Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
24. Terabaikan


__ADS_3

Jeff termenung setelah pembicaraannya dengan Dokter tadi. Otaknya tengah memikirkan bagaimana cara mengatasi masalahnya yang satu ini.


Seperti kata peribahasa, tak akan ada asap jika tak ada api. Begitupun dengan permasalahannya yang satu ini. Hal ini tak akan terjadi jika Jeff tak melakukannya.


“Apa yang harus aku lakukan?” ucapnya sambil memegangi kepalanya. Dia memang mencintai Bila, tapi jika harus menjadi seorang Ayah saat ini dia benar-benar belum siap.


Setelah pemeriksaan Dokter tadi, Jeff benar-benar tak berani untuk menemui Bila. Dia perlu waktu untuk mengerti dengan semua keadaan dan menenangkan dirinya.


“Sebaiknya sekarang aku pulang dulu,” ucapnya. Jeff bangkit untuk pulang, biarlah dia akan menjelaskan segala sesuatunya nanti pada Bila jika dia sudah sedikit lebih tenang.


Jeff beranjak dari sana. Dia sungguh tak ingin menemui Bila untuk saat ini, karena pasti Bila akan memintanya untuk bertanggung jawab.


Sementara itu di kamar rawat Bila, gadis itu sudah sadar ditemani oleh Bi Inah dan Mang Parman. Lagi-lagi memang dua orang itu yang selalu setia berada di samping Bila dalam keadaan apapun.


“Bibi sama Mamang yang bawa Bila ke sini?” tanya Bila berbisik. Badannya terasa lemah bahkan hanya untuk berbicara.


“Iya Non.”


“Bunda sama Ayah gak ke sini?” Bila kembali bertanya. Padahal dia sangat berharap kedua orang tuanya ada di sana setidaknya ketika Bila sedang sakit.


“Tuan dan Nyonya masih sibuk di kantor. Tapi nanti juga ke sini.” Bila memalingkan mukanya. Dia tahu kalimat terakhir yang dikatakan Bi Inah hanya kalimat penenang bagi Bila.


“Jeff ke sini?” Tak apa jika kedua orang tuanya tak datang. Setidaknya Jeff pasti datang bukan?


“Tadi Den Jeff ada di sini, Non.”


“Tadi?” tanya Bila karena merasa ada yang janggal dengan ucapan Bi Inah.


“Iya tadi. Sekarang dia pergi ndak tau ke mana,” jawab Bi Inah. Senyum yang tadinya terukir di wajah Bila kini menghilang begitu saja.


Dia kembali merenggut, kembali lagi hanya ada dua orang ini yang setia menemaninya dikala apapun.

__ADS_1


“Terus, Bila kenapa Bi?” Bila mulai penasaran dengan kondisinya. Dia pasti hanya sakit biasa, itulah yang ada di pikirannya saat ini.


“Non Bila hamil.” Ucapan Bi Inah berhasil membuat Bila mematung. Jangankan Bila, Bi Inah yang tadi mendengarnya dari Dokter pun sangat terkejut.


“H-hamil?” tanya Bila memastikan jika pendengarannya tak salah.


Bi Inah dan Mang Parman mengangguk lagi. “Bunda sama Ayah udah tau?” Inilah yang Bila takutkan. Kedua orang yang ada di sana menggeleng menandakan Tuan dan Nyonya Harla belum mengetahui apapun tentang ini.


“Bibi sama Mamang jangan dulu kasih tau Bunda dan Ayah, ya. Nanti Bila aja yang kasih tau.” Ucapan Bila diangguki oleh Bi Inah dan Mang Parman.


“Kalian boleh keluar dulu? Bila mau sendiri.” Akhirnya Bi Inah dan Mang Parman keluar dari sana menyisakan Bila dengan segala pikirannya.


“Pak Jeff gak pergi karena dia tau aku hamil, kan?” Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Bila sebenarnya hanya sebagai penenang saja bagi Bila, karena sejatinya Jeff pergi pasti karena mengetahui kehamilan Bila.


Air mata yang sedari tadi Bila tahan akhirnya keluar juga. Bila tak bisa lagi menahan untuk tak menangis.


“Kenapa?” tanyanya. Bila menahan agar suara tangisnya tak keluar. Dia masih ingat jika saat ini dia sedang berada di rumah sakit, jadi dia tak bisa menangis seenaknya.


