
Selama ini Jeff sibuk dengan Laras. Bukan bersenang-senang, tapi mencari tahu apa yang disembunyikan gadis itu.
Dan berkali-kali pula dia gagal. Dia tak pernah melihat hal yang mencurigakan dari Laras. Mungkin kehamilan gadis itu memang benar adanya.
"Mau sampai kapan kamu kayak gini? Kamu sadar nggak sih selama ini udah nyakitin aku? Aku emang diam tapi diam aku bukan berarti aku gak sakit. Kamu pernah ngebayangin gak gimana rasanya lihat suami sendiri pergi pagi-pagi ke rumah wanita lain?"
Bila benar-benar sudah habis kesabaran saat ini. Mereka sedang berada di rumah Bunda Erina dan Bila sudah tak lagi peduli apakah pertengkaran mereka itu akan didengar oleh orang tuanya atau tidak. Dia sudah sangat lelah dengan semua yang dilakukan Jeff.
"Nggak gitu, Sayang. Kamu kan tahu sendiri aku kerumah dia cuma mau buktiin sesuatu."
Bila terkekeh saat mendengar penuturan Jeff. "Aku udah hafal di luar kepala dengan alasan kamu, tapi apa kamu berhasil?" tanya Bila seolah meremehkan suaminya.
"Aku yakin aku bakal berhasil, tunggu sebentar lagi," ucap Jeff.
"Nunggu sampai kapan? Sampai aku benar-benar hancur?"
"Kok gitu sih ngomongnya?" Jeff tak menyangka jika Bila akan mengatakan itu.
"Ya terus gimana? Sekarang aja aku udah sekarat liat kamu lebih sering sama dia daripada sama aku!" Tangis Bila pecah saat dia mengatakan itu.
Apa yang dikatakan gadis itu memang benar adanya. Suaminya jarang sekali ada di rumah. Mungkin pria itu akan pulang jika waktunya tidur tiba dan sisanya dia ada di sekolah dan bersama Laras.
Tapi apa yang dikatakan Jeff juga bukan sebuah kebohongan. Dia benar-benar pergi menemui Laras untuk menemukan suatu kebenaran. Tapi memang sampai sekarang dia belum juga berhasil.
"Kamu bisa gak sih gak usah besarin masalah kaya gini? Kamu sendiri tau kan kenapa aku lebih sering sama dia?" Jeff tak mau kalah.
"Oke kalau kamu anggap ini masalah kecil." Bila memilih pergi meninggalkan Jeff sendiri.
Mereka berdebat di depan pintu kamar mereka dan tentu saja pertengkaran mereka itu terdengar sampai lantai bawa.
"Kenapa itu Non Bila?" tanya Mang Parman heboh ketika mendengar suara-suara ribut.
"Gak tau. Udah ah jangan ikut campur urusan orang," jawab Bi Inah. Wanita paruh baya itu memilih untuk melanjutkan kegiatannya yaitu memasak.
Jeff masuk ke kamarnya dalam keadaan marah. Dia hanya diam dan mengambil jaketnya. Tak lupa dia juga mengambil kunci mobilnya.
Bila memperhatikan suaminya itu. Dia sangat tahu jika Jeff akan pergi. Namun dia terlalu lelah untuk bertanya.
"Aku pergi dulu." Jeff berpamitan walaupun saat ini dia dalam keadaan marah.
Bila mengabaikan suaminya. Dia lebih fokus pada putranya yang sedang dia timang.
Tujuannya saat ini adalah rumah Laras. Bukan karena dia sedang marah dan akan melampiaskannya dengan menemui gadis itu.
Tapi dia tahu jika dia harus menyelesaikan ini.
__ADS_1
"Aku tau gak bisa buktiin sekarang. Tapi entah kenapa aku yakin kalau dia bukan anak aku," lirihnya ketika sedang menyetir.
Suasana mobil tiba-tiba menjadi drama saat Jeff mengatakan hal itu.
Dia akhirnya tiba di tempat tujuannya. Rumah Laras.
"Emag malas sih ke sini. Tapi mau gimana lagi."
Jeff keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah gadis itu.
Jeff membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu karena dia punya pikiran jika dia sudah biasa datang ke sini jadi mungkin pintunya tak dikunci.
