
Setelah berhasil melahirkan anak pertamanya, Bila terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Pikirannya bukan lagi tentang apakah anaknya perempuan atau laki-laki, apakah anaknya baik-baik saja atau tidak?
Yaang ada dalam benaknya saat ini hanya, di mana Jeff sampai dia melupakan Bila begitu saja.
“Sayang, apa yang kamu pikirin?” tanya Bunda Erina pada putrinya. Dia mengelus pelipis putrinya.
Bila tak menjawab, dia hanya menggeleng lemah. Perlahan kepalanya menengok ke arah bundanya. “Bunda, Jeff belum bisa dihubungi?” tanya Bila.
Sedari tadi hanya itu pertanyaan yang keluar dari mulutnya. “Mungkin Jeff lagi di jalan. Tunggu ya, nanti Ayah coba telpon lagi.” Sebuah kalimat penenang yang Tuan Harla sendiri tak tahu apakah itu sungguhan atau tidak.
Tuan Harla keluar dari ruangan Bila untuk mencoba menelpon Jeff lagi. Syukurlah kali ini panggilan Tuan Harla diangkat.
“Halo, Ayah,” ucap Jeff dari seberang sana.
“Kamu ini kemana aja? Ditelpon gak aktif terus,” ujar Tuan Harla dengan sedikit menaikan nada bicaranya.
“Maaf, Yah. Tadi ada urusan bentar. Ada apa?” Jeff masih tenang menanggapi panggilan Tuan Harla.
“Ke rumah sakit sekarang, Bila udah melahirkan.” Di situlah mata Jeff terbelalak. Dia sangat terkejut dengan kabar tiba-tiba itu.
“Ayah gak bercanda, kan?” Jika saja Tuan Harla sedang bergurau dengannya.
“Cepat! Ayah gak ada waktu bat bercanda sama kamu. Ayah kirim alamat rumah sakitnya sekarang.” Dengan kesal, Tuan Harla menutup panggilan itu sebelum kemudian dia mengirimkan alamat rumah sakit itu kepada Jeff.
Tuan Harla kembali masuk ke ruangan Bila. Putrinya masih terbaring dengan lesu, pandangan matanya juga terlihat kosong.
Sangat ketara jika putrinya itu sedang memikirkan sesuatu. “Ayah udah telpon Jeff. Dia lagi ke sini,” ujar Tuan Harla yang membuat kedua gadis itu mengalihkan pandangannya padanya.
“Syukurlah,” timpal Bundanya. “Bi Inah sama Mang Parman udah disuruh pulang, kan?” lanjut Bunda Erina bertanya pada suaminya.
“Hhmm tadi Ayah suruh pulang soalnya di rumah gak ada siapa-siapa.” Bunda Erina mengangguk lega.
__ADS_1
Sementara mereka menunggu kedatangan Jeff, seorang suster masuk dan membawa bayi Bila ke sana.
Bunda Erina dengan cepat membawa bayi itu dalam gendongannya. “Astaga, ganteng banget cucu, Oma,” ucapnya dengan girang.
Ya, anak mereka adalah seorang laki-laki. “Bil, kamu mau gendong?” Bunda Erina memberikan bayi itu pada Bila.
Beruntunglah Bila sudah bisa duduk walau sambil bersandar. “Gantengnya Mommy, siapa ya nama kamu?” tanya Bila berusaha berseri di depan anaknya.
Bayi itu tak menanggapi. Hanya menggeliatkan sedikit badannya. “Lucu banget,” lirih Bila. Hidungnya sangat mirip dengan milik Jeff. Dia bersyukur karena tak mengikuti hidungnya yang tidak mancung sama sekali.
Tak lama, Jeff datang dengan nafas yang terengah. “Sayang,” sentaknya sambil membuka pintu. Dia mencoba mengatur nafasnya. Dari bawah dia berlari ke sini.
Bila dan semua orang yang ada di ruangan itu mengalihkan perhatiannya pada Jeff. Jeff merasa canggung karena diperhatikan seperti itu.
Jeff menghampiri Bila dan mengelus kepala gadis itu. “Maaf, aku gak sama kamu,” lirihnya. Mungkin ini akan jadi penyesalan terbesar yang pernah dia lakukan selama hidupnya.
