
Jantung Jeff berdetak cepat saat kakinya sudah menginjak halaman rumah Bila.
Namun meski begitu dia harus tetap datang ke sana karena mereka sudah membuat janji.
Kali ini Jeff tidak datang sendiri. Dia ditemani oleh Kakeknya. Jeff juga tidak hanya membawa badannya. Dia membawa sebuah cincin dan bunga yang nanti akan diberikan pada Bila.
"Kamu siap?" tanya Kakeknya. Jeff menghela nafas dalam. Siap tidak siap dia harus siap.
Jeff mengangguk. Pintu rumah terbuka menampilkan keluarga Bila yang sudah duduk di ruang tamu.
Tak berbera dengan Jeff, jantung Bila juga berdetak dengan cepat karena gugup.
"Silahkan masuk," ucap Ayah Bila saat dia sudah melihat Jeff dan kakeknya ada di sana
Jeff masuk bersama dengan kakeknya. Dia duduk setelah dipersilahkan.
"Apa kabar, Harla?" tanya Tuan Adhinata setelah duduk dengan nyaman.
"Baik, Tuan. Lama tidak bertemu," jawab Ayah Bila.
"Kalian kenal Kakek?" tanya Bila terheran.
"Dia pernah menjadi atasan Ayah," jawab Ayahnya.
"Tanpa banyak kata lagi, kita langsung aja ke tujuan dari kedatangan kami ke sini ya," ujar Tuan Adhinata.
"Yah, Bun, Jeff tau Jeff banyak salah sama Bila atau kalian. Tapi setelah ini Jeff janji gak akan nyakitin Bila lagi. Datangnya Jeff ke sini mau melamar Bila."
Jeff mengutarakan isi hatinya.
Setelah berbagai macam hal yang mereka lewati akhirnya keluarga Bila menerima lamaran Jeff.
"Makasih Yah, Bunda," ucap Jeff.
"Tapi sebelum itu ada yang mau Jeff omongin." Jeff menengok ke arah kakeknya, meminta bantuan jika ada hal yang tak diinginkan.
Kakeknya mengangguk meyakinkan Jeff untuk melanjutkan ucapannya.
"Bila udah bilang?" tanya Jeff pada keluarga Bila.
"Iya semalam Bila udah bilang." Raut wajah Jeff berubah sendu saat Tuan Harla menjawab demikian.
"Maaf karena gak bilang dari awal kalau keluarga Jeff bermasalah. Kalau Ayah sama Bunda mau batalin lamaran ini, Jeff terima. Jeff gak bisa maksa kalau kalian keberatan dengan itu," jelas Jeff.
Air mata mulai berlinang di pelupuk mata Jeff. Dia pasrah jika keluarga Bila ingin membatalkan semuanya.
"Kenapa kita harus permasalahin itu? Bunda sama Ayah gak keberatan. Mungkin mereka seperti itu ada alasannya." Bunda Erina mencoba memberikan harapan pada Jeff.
Jeff mendongakkan kepalanya. Semua beban yang ada di dalam hatinya seakan terangkat begitu saja.
__ADS_1
"Serius Ayah, Bunda?" Jeff meminta kejelasan pada Ayah dan Bunda Bila.
Kedua orang itu mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Jeff akhirnya mengeluarkan air mata terharunya.
"Boleh di pasang sekarang, Bun?" Jeff bertanya sambil memperlihatkan cincin yang dia bawa.
"Boleh," jawab Bunda Erina. Akhirnya Jeff memasang cincin di jari manis Bila.
"Rencana akan menikah kapan?" tanya Ayah Bila.
"Kalau minggu depan gak keberatan?" Jeff mengusulkan waktu.
"Lebih cepat lebih bagus," jawab Tuan Harla.
Mereka telah menyepakati tanggal pernikahan mereka. Setelah selesai dengan pembahasan itu, akhirnya mereka berbicara hal lain.
Berbeda dengan Tuan Adhinata dan Tuan Harla serta istrinya, Bila dan Jeff memilih pergi ke ruang keluarga untuk menghabiskan waktu berdua.
"Jadi, kamu mau cerita sekarang tentang keluarga kamu?" tanya Bila.
"Kalau aku gak cerita sekarang kamu marah?" Jika jawaban Bila 'Ya' maka dia akan menceritakan semuanya sekarang.
