
“Astaga, kenapa semua ini harus terjadi padaku?” Jeff menghempaskan tubuhnya di ranjangnya setelah kepergian Laras.
“Masalah tentang Bila juga belum selesai, kenapa harus muncul masalah baru?” Bisakah dia menghilang dari muka bumi ini saja? Dia sudah sangat lelah dengan semuanya.
Jeff memejamkan matanya. Karena terlalu lelah, pria itu akhirnya masuk ke dalam alam mimpinya.
Apartemennya sunyi. Berbeda jika ada Bila di sana, gadis itu tak akan membiarkan apartemen sepi. Entah dengan mencoba menu makanan baru, menonton film atau bercerita ke sana kemari.
Hingga malam tiba, Jeff baru membuka matanya. Dia menggeliatkan badannya kemudian termenung.
“Aku kira semua ini hanya mimpi, ternyata bukan,” lirihnya. “Bil, aku mohon pulang. Aku janji gak akan bikin kamu sedih lagi.”
Jeff kemudian bangkit dan pergi mandi. Seperti rencananya tadi, dia akan pergi ke sebuah club untuk menenangkan pikirannya.
Tenang, dia tak pergi sendiri. Dia juga mengajak Victor bersamanya. Jeff takut, dia takut akan hilang kendali jika tak ada yang menghentikannya. Itulah kenapa dia mengajak sahabatnya itu.
Jeff kemudian mengambil kunci mobilnya setelah dia selesai bersiap-siap. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tujuannya sebelum pergi ke club adalah rumah Victor.
Tok tok
Jeff mengetuk pintu rumah Victor beberapa kali. Tampaklah seorang wanita paruh baya yang sangat dia kenali membukakan pintu untuknya.
“Hei Jeff. Lama sekali kamu gak main ke sini,” ujar wanita yang tak lain adalah Ibu Victor.
“Sibuk, Tante,” jawab Jeff enggan untk mencari alasan lain.
“Ayo masuk.” Jeff mengangguk dan mengekori Ibu Victor untuk masuk ke dalam rumahnya. Tepat sekali ketika Jeff akan mendudukan dirinya di sofa, Victor datang dengan penampilan tampannya.
Jeans hitam yang membalut kaki jenjangnya, dipadukan dengan kaos hitam polos. Tak lupa kalung yang selalu dia kenakan membuat penampilannya sangat mempesona.
“Berangkat sekarang?” tanya Victor sambil membenarkan letak kalungnya yang agak berputar.
Jeff mengangguk. “Ayo!” Akhirnya tanpa duduk terlebih dulu mereka memilih berpamitan pada Ibu Victor.
__ADS_1
“Loh, kok langsung pergi aja sih? Tante belum nawarin minum loh,” protes Ibunya Victor.
Jeff tersenyum lebar. “Lain kali Tante. Kita mau main, takut kemalaman,” elak Jeff. Bagaimana bisa takut kemalaman, justru semakin malam suasana club akan semakin hidup dan itu akan menyenangkan.
Ibu Victor menghela nafas ketika mendapat jawaban dari Jeff. “Sering-sering main ke sini,” ucapnya yang kemudian diangguki oleh Jeff.
“Berangkat dulu, Bu.” Kali ini Victor yang berpamitan. Setelah mendapatkan izin dari sang Ibu, mereka pergi dari sana.
Perjalanan mereka ke tempat tujuan memerlukan setidaknya tiga puluh menit yang berarti mereka memiliki banyak waktu di perjalanan.
“Gimana, lo udah minta maaf sama orang tua pacar lo?” tanya Victor. Bukannya ikut campur, tapi dia ingin memastikan jika sahabatnya ini tak menjadi pengecut yang kurang ajar.
Jeff mengangguk. “Tiap hari gue ke rumahnya, dan tiap hari juga gue dapat penolakan. Kayanya ini karma buat gue karena gue nolak Bila waktu itu,” ujarnya.
“Berarti sampai sekarang lo belum ketemu sama pacar lo?” Victor kembali bertanya.
“Belum. Gue berusaha buat dapetin maaf sekaligus restu dari orang tuanya dulu. Abis itu baru gue deketin anaknya.”
