Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
77. Kedatangan Laras


__ADS_3

Empat bulan berlalu begitu saja. Perdebatan tentang Melinda yang harus tinggal di mana kini sudah usai. 


Melinda kalah, dia berakhir harus tinggal di apartemen Raveno. 


Ini sudah bulan keempat dirinya tinggal di sana. Pria itu menepati janjinya untuk datang sesekali ke sana. 


"Rav, makasih udah tampung Mel selama ini," ucap Melinda. 


Pria itu sekarang sedang berbaring di sofa dengan pahanya sebagai bantalan. Tangan Melinda juga tak henti mengelus rambut pria itu. 


Ya, sudah tiga bulan mereka resmi menjadi kekasih. 


"Apa sih pakai makasih segala," ucapnya. 


"Cuma mau bilang makasih juga salah. Sebenarnya kapan sih aku benar di mata kamu?" Melinda mengerucutkan bibirnya. 


Raveno bangkit dari tidurnya. Dia memeluk gadis itu dengan erat. 


"Ya udah makanya jangan bilang makasih-makasih segala. Lo cuma harus tinggal di sini dengan baik dan kalau ada apa-apa bilang sama gue," ucap Raveno yang kemudian diangguki oleh Melinda. 


Tepat satu bulan setelah Melinda tinggal di sana, dia mendapat berita jika ayahnya resmi menjadi pasien rumah sakit jiwa. 


"Gak berangkat kerja? Ini udah waktunya kayanya?" Melinda menjauhkan badannya dari Raveno dan mengingatkan pria itu. 


"Iya ini mau." Akhirnya Raveno kembali mengenakan jaketnya. 


Ya, sepulang sekolah tadi dia langsung menemui melinda di apartemen. Rasanya baru saja beberapa saat, tapi dia harus segera pergi ke tempat kerjanya. 


"Nanti gue tidur di sini," ucap Raveno. Semenjak Melinda tinggal di sana, Raveno memang lebih sering tidur di sana. 


Melinda mengangguk mengiyakannya. "Gue pergi." Raveno kembali berpamitan pada Melinda. Melinda mengantar pria itu hingga pintu karena Raveno menolak untuk diantar sampai bawah. 


"Makasih Tuhan, udah kirim orang baik. Orang yang selalu ada buat Mel, dan orang yang bisa jadi pengganti keluarga Mel."


Gadis itu kembali ke dalam setelah Raveno benar-benar pergi. 


**** 


Ini adalah bulan-bulan Rawan bagi Bila. Saat ini adalah bulannya. Sembilan bulan kandungan dan dia hanya perlu menunggu sampai dia kontraksi


"Yang, mau ke mana lagi sih?" tanya Bila. 


Belakangan ini Jeff sering pergi dari rumah jika dia sedang tak sekolah. Alasan dia pergi juga kadang tak masuk akal seperti sekarang. 


"Mau beli barang." Hanya alasan seperti itu yang selalu Bila dengar. 

__ADS_1


Sering juga dia merengek untuk ikut karena bosan terus berada di rumah. Tapi lagi-lagi larangan pria itu terlalu kuat. 


"Gak boleh. Ini bulannya loh, kalau kamu ikut keluar aku takut terjadi sesuatu," ucap Jeff. 


Begitulah Jeff selama beberapa minggu ini. Bila memang agak curiga dengan suaminya itu, tapi dia mencoba untuk menghalau rasa curiganya itu. 


Pada akhirnya Bila membiarkan suaminya itu pergi. 


"Ya udahlah mening cuci baju aja daripada bosan," ucapnya sambil beranjak ke toilet. 


Baju kotor sangat menumpuk karena Bi Inah tak datang beberapa hari ini. 


Bila memasukkan baju-baju kotor itu ke dalam mesin cuci, namun dia menemukan sesuatu di dalam saku suaminya. 


"Apa ini? Uang?" tanyanya. Dia mengeluakan barang itu. Ternyata bukan uang, tapi beberapa struk belanja. 


"Belanja ap aja dia sampai sepanjang ini?"


Bila membaca satu persatu barang yang dibeli suaminya. 


"Susu ibu hamil? Baju hamil?" Bila mengernyitkan keningnya. 


Dia memang sedang hamil, tapi dia tak pernah menerima barang-barang yang pernah dibeli Jeff ini. 


