Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
84. Sebuah Perbedaan


__ADS_3

Bila terdiam, tangisnya berhenti begitu saja saat dia mendengar bentakkan Jeff sebelum beeberapa saat kemudian dia tertawa lebar.


“Bahkan kamu bisa bentak aku sekarang? Wah hebat banget ya pelet tuh cewek,” ucap Bila yang kembali membuat Jeff tersulut.


“Kamu itu sama-sama wanita, bisa gak sih gak usah rendahin dia? Kamu gak tau rasanya kalau kamu ada di posisi dia saat ini,” ucap Jeff.


“Ya kamu benar. Aku emang gak tau gimana rasanya bisa morotin suami orang, aku juga gak tau gimana rasanya bisa belanja bareng suami orang, karena aku gaak pernah lakuin itu,” sindir Bil.


“Bil!!” bentak Jeff. “Apa?!” Bila tak mau kalah, dia kembali menantang Jeff karena dia mersa tak salah.


“Pergi kamu dari sini, aku gak mau ketemu kamu.” Bila berucap dengan nada yang lebih pelan. Dia bahkan memalingkan badannya membelakangi Jeff.


Jika kalian pikir Bila akan tertidur setelah itu, maka kalian salah. Bila hancur, dia mengeluarkan air matanya tak peduli jika bantal rumah sakit itu akan basah oleh air matanya.


Tak lama setelah dia mengucapkan itu, terdengar suara pintu tertutup. Bila yakin jika Jeff sudah pergi dari sana.


Seperti apa yang dikatakan Bila, Jeff pergi dari ruangan itu. Dia sadar sesadar-sadarnya sekarang.


“Apa lagi ini, Tuhan,” lirihnya. Air matanya mengalir. Berapa banyak luka yang dia berikan untuk istrinya?


“Maaf.” Jeff hanya bisa mengucapkan maaf dan memohon ampun pada Tuhan atas segala hal yang telah dia lakukan pada istrinya.


Mengkhianatinya, membentaknya bahkan membela wanita lain di hadapannya. Ingatkan Jeff dosa mana lagi yang telah dia lakukan pada istrinya.


Jeff sama sekali tak pergi, dia diam di depan ruangan Bila. Tentu saja dia tak ingin membiarkan Bila melakukannya sendiri sekarang.


**** 


Berbeda dari dua insan yang sedang dilanda masalah itu, saat ini Raveno dan Melinda sedang dalam masa-masa kasmaran yang luar biasa.


Sepulang sekolah tadi, Raveno mengatakan jika dia akan pulang larut karena harus bekerja, tapi kalian tau apa yang dikataka Melinda?


“Aku mau ikut, liatin kamu kerja.” Sebuah kalimat yang berhasil membuat Raveno salah tingkah.


Dia tak meminta Melinda untuk bersikap seperti ini, tapi mau bagaimana lagi jika Melinda ingin ikut, maka Raveno tak bisa menolaknya.

__ADS_1


Jadi, sekarang Raveno sedang berada di tempat kerjanya dengan Melinda yang selalu memperhatikannya.


“Ohh jadi gini kalau lagi kerja? Dulu aja dinginnya minta ampun sama Mel, sekarang giliran sama cewek di sini baik banget,” desis Melinda.


“Jadi gini cemburunya pacar Raveno?” Seorang pria tiba-tiba muncul di sampingnya yang membuat Melinda terlonjak.


“Astaga! Hampir copot jantung, Mel,” ucap Melinda sambil memegangi dadanya.


“Loh Dewa?” tanya Melinda. Dia mengenal pria itu dengan baik karena Dewa selalu bersama dengan Raveno jika di sekolah.


“Iya, gue Dewa,” gurau pria itu kembali menjelaskan siapa dirinya.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Melinda pada pria itu. “Lah, harusnya gue yang nanya gitu ke lo,” jawab Dewa.


“Mel lagi nemenin pacar Mel kerja.” Dengan percaya diri gadis itu menunjuk Raveno yang tengah membuat kopi.


“Dia? Raveno?” tanya Dewa untuk memastikan yang kemudian dianggukki oleh Melinda.


“Dia cuma karyawan gue di sini.” Ucapan Dewa membuat Melinda membelalakkan matanya.


“Lah, kirain punya kamu.” Melinda mendorong pelan bahu Dewa.