Namun jauh dari dugaan Jeff, Bila menggeleng. "Kalau kamu belum mau cerita, aku gak bisa maksa selain nunggu kamu buat siap cerita," jawab gadis itu.
Bila mengusap punggung Jeff memberikan ketenangan pada pria itu sebelum kemudian dia mengangguk.
"Iya," jawabnya.
****
Di sekolah, Jeff sangat berseri ketika dia mengingat kejadian kemarin. Di mana dia melamar Bila dan gadis itu menerimanya.
Bahagia? Tentu saja, siapa yang tak bahagia dengan hal itu?
"Bapak dari tadi senyam-senyum mulu, kenapa sih?" Stevani bertanya saat dia disuruh mengerjakan soal Bahasa Inggris yang ada di papan tulis.
Jeff terlonjak dan menatap Stevani. Sementara pandangan siswa lain di kelas itu tertuju pada Jeff seolah meminta jawaban dari pertanyaan Stevani beberapa saat lalu.
"Jangan pada liatin saya! Kerjakan tugas kalian. Kamu juga, fokus sama soal di depan." Jeff berusaha mengalihkan perhatian semua orang pada hal lain.
Semua siswa dan siswi akhirnya terpaksa kembali pada hal yang sedang mereka lakukan tak terkecuali dengan Stevani.
Semua kegiatan belajar telah usai dilaksanakan. "Oke anak-anak. Untuk hari ini sampai di sini saja. Minggu depan jangan lupa bawa buku yang saya minta," ucap Jeff mengakhiri pelajaran.
"Baik, Pak." Semua menjawab dengan kompak.
Jeff meninggalkan ruangan dengan buku di tangannya. Stevani dan Keisya pergi ke kantin karena perut mereka sudah sangat keroncongan.
__ADS_1
Tak sengaja mereka berdua berpapasan dengan Jeff yang memang tadi tak langsung kembali ke ruangannya. Dia baru saja dari toilet.
"Pak," sapa Stevani saat menghadap Jeff.
"Oh iya. Kalian berdua ikut saya dulu ke ruangan saya. Ada yang mau saya bicarakan," ucap Jeff.
"Ada apa Pak?" tanya Keisya penasaran.
"Ikut saya dulu saja," ujarnya. Keisya dan Stevani mengekor dari belakang.
Perutnya yang awalnya lapar kini sudah tak terasa lagi karena penasaran dengan Jeff.
Mereka tiba di ruangan Jeff. Sekian lama Jeff mengajar di sana, Stevani dan Keisya baru kali ini mereka masuk ke ruangan Jeff.
"Duduk," ucap Jeff. Keisya dan Stevani duduk dengan mata yang tak henti melihat kesana kemari.
"Ini." Jeff memberikan selembar undangan pada Keisya dan Stevani.
Mereka berdua merasa kebingungan karena Jeff tiba-tiba memberikan undangan.
"Datang minggu depan. Saya dan Bila akan menikah," ucap Jeff.
"Apa?!!" teriaknya. Matanya terbelalak ketika mendengar berita itu.
"Cuma itu aja yang mau apa saya sampaikan. Kalau kalian mau ke kantin, boleh."
Belum selesai dengan keterkejutannya, kedua orang itu berdiri dan keluar dari ruangan Jeff.
"Yakin mereka berdua mau nikah?" tanya Stevani.
Keisya yang mendapatkan pertanyaan itu dari Stevani hanya menggeleng karena dia juga tak menyangka jika Jeff dan Bila akan menikah.
"Nanti kita tanya aja langsung ke orangnya. Pulang sekolah kita bisa ke rumah Bila dulu," ucap Stevani.
Keisya mengangguk. Mereka menyimpan undangan itu dalam saku mereka sebelum kemudian mereka pergi ke kantin.
"Kantin jajan apa ya? Saking terkejutnya gue sampai lupa kalau gue tadi lapar."
Dua orang itu datang ke salah satu warung yang ada di sana untuk memesan makanan.
"Bu siomay satu ya," ucap Keisya. "Dua Bu." Keisya menambahkan.
Setelah memesan mereka mencari tempat duduk yang kosong yang tak jauh dari sana.
"Di sana kosong," seru Stevani.
Mereka duduk di sana dengan tenang sambil menunggu pesanan mereka datang.
Stevani kembali mengeluarkan undangan yang diberikan Jeff dengan segala pertanyaan yang ada dalam pikiran mereka.
__ADS_1