
Tiga tahun berlalu...
Semuanya berubah dengan cepat. Semua menjadi kembali pada jalannya. “Yang jangan dikerjain semuanya sendiri,” ucap Jeff. Pria itu mengambil alih belanjaan yang baru saja mereka beli.
“Gak apa-apa. Lagian ini bukan kerjaan berat. Aku masih bisa,” jawab Bila sambil kembali mengambil barang-barang itu.
“Gak boleh. Kasian dede bayinya ikut cape.” Jeff mengelus perut Bila yang terlihat masih rata. Setelah beberapa minggu ke belakang, Bila sering mengeluh mual dan lelah, akhirnya mereka memutuskan untuk mengeceknya ke dokter.
Betapa bahagia sekaligus terkejutnya mereka ketika dokter mengatakan jika Bila sedang mengandung dan usia kandungannya sudah manginjak dua bulan.
“Kamu beresin ini aja.” Jeff memberikan kantong yang berisi sayuran pada Bila, sementara kantong yang berisi barang-barang berat dia yang urus.
Akhirnya Bila menyerah, Jeff memang tak akan membiarkannya kelelahan dan itulah alasan kenapa Bila tak bisa melawan.
Bila memasukan sayuran itu ke dalam lemari pendingin dan menatanya. “Azka gak bangun?” tanya Bila.
Sepulang belanja tadi, putranya itu tidur dalam perjalanan dan sepertinya belum bangun hingga sekarang. “Belum, dia nyeyak banget,” jawab Jeff yang kemudian diangguki oleh Bila.
“Bunda kapan ke sini? Katanya mau ke sini?” tanya Jeff pada Bila. “Hari ini tapi gak tau jam berapa, dia belum bilang lagi.”
“Apa perlu aku jemput aja? Soalnya Ayah masih di kantor kan pasti?” Jeff kembali bertanya. “Kayanya gak perlu, kemarin sih Bunda bilang mau sama Mang Parman.”
“Tapi gak apa-apa loh kalau aku yang jemput. Lagian aku juga udah lama gak ke rumah kamu,” ucap Jeff.
“Kalau kamu mau jemput ya udah, tapi coba hubungin dulu Bundanya, dia mau ke sini jam berapa,” jawab Bila.
“Oke, nanti biar aku yang telpon Bunda.” Bila mengangguk. Dia tak menyangka jika Jeff akan sedekat itu dengan Bundanya.
“Yang,” panggil Bila dengan ragu. “Hhmm,” jawab Jeff. Dia masih fokus membereskan barang-barang dapur yang dia beli tadi.
“Mama sama Papa kamu baik-baik aja, kan?” Sebenarnya Bila selalu ragu untuk menanyakan ini, tapi jika dia tidak bertanya sepertinya juga salah.
Jeff mematung saat dia mendengar pertanyaan Bila. “Ya kaya biasa, mereka selalu gitu tapi gak mau lepasin satu sama lain,” jawab Jeff.
__ADS_1
Sebenarnya dia tak keberatan dengan pertanyaan Bila barusan hanya saja dia merasa terkejut karena itu begitu tiba-tiba.
“Kamu gak ada niat buat kunjungin mereka?” Bila kembali bertanya. Namun Jeff menggeleng lemah.
“Kamu juga tau kalau dari dulu aku gak betah ada di rumah itu sebabnya aku beli apartemen. Jadi, kalau sekarang kamu nanya gitu, jawaban aku adalah enggak. Aku sama sekali gak ada niat buat nemuin mereka. Bukan benci, hanya saja aku gak mau liat pertengkaran mereka. Cukup aku kabarin mereka lewat pesan aja.”
Bila mengangguk, lagipula dia tak bisa memaksa suaminya untuk pulang. Intensitas suaminya pulang ke rumah bisa dihitung dengan jari dan itupun jika ada keperluan yang mendesak.
Lain halnya dengan dia berkunjung ke rumah orang tua Bila, dia sangat sering mengajak Bila ke sana bahkan untuk menginap.
“Ya udah, gak apa-apa. Lagian aku cuma nanya. Takutnya kan Mama sama Papa iri gitu karena kamu lebih sering pergi ke rumah Bunda daripada rumah mereka.”