Tanpa mereka sadari, di sana Raveno memandang Melinda dan Dewa dengan panas. Dia menjadi tak fokus bekerja. Lagi pula kenapa Dewa harus mendekati pacarnya segala.


“Si Dewa kurang ajar!” umpatnya. Di saat senggang karena tak ada lagi yang datang ke sana, Raveno menggunakan waktunya untuk menghampiri Melinda dan temannya.


“Jangan goda-goda dia lo!” bentak Raveno pada Dewa. “Dih, siapa yang goda.” Dewa tak terima dituduk menggoda Melinda.


“Jangan kira dari tadi gue gak merhatiin lo ya.” Raveno mengancam temannya itu. “Ya udah sih makan aja tuh Melindanya lo. Lagian gue gak doyan.” Setelah mengatakan itu, Dewa mendapatkan jitakan gratis dari Raveno.


“Ini pelanggaran, karyawan mana yang berani kaya gini sama bosnya?” ucap Dewa tak terima. 


“Sorry, tapi bos gue Bang Rangga, bukan lo.” Setelah mengatakan hal itu dia menjauhkan tempat duduk Melinda dari Dewa.


Katakanlah dia sangat posesif, tapi itulah dirinya. Dia tak peduli apa yang akan dikatakan orang lain.

__ADS_1


Hal yang sudah menjadi miliknya tak akan dia biarkan orang lain merebutnya begitu saja.


Dewa yang melihat tingkah temannya itu hany menggelengkan kepalanya. “Gak nyangka gue, seorang Raveno bisa berubah drastis banget hanya karena seorang Melinda.”


Raveno tak menanggapi ucapan temannya, lain halnya dengan Melinda yang mengibaskan rambutnya sombong.


“Ssstt Yang ah, gak usah ditanggepin,” ucap Raveno. Tanpa dia sadari hal itu membuat Melinda tersipu. Jarang-jarang Raveno memanggilnya begitu.


“Coba bilang sekali lagi,” pinta gadis itu. “Enggak! Apaan sih lo.” Lihat, kan? Bagaimana drastisnya perubahan sikan Raveno.


Melinda hanya mengerucutkan bibirnya merasa kecewa karena dia tak bisa memdengar kalimat sakral itu lagi daru mulur Raveno.


Semakin malam, caffe semakin ramai dan Raveno kembali ke tempatnya menyisakan Melinda yang masih di tempatnya dan juga Dewa.


Pria itu masih di sana karena Raveno menitipkan gadis gila itu padanya. Itulah kenapa dia tak bisa pergi kemana-mana.


“Aduhh, ngantuk. Ini kapan selesainya sih?” ujar Melinda. Dia menelungkupkan kepalanya di meja dan sudah menguap beberapa kali.


“Lagian belaga mau ikut segala. Udah, yang cari nafkah cukup suami lo aja. Lo tinggal duduk manis di rumah dan dapat duit,” ucap Dewa menimpali ucapan Melinda.


Melinda yang mendengar itu menegakkan badannya. “Kamu tau kenapa dia kerja di sini? Dia kan kaya, kenapa harus kerja?” tanya Melinda. Rasa kantuknya hilang terganti dengan rasa penasarannya.


“Lah, lo gak tau?” Melinda menggeleng tak tahu alasan kenapa Raveno bekerja di sana.


“Nafkahin lo lah,” ucapnya. Melinda membeku, apa maksud dari ucapan Dewa.


“Lo kira selama ini lo makan dari mana?” tanya Dewa.


Yang selama ini Melinda tahu adalah Ayahnya yang menjadi pasien rumah sakit jiwa, sebelum dia pergi dia menitipkan beberapa uang pada Raveno dan itu adalah uang yang diberikan Raveno padanya.


“Beneran?” Melinda kembali bertanya yang diangguki dengan yakin oleh Dewa.


“Ngomongin apa kalian?” Raveno datang dengan tiba-tiba di tengah perbincangan dua orang itu.


“Ahh enggak, ini Mel ngantuk.” Melinda segera memotong, sebelum Dewa mengatakan pada Raveno apa yang tadi sedang merek bicarakan.

__ADS_1


Raveno mengangguk. “Ya udah yuk pulang, gue udah selesai.” Melinda mengangguk.


__ADS_2