Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
44. Apology


__ADS_3

Kedua orang tua Bila memang merasakan sakit ketika tahu Jeff bersikap seperti itu pada putri mereka. Tapi mereka juga tak bisa merasakan apa yang sepenuhnya dirasakan oleh Bila. Jadi saat ini keputusan ada di tangan Bila, apakah gadis itu akan memberikan kesempatan kedua pada Jeff atau tidak.


Bila yang sedang menikmati suasana sore di balkon kamarnya seketika menegang kala netranya menangkap sosok yang sangat dia hindari.


Motor yang sering dia naiki dulu kini masuk ke pekarangan rumahnya. Mata mereka bertemu satu sama lain untuk sesaat sebelum pria bermotor itu mengucek matanya.


Saat seperti itu digunakan Bila untuk pergi ke dalam kamarnya. Jantungnya berdegup kencang. Benar apa yang dikatakan Bundanya, Jeff pasti datang ke rumahnya.


Gadis itu keluar kamar untuk bertanya pada Bundanya. “Bun, Jeff di luar?” tanya Bila dari atas. Sebisa mungkin dia memelankan suaranya.


Bunda Erina mengangguk. “Iya, kamu yakin gak mau temuin dia? Gak mau ngomong baik-baik?” tanya Bunda Erina. Mungkin saja kali ini Bila sudah berubah pikiran.


Namun, dengan yakin Bila menggelengkan kepalanya. “Enggak. Bila mau masuk lagi saja.” Ya, sejak datang ke rumahnya, dia sama sekali tak tidur.


“Dia bilang gak akan pergi sebelum dia ketemu kita.” Ucapan Ayahnya membuat tubuh Bila membeku untuk sesaat.


“Urusan dia. Bila gak peduli,” ucapnya sebelum berlalu ke kamarnya. Apa yang diucapkannya barusan sebenarnya tak sepenuhnya benar. Ada rasa khawatir akan pria itu.


“Oke, Bil. Gak usah peduliin dia.” Bila berusaha menguatkan tekadnya.


“Nya, makanannya udah siap.” Bi Inah datang dari dapur memanggil majikannya untuk segera makan.


Bunda Erina mengangguk. “Kita makan bareng ya. Bentar, Bunda panggil Bila dulu.” Bunda Erina kemudian berlalu untuk memanggil putrinya.


“Bil, makan dulu yu. Makanannya udah siap,” ucap Bunda Erina dari luar kamar Bila. Bila membukakan pintu kamarnya dan mengangguk.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan Bunda Erina yang menggandeng tangan Bila. “Hati-hati,” ucapnya.


Meja makan mereka kini penuh dengan makanan, mulai dari makanan pembuka, makanan inti sampai makanan penutup ada di sana. Bila menganga karena tidak biasanya Bi Inah akan masak sebanya ini.


“Bibi kenapa masak banyak banget?” tanya Bila heran. “Iya Non, kan Non Bila baru pulang, jadi Bibi masak banyak,” kekehnya yang dibalas senyuman oleh Bila.

__ADS_1


Mereka makan dengan tenang. Tak hanya Bila, Bunda Erina dan Tuan Harla saja yang makan, tapi Bi Inah dan Mang Parman juga ada di sana.


Sementara mereka makan dengan lahap, mereka sampai melupakan jika di luar sana ada pria yang terduduk, menunduk di depan pintu rumah mereka.


Jeff Adhinata, pria itu menepati ucapannya. Dia sama sekali tak bergerak dari tempatnya semula. Dia masih di sana dengan badan yang kedinginan. Bagaimana tidak, hari mulai malam dan kalian pasti tahu bagaimana dinginnya angin malam.


“Tahan! Masa segini aja udah mau nyerah. Lo bisa demi dapetin maaf dari Bila!” Jeff berusah menyemangati dirinya sendiri.


Dia memeluk tubuhnya. Bodohnya dia juga tak mengenakan jaket hingga rasa dingin itu seakan menancap masuk ke setiap inci tubuhnya.


****


Pagi datang, Bila turun untuk sarapan. Katakan saja dia hobi makan, tapi memang ketika mengandung, nafsu makannya bertambah.


