulia, ada apa"sambil menatap ke arah para dayang
"hn, kau tadi ingin tahu apa syaratnya kan"
Nalila kembali mengangguk
Sebelum Kanoko memberitahukan syaratnya sang kaisar meminta seluruh dayang yang ada
Para dayang yang paham pun pergi dari sana
sedangkan Nalila yang melihat para dayang pergi bingung
"yang mulia kenapa anda menyuruh mereka pergi"
Kanoko menyodorkan piring kearah istrinya
"suapin aku"
Mendengar itu Nalila terkejut
"yang mulia, jadi ini syaratnya" dan Kanoko tersenyum ternyata istrinya itu sangat peka
"nah kamu paham, ayo sayang suapi aku" perintahnya lagi.
"yang mulia, apa kau tidak malu" sambil menatap sekitar
Kanoko "kenapa harus malu sayang di sini tidak ada siapa pun"
Nalila menunduk sedangkan kaisar kanoko
"jadi kau tidak perlu malu, disini tidak ada siapa pun jadi suapin aku yaa"
Nalila pun mulai menyuapi suaminya dan Kanoko sangat bahagia dilayani oleh istri yang begitu ia cintai.
"sayang aku akan terus memperhatikan dirimu, aku tidak ingin kau selalu sendirian" ucap Kanoko
Nalila tersenyum lalu berkata "yang mulia anda selalu memperhatikan saya bahkan saat kita datang kemari andalah yang melindungi saya, jadi anda tidak perlu merasa jika anda tidak memperhatikan saya, saya malah akan sedih jika anda tidak memperhatikan rakyat" ucap Nalila
Mendengar itu Kanoko sangat bersyukur memiliki istri sekaligus permaisuri yang begitu pengertian.
__ADS_1
"sayang terima kasih kau telah memahami pekerjaan suami mu ini, haah" sambil menghela nafas lega
nalila tersenyum
Saat itu Nalila sudah selesai menyuapi Kanoko
"yang mulia anda mau bawa saya kemana"
Saat ini Kanoko memang sedang santai karena tugasnya di gantikan oleh sang kakak Daiko tidak lama mereka pun sampai
saat itu ia melihat burung merpati begitu indah dan banyak lagi macam macam burung lainnya
Nalila sangat takjub melihat pemandangan yang didepan matanya
"yang mulia indah sekali, aku tidak menyangka di istana ada kebun binatang"
Kanoko yang melihat istrinya bahagia ia pun sangat senang
'Aku ingin melihat mu tersenyum selamanya sayang'
Kanoko teru menatap sang istri dengan lembut sampai seorang datang
"maaf mengganggu yang mulia" ucap orang itu
"Ada apa"
"yang mulia perdana menteri Mishugi ingin bertemu dengan anda" ucap orang itu
Mendengar nama itu raut wajah sang kaisar pun berubah dingin sedangkan Nalila yang merasa ada yang aneh dengan suaminya pun datang menghampiri
Kanoko menunduk menatap Nalila "sayang kau harus percaya padaku"
Mendengar itu Nalila tersenyum sambil membelai pipi sang suami ia pun berkata
"Aku percaya padamu suamiku, apa pun yang kau lakukan pasti ada alasannya"
Mendengar itu Kanoko memeluk Nalila
"terimakasih sayang, aku janji akan menyelesaikan ini semuanya secepat mungkin dan membebaskan mu dari bayang bayang wanita ular itu"
Mendengar kata yang asing membuat Nalila penasaran "yang mulia mengapa anda mengatakan itu, bukankah tidak baik, dia adalah seorang wanita, pasti ada alasan dia berbuat seperti itu"
Kanoko memutar bola matanya malas
"kau ingin membelanya"
"b bukan yang mulia, sa ya tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana saya mau membelanya dan lagi pula kata Chita dia gadis yang munafik" sambil menunduk
Kanoko pun tetap memeluk Nalila
"kau benar, dia gadis yang munafik, tapi pasti dia melakukan ini atas dasar ada yang menyuruhnya dan aku yakin"
Nalila merasa dia harus mencari tahu tentang gadis bernama Minami
Sedangkan orang yang membawa pesan melihat adegan itu tanpa sadar wajahnya merona
__ADS_1
Kanoko yang merasa ada yang melihatnya bermesraan pun melirik kearah orang itu
"apa yang kau lakukan di sini, cepat pergi"
Mendengar itu sang pembawa pesan pun menunduk
"maaf yang mulia" ucapnya ketakutan namun saat ia hendak pergi
"tunggu" langkah orang itu pun terhenti
"katakan pada Mishugi sebentar lagi aku akan menemuinya"
Orang itu pun menjawab "baik yang mulia"
setelah itu sang pembawa pesan pun pergi
"Kita kembali kedalam sayang, kau pasti lelah" Kanoko pun menggenggam tangan Nalila dengan lembut saat itu para dayang langsung membuka jalan untuk mereka
"yang mulia" ucap mereka serempak
Sesampainya dikediaman persik Nalila pun duduk sedangkan Kanoko
"jaga permaisuri ku dan ingat siapa pun jangan diperbolehkan masuk ketempat ini, mengerti"
"mengerti yang mulia "
Nalila tahu jika Kanoko sangat mengkhawatirkannya pun menghampiri suaminya
"suamiku, mengapa anda melarang seseorang masuk kekediaman kita, bukankah disini aman"
"sayang istana bukanlah tempat yang aman" ucap Kanoko tiba tiba
Mendengar itu Nalila terkejut
"apa maksud mu suamiku"
"sayang, yang kukatakan ini memang benar istana memiliki telinga dan aku yakin saat ini ada yang sedang memata matai kita"
Nalila menggenggam tangan Kanoko
"yang mulia kau jangan takut, aku akan ada bersama mu, kita akan menghadapi ini bersama sama yang mulia"
Mendengar itu Kanoko memeluk Nalila dengan erat
"sayang, terima kasih terima kasih kau mau berjuang bersama ku"
'aku akan memulainya, aku akan menyelidiki siapa yang yang menjadi pengkhianat dan siapa orang yang ingin menggulingkan ayahanda waktu itu' inner Kanoko
sedangkan Mishugi saat ini dia merasa ada yang aneh dengan putrinya
"siapa kau sebenarnya, kau bukan permaisuri Minami"
Orang itu pun terkejut
bersambung
__ADS_1
"