Victor hanya mengangguk mendengar penuturan sahabatnya. Memang akan sulit jika kedua orang tua pacarnya itu tak merestui atau bahkan tak mengijinkan Jeff untuk kembali bertemu dengan anaknya.
****
Setelah mendapatkan kabar seperti itu dari Raveno, kedua orang tua Bila bergegas terbang ke Korea. Mereka akan menemui Bila di tempat yang telah diberitahu Raveno.
Saat ini meresa sudah tiba tepat di depan pintu rumah itu. Mereka agak ragu untuk menekan bel, mungkin karena sudah cukup lama mereka tak bertemu.
Tuan Harla dan Bunda Erina saling berpandangan sebelum kemudian tangan kanan Tuan Harla terangkat untuk menekan bel itu.
Satu kali, dua kali, tak ada respon dari sang pemilik rumah. Keduanya merasa agak cemas takut Bila pergi lagi dari sana.
Namun setelah mereka menekan bel ketiga, pintu terbuka dengan lebar dan memperlihatkan sosok gadis yang selama ini mereka cari. Gadis yang selama ini mereka rindukan.
“Sayang,” lirih Bunda Erina dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
“Ayah, Bunda.” Keadaan Bila juga tak jauh berbeda dengan Bundanya. Dia menangis kencang. Ada rasa takut, gelisah dan juga senang di waktu bersamaan.
__ADS_1
Bunda Erina segera memeluk putrinya dengan erat. Melampiaskan rasa rindunya yang sudah menggebu.
Setelah pelukan mereka terlepas, Bila menarik tangan Bunda dan juga Ayahnya untuk masuk ke dalam dan dia segera menutup pintunya.
Mereka bertiga duduk di sofa dengan Bila yang menundukan kepalanya. Dia takut pada Ayahnya karena sedari tadi Ayahnya itu hanya diam tak berbicara sepatah katapun.
“Cucu Ayah baik-baik aja, kan?” Sekalinya mengeluarkan suaranya, hal itu membuat Bila kembali menangis dan segera berhambur ke dalam pelukan sang Ayah.
“Ayah maafin Bila.” Bila menangis keras dan menenggelamkan kepalanya di dada Ayahnya. Sandaran yang sangat nyaman memang sandaran Ayah.
“Ayah yang minta maaf. Harusnya Ayah selalu ada buat kamu, bukannya malah terus bekerja sampai melupakan putri Ayah sendiri,” lirih Tuan Harla. Kali kedua dalam hidupnya dia meneteskan air mata.
Yang pertama adalah ketika istrinya melahirkan Bila.
“Kalian sudah datang ke sini, berarti Raveno sudah memberitahu semuanya, kan?” tanya Bila pada keduanya.
Kedua orang tua Bila mengangguk. “Padahal kalaupun kamu memberitahu semuanya pada kita, kita gak akan nolak kamu. Mau bagaimanapun kamu tetap putri kita,” ucap Bunda Erina.
Bila menunduk. Dia tahu, tapi entah mengapa rasa takutnya itu kian membesar ketika dia mengingat bagaimana Jeff menolaknya dulu.
“Bila Cuma takut, Bun,” lirih Bila.
“Kita pulang ya,” bujuk Tuan Harla. “Kita gak akan biarin Jeff ketemu kamu. Kamu juga gak perlu sekolah kalau gak mau. Kalau mau, kamu juga bisa belajar di rumah,” ucap Ayahnya.
“Tapi Ayah yakin kan kalau dia gak akan nemuin Bila lagi?”
“Ayah gak yakin karena sampai saat ini dia masih selalu datang ke rumah dan minta maaf.”
“Kalau begitu Bila gak mau pulang.” Yang tadinya Bila optimis untuk pulang, kini dia enggan untuk kembali.
“Tapi tenang saja. Sebisa mungkin Ayah gak akan biarin dia ketemu kamu. Ayah juga merasa sakit hati karena anak Ayah disakiti.”
“Pulang ya. Setelah ini Bunda janji gak akan sering berangkat ke kantor. Kita bisa main bareng, belanja bareng, Bunda juga bakal anterin kamu main sama teman-teman kamu.”
Bila sedikit bimbang dengan segala tawaran orang tuanya.
__ADS_1