Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
59. Raveno Tahu


__ADS_3

Dia pergi dari sana setelah dia melepaskan earphone yang menempel di telinganya.


Raveno, sedari tadi dia berjalan menuju parkiran, tak jarang siswi-siswi memperhatikannya. Tentu saja, siapa yang ingin melewatkan pria tampan seperti dia.


Dia melajukan motornya keluar dari sekolah. “Heh mau ke mana kamu?!!!” Satpam sekolah berteriak saat dia melihat Raveno membuka gerbang dan melajukan motornya jauh.


Tak ada harapan bagi satpam itu untuk menghentikan Raveno karena memang Raveno sudah pergi jauh.


“Ada apa Pak?” tanya Jeff. Ya baru saja Jeff selesai dari kelas, dia melihat satpam berlari dan kemudian berteriak. 


Karena merasa penasaran akhirnya Jeff bertanya. “Itu Pak. Ada siswa yang kabur. Tapi saya gak bisa kejar, udah jauh banget.”


Jeff berfikir, siswa mana kiranya yang kabur ketika guru disiplin mereka begitu killer. “Ciri-cirinya gimana Pak? Biar nanti saya bicarakan sapa Pak Iwan.” Ya, Pak Iwan adalah guru kedisiplinan di sekolah itu.


“Kalau gak salah dia pakai kalung silver. Motornya dominan putih. Ah, yang kemarin ikut olimpiade Bahasa Inggris, Pak!” seru Pak satpam saat dia berhasil mengenali orang itu.


“Oh oke saya tahu. Makasih Pak, nanti saya bicara sama Pak Iwan.” Setelah berkata demikian, Jeff kembali keruangannya.


“Mau apa dia keluar di jam pelajaran gini?” tanya Jeff setelah dia sampai di ruangannya. Ya, dia tahu siswa yang dikatakan satpam itu adalah Raveno.


Dulu dia biasa saja dengan Raveno. Namun, setelah kejadian Bila pergi dari hidupnya dan Raveno yang berhasil membawa Bila kembali ke sini, dia menjadi agak hati-hati dengan pria itu.


Sebagai sesama pria dia tahu jika Raveno menyukai istirnya. Tapi, dia juga tak bisa melarang karena itu haknya, selama Raveno tidak mengganggu kehidupan pernikahannya dia akan baik-baik saja.


**** 


Sementara itu Raveno telah tiba di depan rumah Bila. Dia berteriak dari depan gerbang karena gerbang rumah Bila tertutup.


Tak lama, seorang satpam datang dan membukakakan gerbang. “Cari siapa ya, Den?” Satpam itu bertanya dengan agak aneh karena Raveno masih memakai seragam sekolah.


“Saya cari Bila, Pak. Dia ada kan?” tanya Raveno pada satpam itu.

__ADS_1


“Lah, dia udah gak tinggal di sini, Den.” Raveno menghela nafasnya. Sepertinya apa yang dikatakan teman Bila adalah sebuah kebenaran dan gadis itu sudah tinggal di rumah Jeff.


“Kalau Om sama Tantenya ada?” Raveno tak menyerah. Dia harus tahu kepastiannya sekarang juga.


Raveno melihat seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. “Ada apa ini?” Wanita itu adalah Bi Inah. Dia keluar dari rumah ketika mendengar suara ribut dari luar.


“Ini Bi, kayanya teman Non Bila.” Bi Inah menelisik wajah Raveno dengan teliti karena dia merasa pernah meihat Raveno.


“Oh Den, yang dulu ke sini sebelum Non Bila pulang ya!” seru Bi Inah saat dia bisa mengenali Raveno.


Raveno mengangguk dengan senyum yang tergambar di wajahnya. “Bila ada Bi?” Sekali lagi Raveno bertanya pada Bi Inah.


“Loh, Aden gak tau?” tanya Bi Inah. Dia kira Raveno teman baik Bila hingga dia harusnya tahu jika Bila sudah tak tinggal di rumah itu.


“Kenapa Bi?” lanjut Raveno. “Non Bila udah nikah beberapa hari lalu. Jadi sekarang dia gak tinggal di sini.” Usai sudah segala harapan dan rasa penasaran Raveno.