“Udah bangun Sayang,” tanya Bundanya basa-basi yang dijawab dengan anggukan oleh Bila.


“Bunda gak kerja?” Bila sudah biasa dengan suasana sepi di rumahnya. Jadi, ketika Bunda atau Ayahnya ada di rumah, dia sedikit heran.


“Eh Bun, di luar hujan ya?” Ada suara gemericik air dari arah luar. Sudah lama Bila tak melihat hujan dari teras rumahnya.


“Kayanya iya deh.” Setelah mendapatkan jawaban dari Bundanya, Bila mendekati pintu rumahnya.


Dia membuka kunci dan juga membuka pintu itu. Betapa terkejutnya dia saat badan besar seseorang ikut tumbang kala pintu itu terbuka.


“Astaga!!” teriak Bila agak keras karena keterkejutannya. “Ada apa, Bil?” tanya Bundanya yang tak kalah terkejut. Dia juga menghampiri putrinya untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Belum sempat Bila menjawab, Bunda Erina sudah lebih dulu membelalakan matanya karena terkejut.


“Jadi dia benar-benar dengan ucapannya,” lirih Bunda Erina. “Panggil Ayah, Bun,” ucap Bila.


Bunda Erina berlari untuk memanggil suaminya yang sedang berada di halaman belakang.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Ayahnya saat datang ke sana. Netranya menangkap sosok Jeff yang kini sudah ada dalam pangkuan Bila.


“Bangun,” ucap Bila panik sambil menepuk-nepuk pipi pria itu. Tapi sepertinya usahanya itu sia-sia karena sampai saat ini Jeff tak kunjung membuka matanya.


“Bawa ke dalam dulu aja,” usul Bunda Erina.


Akhirnya mereka membawa Jeff ke dalam rumah dan membaringkan pria itu di sofa. Bila membawa selimut tebal yang ada di kamarnya saat dia memegang tangan Jeff yang sangat dingin.


“Astaga! Kenapa kita gak sadar sejak malam ya?” ucap Tuan Harla. Jika tahu Jeff benar-benar menepati ucapannya, mungkin dia akan meminta Jeff pulang baik-baik.


Bila menutup tubuh Jeff dengan rapat menggunakan selimut. “Biar Bila yang jaga Bunda, Yah,” ucap Bila pada kedua orang tuanya.


Tuan Harla dan Bunda Erina mengerti jika putrinya memerlukan waktu berdua dengan Jeff. Akhirnya mereka pergi dari sana meninggalkan Bila dan Jeff berdua.


“Bukan aku yang mau berduaan sama kamu ya! Ini karena anak kamu yang mau!” sentaknya. Dia benci menjadi selemah ini. Entah mengapa ada hal yang membuat hatinya bergerak untuk menolong Jeff.


“Eeuunghh,” lenguh Jeff. Dia baru saja sadar. Hangat, itu yang dia rasakan. Dia melihat tubuhnya yang ditutupi selimut sebelum kemudian pandangannya beralih ke arah orang yang ada di samping tubuhnya.


Matanya memanas dengan air mata yang mulai mengalir. Sakit, itu yang dia rasakan. Bukan karena Bila menolaknya, tapi melihat gadis yang dia tolak kini ada di sampingnya dengan raut wajah khawatir.


“Maaf,” lirihnya diiringi isakkan. Dia bangkit dan memeluk tubuh Bila dengan erat. “Aarrghh, maaf. Aku bodoh, maaf, maaf.” Jeff terus saja merapalkan kata maaf dalam pelukan Bila.


Sementara itu Bila tak merespon. Gadis itu hanya menangis dalam diam tanpa ada niat membalas pelukan Jeff.


Bila mengusap air matanya dan menjauhkan tubuh Jeff dari tubuhnya. “Kamu udah sadar, kan? Pulanglah,” pinta Bila yang membuat Jeff kembali merasakan sakit di hatinya.


“Bil aku mohon jangan seperti ini. Kamu boleh maki aku, atau mau pukul juga boleh sepuas kamu. Tapi jangan kaya gini, aku gak bisa. Aku mohon,” ucap Jeff.


Tak ada jawaban dari Bila. Dia masih membisu dengan perasaan yang berkecamuk.


 

__ADS_1


__ADS_2