"Jeff!!" teriak Laras. Gadis itu sedang duduk di sofa dengan tumpang kaki.
Di tangannya ada sebuah majalah yang sedang dia baca.
Jeff awalnya merasa tak ada yang aneh. Tapi ketika pandangannya turun ke perut gadis itu, mata Jeff terbuka lebar.
Rata. Tak ada satu tanda pun jika laras sedang mengandung.
"Jadi selama ini… " ucap Jeff tak mampu lagi berkata-kata.
"N-nggak gak gitu, Jeff," ucap Laras berusaha mengelak.
"Jadi gimana?!!" Jeff berteriak membentak Laras karena dia sudah sangat marah.
"Nyesel gue percaya sama lo selama ini!!" Lagi-lagi Jeff membentak Laras.
"Mulai sekarang jangan temuin gue lagi!!" Jeff pergi dari sana begitu saja.
Laras tak membiarkan Jeff pergi begitu saja karena Jeff adalah sumber keuangannya. Dia tak bisa kehilangan pria itu.
"Jeff tunggu!!" teriak Laras sambil mengejar pria itu.
Jeff seakan tuli ketika Laras terus memanggil-manggil namanya.
Terlambat, Jeff sudah masuk mobil dan Laras tak bisa mengejar pria itu.
Jeff melajukan mobilnya tanpa peduli di depannya ada Laras yang menghadangnya.
Setelah berhasil lolos dari gadis itu, Jeff segera melajukan mobilnya menuju rumahnnya.
"Sayang, akhirnya aku berhasil. Aku bisa buktii kalau aku gak punya anak dari orang lain," ucap Jeff dengan bahagia.
Saking tak sabarnya, tanpa sadar Jeff melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Hingga di sebuah persimpangan, dia tak melihat dari arah sebelah kanannya ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan penuh.
Suara rem yang berdecit membuat Jeff memalingkan wajahnya untuk melihat itu.
Matanya membulat ketika dia melihat truk itu melaju ke arahnya dengan begitu cepat.
"Sialan!" umpat Jeff sebelum kemudian dia membanting stirnya.
Alih-alih terhindar dari kecelakaan itu, Jeff tak bisa menghindarinya. Mobilnya terhantam keras oleh truk itu hingga mobil Jeff bergeser beberapa meter.
"B-bila t-tunggu aku. K-alau a-aku pulang nanti. Aku akan cerita semuanya."
Setelah mengatakan hal itu, Jeff benar-benar kehilangan kesadarannya.
Darah segar mengalir di pelipisnya. Orang-orang mulai mendekat ke tempat kejadian.
Entah itu yang akan menolong atau hanya yang sekedar penasaran.
"Panggil ambulans," ucap seseorang.
Yang lainnya segera memanggil ambulans dengan nomor darurat.
Tak hanya ambulans, mereka juga memanggil polisi.
Ambulans datang dan langsung membawa korban ke rumah sakit termasuk Jeff.
"Kasian banget. Padahal yang tadi kayanya masih muda." Mereka yang melihat kejadian itu beramai-ramai menceritakan kronologi kejadian.
Sementara itu Ambulans telah melaju dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
Berita dengan cepat meliput kecelakaan itu. Dimana-mana membicarakan tentang kecelakaan maut yang baru saja terjadi di pusat kota itu.
"Kecelakaan baru saja terjadi di pusat kota. Diduga sopir truk mengantuk dan menghantan beberapa minibus. Keadaan korban saat ini kritis dan sopir truk meninggal dunia."
Bila tak sengaja menjatuhkan gelas yang dia pegang. Dia sangat terkejut dengan berita itu.
Layar televisi menampilkan sebuah mobil yang sangat dia kenal dan plat nomor yang sangat dia hapal.
"B-bunda!" teriak Bila sekeras mungkin walau sekarang tenggorokkannya terasa tercekat.
"Kenapa sayang?" Bunda Erina datang menghampiri putrinya.
"J-jeff," lirih Bila sambil menunjuk televisi.
Mobil Jeff masih terlihat jelas di sana.
__ADS_1
Bunda Erina menutup mulutnya dengan tangan saat dia sadar apa yang dimaksud Bila.