Pada kenyataannya Bila memang sudah menikah dan di sinilah akhir perjuangannya untuk mendapatkan Bila.


“Di apartemen Den Jeff. Baru beberapa hari sih mereka pindah.” Dan sialannya, Raveno sama sekali tak tahu di mana apartemen Jeff.


**** 


Bila sekarang sedang berada di perlajalan untuk pergi ke rumahnya. Ada sesuatu yang lupa dia bawa hingga dia harus kembali.


Karena Jeff tak mungkin mengantarnya mengingat pria itu sedang berada di sekolah, akhirnya Bila hanya bisa mengandalkan taksi.


Taksi itu masuk ke halaman rumahnya dan Bila merasa bingung karena Bi Inah dan satpamnya berada di depan.


Tak hanya mereka, di sana juga ada seseorang yang Bila kenal. Raveno. “Lagi apa dia di sini?” tanya Bila.


Bila turun dari taksi. Matanya beradu pandang dengan Raveno yang juga terlihat terkejut.

__ADS_1


“Rav, lo ngapain di sini?” tanya Bila bingung. Seolah tak merasa bersalah, Bila menghampiri Raveno begitu saja.


“Ada yang harus kita omongin.” Nada bicara Raveno berubah serius. Sepertinya saat ini Bila memang harus bicara dengan Raveno.


Akhirnya Bila membawa Raveno ke depan rumahnya. Bila tak berani membawa pria itu ke dalam karena Bila tahu kedua orang tuanya sedang tak ada di sana.


Jadi, Bila memilih berbicara di kursi yang ada di teras rumah. “Jadi, apa yang mau lo omongin?” tanya Bila to the point.


“Lo beneran udah nikah?” tanya Raveno berharap Bila menjawab ‘Tidak’. Namun harapannya hancur saat gadis itu mengangguk begitu saja.


Raveno menghela nafas dalam. Dia berusaha menerima kenyataan yang ada. “Kapan? Kenapa gak kasih tau gue?” tanya Raveno dengan nada kecewa.


“Sorry gue gak ngabarin lo. Pernikahan gue juga diadain diam-diam. Cuma orang-orang tertentu yang datang. Gue nikah sekitar seminggu yang lalu,” jawab Bila.


Ini entah helaan nafas keberapa kali yang dilakukan oleh Raveno. “Lo tau kan gue suka sama lo?” Ya, kalau tak salah Raveno pernah mengatakan jika dia menyukai Bila.


Bila mengangguk. Dia sangat sadar dengan perasaan Raveno padanya. Tapi apa daya, semuanya tak bisa dipaksakan begitu saja. Hati Bila tetap untuk Jeff.


“Tentang itu gue juga minta maaf karena gak bisa balas perasaan lo.” Raveno mengangguk pasrah.


“Jadi lo nikah sama Pak Jeff?” Bila mengangguk sambil menundukkan kepalanya.


“Bukannya dulu lo bilang lo gak mau ketemu lagi sama dia? Lo sampai pergi ke Korea cuma buat hindarin dia, terus kenapa sekarang orang yang lo pilih juga dia?” Jujur saja Raveno merasa bingung dengan pikiran Bila yang labil itu.


“Pertanyaan yang sama juga selalu hinggap di pikiran gue Rav. Gue benci dia karena dulu dia nolak anaknya sendiri. Tapi rasa cinta gue sama dia lebih gede. Mungkin itu alasan kenapa gue kasih dia kesempatan kedua dan kita nikah,” jelas Bila.


“Oke. Gue ke sini cuma mau mastiin itu aja. Sekarang gue tau yang sebenarnya. Jadi seenggaknya gue tau gimana gue mesti bersikap sama lo. Tapi kita tetap bisa jadi teman, kan?” tanya Raveno.


Tak masalah baginya jika hanya menjadi teman Bila saja. Bila mengangguk menanggapi pertanyaan Raveno.


“Sekarang lo tinggal di mana?” Tanya Raveno. “Di apartemen suami gue. Tapi gue belum bisa bilang di mana. Gue mesti minta izin dulu.” Raveno mengangguk memahami Bila.

__ADS_1


__ADS_2