Dapat! Bila mendapatkan ponselnya. Dia segera mencari kontak Jeff. Hanya ini satu-satunya cara yang dia bisa untuk menghubungi Jeff.


Satu kali, dua kali bahkan tiga kali panggilan Bila diabaikan. Jeff tak menerima ataupun menolaknya.


Bila menyerah. Tangannya terulur untuk mengusap perutnya yang masih rata. Ada nyawa lain dalam tubuhnya yang harus dia jaga.


“Aku akan menemuinya besok di sekolah,” lirihnya.


Tak lama, Bunda dan Ayah Bila datang dengan tergesa untuk melihat keadaan putri mereka.


“Bila, kamu gak apa-apa?” tanya Bundanya. Bila tersenyum dan menggelengkan kepalanya, memperlihatkan pada kedua orang tuanya bahwa dia baik-baik saja meskipun wajahnya yang pucat tak bisa berbohong.


“Apa kata dokter?” Kali ini Ayah Bila yang bertanya.

__ADS_1


“Bila cuma kelelahan, Yah. Nanti juga sembuh.” Entah karena Bila yang memang jarang berbohong hingga kedua orang tuanya memercayai perkataan Bila atau memang kedua orang tuanya tak peduli dengan keadaan Bila.


“Kapan kamu boleh pulang?”


“Sekarang udah boleh. Bila nunggu kalian yang jemput,” jawab Bila. Kenyataan sangat jauh dari harapan Bila.


“Maaf Bil, tapi Bunda sama Ayah gak bisa pulang. Masih ada kerjaan yang belum selesai. Mungkin kita bakal pulang besok malam.” Senyum di wajah Bila hilang begitu saja.


Bila hanya diam tak berniat menjawab kedua orang tuanya. “Kalau begitu kita pergi lagi ya. Kamu pulang sama Bi Inah dan Mang Parman aja.” Bunda dan Ayah Bila mengecup kening Bila bergantian.


Bila tak bahagia hanya dengan sebuah kecupan. Dia perlu sebuah perhatian. Setelah kedua orang tuanya pergi, air mata Bila kembali mengalir.


Bi Inah masuk menggantikan Bundanya. “Kita pulang sekarang Non?” Bila mengangguk. Lagi pula tak ada lagi yang harus dia tunggu, tak ada lagi orang yang peduli padanya selain dua orang yang kini ada di hadapannya.


****


Pagi ini kondisi Bila sudah membaik. Setelah sarapan, dia semangat untuk pergi ke sekolah. Bukan untuk belajar, tapi untuk menanyakan kepastian pada Jeff kenapa kemarin dia tak menemui Bila.


Bila telah sampai di gerbang sekolah. Tujuan utamanya bukan kelasnya tapi ruangan Jeff. Dia bahkan sudah tak peduli lagi jika teman-temannya melihatnya memasuki ruangan Jeff. Yang dia inginkan saat ini adalah bertemu dengan Jeff untuk meminta penjelasan.


Kosong. Itulah kata yang paling pas untuk mendefinisikan ruangan Jeff saat ini. Tak ada seorangpun di sana padahal ini sudah sangat siang.


Bila mengeluarkan ponselnya dan kembali menelpon Jeff. Masih sama, pria itu mengabaikan panggilannya.


“Kamu mau pergi setelah berbuat seperti ini?” lirih Bila. Bila mengeluarkan sebuah foto USG dari dalam tasnya. Dia simpan di tumpukan dokumen di atas meja Jeff sebelum kemudian dia keluar dari sana.


“Aku akan pergi ke apartemennya nanti,” ucapnya. Untuk sekarang dia pergi ke kelasnya mengikuti pelajaran seperti biasa walaupun dia bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


“Bil, lo kenapa muntah mulu sih?” tanya Stevani. Ya, Bila ditemani Stevani ke toilet. Bila menggeleng, dia tak mungkin mengatakan apa yang terjadi padanya pada Stevani.


“Masuk angin mungkin. Kemarin main hujan-hujanan.” Bila hanya menjawab random karena memang hanya itu yang kini ada dalam otaknya.

__ADS_1


“Jangan-jangan...?”


__ADS_2