
Sepeninggalan kedua gadis itu minami pun membanting barang yang ada disampingnya
"DASAR SIALAAANNN KALIAANN!!!" teriaknya
"akan ku buat kalian semua membayar ini"
sedangkan ditempat lain kini lenting sedang duduk ditemani ibu mertuanya
"apa yang mulia permaisuri akan datang"
Lenting tersenyum "ibu tenang saja beliau akan datang"
Tidak lama sebuah suara "yang mulia Kaisar Kanoko dan permaisuri telah tiba"
Semuanya yang ada disana pun langsung berdiri "yang mulia" ucap mereka serempak
Kanoko dan nalila mengangguk
"apa acara nya sudah di mulai"
Lenting menggeleng dan menjawab "belum yang mulia"
Saat itu kuroiki yang melihat kedatangan sang kaisar langsung menghampiri dan memberi hormat
"yamg mulia, yang mulia permaisuri terima kasih anda sudah mau hadir diacara kecil kami" ucap nya sopan
"tentu kami harus datang Lenting secara pribadi sudah mengundang" ucap Nalila
Tidak lama seorang yang suci datang dan orang itu tersenyum ke arah Nalila
"anda" ucapan orang suci terhenti
"apakah anda putri bidadari, putri Adhura"
Mendengar pertanyaan itu Nalila bingung sedangkan Kanoko terkejut
"kau, kau tahu dia siapa" tanya sang kaisar tiba tiba tiba
Orang suci itu mengangguk kaku
"s sa ya bi bi sa melihat w wu jud asli beliau yang mulia"
Nalila "wujud ku, maksud nona apa"
orang suci "anda adalah yang mulia ratu bidadari" ucapnya pelan
Sedangkan Lenting yang dari jauh penasaran dengan apa yang mereka bicarakan , namun saat itu orang suci itu langsung menghampiri Lenting
"anak yang anda didalam kandungan anda sangat sehat" ucapnya sambil mengelus perut buncit Lenting
Lenting yang mendengar itu sangat senang
"benarkah nyonya"
orang suci itu pun beralih ke permaisuri Nalila atau tsuyu
"yang mulia anda adalah ibu negeri ini kekuatan anda mungkin lebih besar dari hamba"
mendengar itu Nalila bingung dan menatap sang kaisar "apa maksud anda dengan istri ku memiliki kekuatan besar"
"yang mulia sudah saya katakan istri anda adalah reinkarnasi yang mulia putri Adhura"
Mendengar itu Lenting dan yang ada disana langsung berlutut "hormat kami pada yang mulia ratu Adhura"
Nalila yang bingung menatap kearah sang suami, Kanoko yang mengerti
__ADS_1
"sayang apa yang dikatakan orang ini benar, apa kau lupa dengan yang kukatakan kau adalah Adhura, bukan reinkarnasi karena ini adalah diri mu yang sebenarnya"
Saat itu Nalila menghampiri Lenting
"anakmu sangat sehat"
Saat itu diam diam seseorang menatap kearah nalila "dia yaa permaisuri saat ini, lalu orang yang ada di istana salju siapa"
Saat ia hendak pergi tiba tiba "siapa itu"
Mendengar suara itu ia pun bergegas pergi namun
greepp
"siapa kau" seseorang mencengkeram kerah bajunya
"a am pun jangan bunuh saya tuan" ucapnya ketakutan
"heh, kenapa kau takut" tanya orang itu
"apa kau benar benar mata mata haah"
Orang itu menunduk "kalau kau diam berarti kau memang mata mata"
Orang itu pun mulai memberanikan menatap penjaga yang memergokinya
"saya memang mata mata"
Mendengar itu Kuroiki pun hendak menamparnya "lancang sekali kau datang ke kediaman ku haah"
Kanoko yang mendengar adanya keributan pun datang "ada apa ini" sambil menatap ke arah orang berjubah hitam yang masih menunduk takut
Semua orang yang ada disana langsung memberi hormat
"kuro ada apa kenapa di acara sakral seperti ini harus ada keributan, ingat ini adalah hari untuk anak mu"
"sayang kau sakit"
mendengar itu Nalila menoleh dan tersenyum
"yang mulia saya " ucapannya langsung terhenti karena tubuhnya hampir limbung dan untung saja yang tubuhnya langsung ditangkap oleh sang kaisar
"Nalila!!" dan saat itu Kanoko langsung membopongnya dan membawa pergi
dan saat semua orang pun bingung dan panik
"tidak apa Nalila hanya kelelahan, Kuroiki kami harus pulang"
Kuroiki dan lenting mengangguk
"suamiku bagaimana dengan yang mulia, apa jangan jangan orang suci itu benar"
"istri ku kau tidak boleh menduga terlebih dahulu aku yakin yang mulia permaisuri mungkin hanya kurang sehat"
Sedangkan di istana kini Kanoko membaringkan Nalila diranjang .
"yang mulia, saya baik baik saja" namun Kanoko malah
"tabib!! tabib!!" setengah berteriak
"yang mulia anda tidak perlu khawatir saya baik baik saja"
tidak lama seorang tabib pun datang
tolong periksa istri ku"
__ADS_1
Tabib itu pun langsung memeriksa denyut nadi menggunakan kekuatan
namun ia sangat terkejut
"maaf yang mulia kalau saya lancang"
"ada apa"
tabib itu dengan takut takut "yang mulia permaisuri adalah manusia, apa itu benar"
Nalila mengangguk "saya memang manusia, dan sebenarnya aku kenapa tabib"
Tabib itu menatap kearah Kanoko "yang mulia sebenarnya" ucapannya terputus
"sebenarnya kenapa, tabib jangan bertele-tele, cepat katakan"
sedangkan Nalila juga sangat khawatir
"tabib katakan apa yang terjadi padaku, aku cuma kelelahan saja kan"
Tabib itu menggeleng, dan tentu saja membuat kaisar kanoko pun semakin panik
"tabib katakan dengan jelas jangan membuat istri ku semakin takut"
Tidak lama tabib itu tersenyum "selamat yang mulia"
mendengar itu Kanoko dan Nalila bingung
"selamat, selamat apa tuan tabib"
Tabib itu kembali menjawab "selamat yang mulia, permaisuri anda telah mengandung"
Mendengar itu Kanoko sangat terkejut "benarkah yang kau katakan tabib" tanyanya memastikan
"iya yang mulia anda memang sedang mengandung"
saat itu Kanoko menghampiri Nalila dan memeluknya, ia sangat bahagia
"sayang kau kau mengandung"
"sebentar lagi aku akan menjadi ayah"
diangguki oleh Nalila "benar yang mulia"
Kanoko "akhirnya keinginan kita terkabulkan"
Kanoko sangat bahagia mendengar permaisuri kesayangannya mengandung anaknya
"ini harus dirayakan" saat hendak berdiri, namun sebuah tangan menghentikannya
"yang mulia" panggilnya Kanoko pun menoleh
"ada apa sayang"
"yang mulia bisakah anda tidak mengatakan ini pada semuanya"
"kenapa sayang, apa yang kau takutkan"
Nalila tersenyum "tidak ada yang mulia hanya saja aku takut kalau" ucapan Nalila terhenti
Kanoko yang paham "kau tenang saja, tapi jika itu keinginan mu baiklah aku akan menuruti mu"
mendengar itu Nalila tersenyum "terima kasih yang mulia"
sambil memeluk pria tampan itu
__ADS_1
'Aku melakukan ini karena aku merasa ada yang memata matai kita suamiku dan mungkin saja apa yang kau katakan waktu itu benar tembok istana memiliki telinga' inner nalila
bersambung