
Setelah cukup lama mereka melakukan negosiasi dengan Bila, akhirnya Bila mau kembali ke rumah dengan syarat yang telah bila katakan tadi.
Kedua orang tuanya juga sudah menyetujuinya. Besok pagi mereka baru akan berangkat dari Korea. Tuan Harla juga sudah meminta anak buahnya menghentikan pencarian karena putrinya sudah ditemukan.
“Jadi, berapa bulan usia kandungan kamu sekarang?” tanya Bunda Erina. Wanita paruh baya itu terlihat lebih sehat sekarang.
“Jalan empat bulan, Bun.” Ya, sebenarnya mereka sudah mengetahui hal tersebut dari Raveno. Tapi, apa salahnya menanyakan langsung pada putrinya.
Malam ini cuaca di Korea terasa sangat dingin. Namun, karena satu keluarga itu sekarang sudah kembali bertemu, rasa dingin itu seolah tak terasa sama sekali.
“Akhirnya bentar lagi Bunda bakal gendong cucu,” ucap Bunda Erina riang.
Sementara itu, Tuan Harla hanya menyaksikan interaksi kedua wanita yang sangat dia sayangi.
“Ayah, gimana perusahaan Ayah?” tanya Bila. Semenjak dia bekerja, dia menjadi lebih paham kenapa Ayahnya selalu gila kerja.
Dia juga sudah bertekad akan melanjutkan bisnis Ayahnya itu. “Baik, walaupun belakangan ini Ayah jarang pergi ke kantor, tapi semuanya baik-baik saja sejauh ini.”
Bila mengangguk paham. “Kenapa? Tumben kamu baicarain kerjaan?” kekeh Ayahnya yang merasa aneh.
Dulu, jika kedua orang tuanya sedang membahas perusahaan, Bila akan mengalihkan topik karena dia sangat tak suka dengan topik itu. Tapi lihatlah sekarang.
“Setelah Bila pergi dari rumah, Bila mulai ngerti kenapa kalian selalu kerja, kerja dan kerja. Bila merasa jadi kalian. Bila akan selalu kerja demi anak Bila. Bila gak mau anak Bila kelaparan.”
Penjelasan Bila membuat kedua orang tuanya menganga. Bila kecilnya kini sudah dewasa dan hal itu membuat Tuan Harla dan Bunda Erina sangat terharu.
“Kamu kerja apa selama di sini?” tanya Bunda Erina. “Bila buka les Bahasa Inggris, Bun. Banyak banget anak muda di sini yang mau kuliah ke luar negeri tapi mereka terbatas sama Bahasa. Awalnya Bila juga gak kepikiran buat buka les, tapi hari itu ada seorang anak yang tak sengaja menabrak orang asing sampai menjatuhkan barangnya. Dia kesulitan meminta maaf karena orang itu menggunkan Bahasa Inggris. Jadi Bila bantu untuk meminta maaf.”
Kedua orang tuanya mendengarkan cerita Bila. Hal yang selama ini tak pernah mereka lakukan. Mungkin akan ada banyak cerita jika mereka lebih sering berada di rumah.
“Jadi, karena hal itu kamu putusin buat buka les Bahasa Inggris?” tanya Ayahnya.
__ADS_1
Bila mengangguk semangat. “Ayah bangga sama kamu. Kalau kamu mau sekolah lagi dan mau jadi guru Bahasa Inggris, Ayah akan dukung. Ayah gak akan paksa kamu buat nerusin perusahaan Ayah, Bil.”
Namun di luar dugaan mereka, Bila menggeleng pelan. “Enggak, Yah. Bila mau nerusin perusaahaan Ayah aja. Lagian, Bila juga gak mau sekolah lagi.”
Hal itu bukan masalah yang besar bagi Tuan Harla dan istrinya. Sekarang yang mereka fokuskan adalah keingingan Bila.
Mereka tak akan lagi menekan Bila untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Biarkan dia memilih apa yang menurutnya baik.
“Tapi, Yah, Bun, kalian tahu gak apa yang ada di pikiran Bila?” Tuan Harla dan Bunda Erina menunggu Bila melanjutkan kalimatnya.
“Kalau nanti Bila udah ambil alih perusahaan Ayah, dan Bila sukses besar, Bila mau bangun sekolah Bahasa Inggris. Bila mau anak-anak di sana pintar Bahasa Inggris. Boleh, kan?” tanya Bila.