“Mungkin mereka udah terbiasa tanpa kehadiran aku di sana dan itu membuat mereka lebih leluasa buat bertengkar,” jawab Jeff.
“Gak boleh gitu, mereka juga orang tua kamu.” Bila memperingatkan suaminya.
Tak terasa, mereka telah selesai dengan pekerjaannya. “Istirahat di depan yuk!” ajak Jeff sambil merangkul pinggang istrinya.
Dia mengajak Bila untuk bersantai di ruang keluarga. Setelah tiba di sana Jeff mengeluarkan ponselnya, dia baru ingat jika akan menelpon Bundanya.
“Iya, kenapa Jeff?” tanya Bunda Erina di seberang sana. “Bunda katanya mau ke sini? Mau jem berapa?” tanya Jeff.
Cukup lama Bunda Erina terdiam, mungkin memikirkan waktu yang tepat untuk dia pergi ke rumah anaknya itu.
“Kayanya nanti sore aja deh. Kenapa?” tanya Bunda Erina. “Enggak Bun. Nanti sore Jeff aja yang jemput ya, kalau mau berangkat Bunda telpon Jeff dulu,” ucap pria itu.
“Gak apa-apa. Bunda bisa berangkat sama Mang Parman kok.”
“Enggak Bun, Jeff emang mau jemput Bunda. Sekalian juga rindu rumah di sana,” kekehnya.
“Oh, ya udah. Nanti Bunda kabarin lagi kalau mau berangkat,” jawab Bunda Erina. “Iya Bunda. Kalau gitu Jeff tutup telponnya ya,” ucap Jeff.
“Iya.” Setelah mengakhiri panggilannya dan menyimpan kembali ponselnya.
__ADS_1
“Kapan katanya?” Bila juga ikut penasaran dengan jawaban sang Bunda. “Katanya nanti sorean. Bunda bilang nanti dia telpon kalau mau berangkat.”
Bila mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Jeff.
****
“Rav!! Kamu tuh kebiasaan banget sih kalau abis main gak diberesin lagi!” teriak Melinda.
Dia sudah sangat bosan melihat kekacauan yang disebabkan oleh suaminya itu. Ya, satu tahun lalu tepat setelah mereka menyelesaikan sekolanya di SMA, Raveno mengajak Melinda menikah.
Pernikahan mereka tak dihadiri banyak orang, hanya orang-orang terdekat mereka saja. Awalnya Melinda mengatakan jika dia ingin menikah nanti setelah selesai kuliah.
Tapi sepertinya Raveno sudah tidak bisa menahannya lagi. Itulah kenapa mereka akhirnya memutuskan untuk menikah dan masih melanjutkan studi mereka.
“Iya maaf, Yang. Tadi aku buru-buru mau ke toilet jadi lupa.” Entah alasan yang keberapa yang pria itu sampaikan kepada istrinya.
Melinda berakhir harus membereskan kekacauan itu. Membereskan stik PS yang barusan digunakan suaminya.
Inilah kesibukan Raveno jika mereka sedang libur. Bermain game di rumah dengan berbagai macam cemilan yang berserakan di ruang tengah.
“Loh udah diberesin?” tanya Raveno tanpa ada rasa bersalah. Melinda memandang pria itu dengan kesal.
“Udah. Emang siapa lagi yang mau beresin ini selain aku?” sindir Melinda. “Tadinya abis dari toilet mau aku yang beresin,” jawab Raveno.
“Alasan kamu itu udah usang. Aku udah gak percaya lagi sama alasan kamu itu,” ucap Melinda. Dia menyapu sisa-sisa makanan yang ada di lantai.
“Ya maaf, namanya juga kebelet. Masa harus aku tahan sih.” Raveno terus saja mencari pembelaan.
“Iya iya udah. Ini juga udah beres,” jawab Melinda.
Raveno tersenyum tanpa dosa dan berjalan mendekati Melinda yang saat ini sudah terduduk di sofa.
Gadis itu menghela nafas lelah setelah membereskan kekacauan yang dilakukan suaminya.
__ADS_1
“Yang, ini malam jum’at kan ya?” tanya Raveno seolah memberikan kode pada Melinda. Kalian pasti sudah tahu apa yang diinginkan pria itu.
“Terus?”