Dikala istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan putranya, dia malah mengantar wanita lain berbelanja.
Bila tak menjawab, dia diam seribu bahasa. Jeff mengambil alih anaknya. “Kamu udah kasih nama?” tanya Jeff pada istrinya yang masih dibalas dengan kebisuan.
“Kapan Bila boleh pulang, Bun?” tanya Jeff tanpa rasa bersalah. “Mungkin besok juga udah bisa,” jawab Bunda Erina.
Jeff mengangguk, dia tak henti-henti mengecup putranya dengan sayang. Entah kenapa pemandangan itu malah membuat Bila sesak.
Dia tahu ke mana Jeff tadi pergi dan di sini selama beberapa jam dia berusaha berjuang sendiri. Sekarang ketika perjuangannya telah usai, pria itu datang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Bunda, Bila mau pulang sama Bunda, ya.” Ucapan Bila yang begit tiba-tiba membuat Jeff menolehkan kepalanya pada istrinya.
“Loh kenapa? Kamu mau tinggal di rumah Bunda dulu?” Malah Jeff yang bertanya karena dia terkejut dengan keinginan Bila.
“Bila gak mau di rumah sendiri. Nanti kalau Bila perlu bantuan dan di rumah gak ada siapa-siapa, gimana?”
__ADS_1
Pertanyaan Bila itu membuat Jeff tersadar jika Bila sedang menyindirnya. “Sayang, kan ada Jeff. Dia suami kamu, dia yang bertanggung jawab atas kamu sekarang.” Bunda Erina berusaha menasehati putrinya.
Bila terdiam membisu, suaminya itu tak bisa diandalkan, itulah hal yang bersarang dalam pikirannya saat ini.
“Aku ada kok. Kalau kamu perlu sesuatu, nanti aku bisa bantu. Aku gak akan ninggalin kamu,” jawab Jeff cepat.
Bila memandang suaminya dengan raut wajah sakit, raut wajah yang berkali-kali telah dikecewakan.
“Tuh, Jeff juga udah bilang gitu. Kalau gitu, Bunda pulang dulu. Sekarang biar Jeff yang temenin kamu.”
Lagi-lagi Bila terdiam menatap kepergian kedua orang tuanya hingga sekarang di ruangan itu hanya tersisa Bila dan Jeff.
Pandangan Bila tertuju pada Jeff. Tatapannya sangat tajam seolah bisa menghunus jantung Jeff kapan saja.
“Udah selesai nganter belanjanya?” Pertanyaan Bila berhasil membuat Jeff mematung. Dia tak bisa menggerakan badannya.
Bagaimana bisa Bila tahu? Apa selama ini gadis itu hanya berpura-pura?
“Gimana? Seru?” lanjut gadis itu. Jeff menyimpan bayinya di kotak bayi yang ada di samping ranjang Bila sebelum kemudian dia fokus pada Bila.
“Sayang, gimana bisa kamu tau?” tanya Jeff serius. Hal itu dibalas dengan kekehan dari Bila.
“Gimana bisa aku tau? Kamu nanya itu? Jeff, aku kenal kamu udah cukup lama, dan waktu selama itu sangat lebih dari cukup buat aku tahu apa kamu lagi bohong atau enggak.”
“Kamu bilang mau pergi sama Victor? Mau apa ketemu Victor kalau semalam saja kamu lama berada di rumahnya?”
Jeff mematung, dia tak bisa menyangkal ucapan Bila satupun. “Aku minta maaf, aku terpaksa lakuin ini.”
“Terpaksa sampai kamu tega tinggalin istri kamu yang lagi hamil dan ini bulannya untuk lahiran di rumah sendiri? Sampai tega kamu matiin ponsel kamu cuma biar aku gak ganggu kamu!!?” Bila berteriak histeris.
Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. Keadaan yang kacau karena baru saja lahiran dan juga tangis yang pecah begitu saja sukses membuat Jeff berhasil melihat versi Bila yang sangat kacau.
__ADS_1
“Apa lagi habis ini?!! Apa lagi yang mau kamu lakuin buat bikin aku sakit, Jeff!! Apa!!”
Bayi mereka menangis, mungkin karena terkejut dengan teriakan Bila yang tiba-tiba. “Kamu bisa tenang gak!!?”