Kedua orang tuanya tersenyum simpul mendengar cita-cita mulia anaknya itu. “Tentu saja boleh. Malah Bunda senang banget kamu punya cita-cita seperti itu. Luar biasa.”
Bila tersenyum lebar saat keinginannya dikabulkan oleh kedua orang tuanya. “Pokonya mulai sekarang, lakuin apa yang kamu mau. Bunda sama Ayah cuma harus mendukung putri Bunda ini."”Bunda Erina mengelus surai putrinya.
“Ehh putri Ayah juga ya.” Setelah berebut Bila, mereka akhirnya tertawa lebar. Kebahagiaan yang diinginkan Bila sejak dulu akhirnyaa terkabul
“Arrghh,” erang Jeff sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit luar biasa. Bahkan dia juga merasa pusing.
Efek alkohol semalam membuatnya menjadi seperti ini. Entah pukul berapa dia pulang semalam karena dia mabuk berat, dia sama sekali tak mengingat apapun.
Jeff mencari keberadaan ponselnya. Jam menunjukan pukul setengah enam, itu berarti masih ada waktu untuknya bersiap-siap.
“Sialan! Kenapa sangat sakit?” umpatnya. Dia memakai sandal rumahnya dan segera menuju ke kamar mandi.
Tak memerlukan waktu lama bagi Jeff untuk membersihkan badannya. Tujuannya hanya satu saat ini. Pergi ke sekolah dan menemui Raveno. Dia sangat penasaran dengan apa maksud kedatangannya ke rumah Bila.
“Oke, siap.” Jeff mengambil kunci mobilnya sebelum kemudian dia pergi ke sekolah. Dia tak peduli bahkan jika hari masih pagi.
Yang dia harus lakukan hari ini adalah menemui Raveno.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama hingga Jeff tiba di sekolahnya. Suasana masih sepi mengingat ini baru saja pukul tujuh. Hanya ada beberapa siswa yang sudah datang. Mungkin mereka piket hari ini.
Jeff keluar dari mobilnya. Dia melihat ke arah parkiran untuk memastikan apa motor Raveno ada di sana atau tidak.
“Masih terlalu pagi rupanya,” desisnya saat dirasa Raveno belum datang ke sana.
Baru saja membalikan badannya, suara motor memekakan indera pendengaran Jeff. Spontan, Jeff berbalik untuk melihat siapa yang datang.
Rupanya saat ini semesta sedang berpihak padanya. Raveno datang deengan motor kesayangannya dan jangan lupakan helm yang digunakan untuk melindungi kepalanya.
Pria tampan itu memarkirkan motornya. Sementara Jeff masih menunggu di sana. Raveno datang ke arahnya.
“Raveno bisa ikut ke ruangan saya sebentar?” tanya Jeff lebih pada perintah sebenarnya.
Raveno mengangguk. Sebenarnya dia mulai sedikit curiga pada gurunya itu. Dia yakin Jeff akan bertanya tentang Bila karena jika tentang pelajaran, biasanya Jeff akan berbicara di manapun.
Dengan terpaksa, Raveno mengikuti langkah kaki Jeff hingga mereka tiba di ruangan Jeff.
“Duduk.” Jeff mempersilahkan Raveno duduk terlebih dulu.
Raveno duduk sebelum dia bertanya pada gurunya itu. “ Ada apa ya Pak?” tanya Raveno. Dia sebisa mungkin tak menyebutkan hal tentang Bila pada Jeff.
“Kamu kemarin ke rumah Bila, kan?” tanya Jeff. Dia mencoba menyelidikinyaa.
Raveno akhirnya menghela nafas dan bersikap lebih santai pada orang di hadapannya itu. “Memangnya kenapa?” tanyanya.
Jeff tak keberatan bahkan jika Raveno bersikap tak sopan padanya. Yang ingin dia tahu adalah ada hubungan apa pria itu dengan Bila.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanpa basa-basi Jeff langsung bicara ke inti permasalahannya.
“Sesuatu yang tak boleh anda tahu.” Jeff menghela nafas. “Itu berarti kamu udah tau semua tentang saya sama Bila, kan?”
__ADS_1
Raveno mengangguk. “Saya tahu semuanya.”