Bila terlihat sedikit berpikir. "Dia gak selingkuh kan?" desisnya. 


"Gak mungkin lah. Dulu dia udah janji gak bakal nyakitin lagi," ucapnya. 


"Nanti biar tanya langsung sama orangnya aja." 


Bila melanjutkan acara mencucinya walau dengan pikiran yang kacau. 


"Gak boleh banyak pikiran, ini udah bulan terakhir," lirihnya. Tak bisa dipungkiri jika dia terus memikirkan hal itu tapi mungkin itu hanya kekhawatirannya saja. 


Tok tok


Suara pintu diketuk yang membuat Bila mengalihkan pandangannya ke arah pintu. 


"Siapa yang datang? Tumben," ucapnya. Namun dia segera pergi ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya tanpa memberitahu terlebih dahulu. 


Bila membuka pintu itu dan di sana ada seorang wanita yang rasanya pernah Bila lihat. 


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Bila ragu. Dia merasa pernah melihat gadis itu, tapi di mana? 


Gadis itu tersenyum miring. "Cari suami lo, Jeff." Bila mengernyitkan dahinya mendengar hal itu. 

__ADS_1


"Dia lagi keluar beli barang," jawab Bila. 


"Beli susu ibu hamil? Atau beli baju hamil?" tanya gadis itu yang lagi-lagi membuat Bila mematung. 


Barang yang disebutkan gadis itu sama seperti barang yang dibeli Jeff, lebih tepatnya sama seperti yang ada di struk belanja Jeff. 


"Gak perlu kaget gitu. Apa yang ada di pikiran lo emang benar kok. Dia beliin itu buat gue." 


Kaki Bila terasa lemas setelah dia mendengar apa yang diucapkan gadis itu. 


Otaknya memproses, berusaha mengingat siapa gadis itu. Akhirnya setelah beberapa lama dia mengingat akhirnya dia mendapatkannya. 


Gadis itu adalah gadis yang pernah dia temui di depan pintu apartemen Jeff saat itu. 


"Apa hubungan kalian?" tanya Bila dingin. Dia sudah berharap cemas mendengar jawaban yang akan dikatakan gadis itu. 


"Ahh kenalin, gue Laras pacarnya Jeff." Runtuh sudah semua pertahanannya. Jika saja dia tidak berpegangan pada gagang pintu, mungkin saat ini tubuhnya sudah jatuh ke lantai. 


Bila berusaha terlihat kuat walau pada kenyataannya dia sangat lemah. 


"Udah berapa lama? Dan mau apa kamu ke sini?" 


Laras terlihat sedikit berpikir. "Emm mungkin sekitar enam bulan?" tebaknya. 


"Lihat, aku juga sedang mengandung." Laras dengan percaya diri memperlihatkan perutnya yang memang buncit walau belum sebesar Bila. 


"Oh iya, tujuanku ke sini karena dua bulan terakhir dia gak kasih aku nafkah padahal dia udah janji, jadi aku mau menagihnya." 


Laras berkata sambil memainkan kuku jarinya. 


Bila tak bisa lagi menjawab. Lagi pula apa yang harus dia katakan. 


Tak lama setelah mengatakan hal itu, Jeff datang dengan motor kesayangannya. 


Dia bisa melihat dari kejauhan jika Laras ada di sana. 


Jantungnya berdetak dengan cepat. Tak mungkin dia mengatakan pada Bila jika gadis itu dia nafkahi. 


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jeff saat dia sudah berada di sana. Lebih tepatnya dia mengambil tempat di samping Bila dan merangkul gadis itu. 


"Kamu gak kirim aku uang dua bulan ini. Gimana aku bisa hidupin anak kamu?" Perkataan Laras sukses membuat Jeff terbelalak. 


"Jaga mulutmu!" bentaknya. Sementata air mata Bila sudah mengalir ketika Laras mengatakan jika anak dalam kandungannya milik Jeff. 


"Kamu selesaikan dulu masalahmu sama dia. Aku akan ke dalam." Bila menghapus air matanya dengan kasar. 

__ADS_1


Namun dia masih bisa berucap dengan tenang pada suaminya. Jeff awalnya menahan Bila agar tetap di sana, tapi istrinya itu memaksa untuk pergi. 


__ADS_2