
Tiga tahun lalu ketika Melinda mengatakan jika dia ingin berbicara dengan Laras, Raveno benaar-benar mengantarnya. Saat itu Melinda tak hanya berbicara berdua dengan Laras, tapi bertiga dengan Raveno.
Pria itu diam di sana walau hanya menyimak percakapan mereka. Tentang hal apa saja yang mereka bicarakan, kita lihat tiga tahun lalu ...
“Lo yakin, kakak lo bakal datang ke sini?” tanya Raveno. Pasalnya Raveno melihat kakak Melinda sepertinya orang yang acuh. Jadi dia berpikir Laras tak akan memenuhi undangan Melinda untuk datang ke sana.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah caffe yang cukup sepi. Mungkin karena malam ini hujan, jadi tak banyak orang yang datang ke sana. Tapi hal itu justru menguntungkan bagi Melinda.
Tak lama, seorang gadis datang dengan pakaian musim dinginya. Dia terlihat sangat anggun dengan pakaian itu tapi wajahnya sangat menyiratkan jika gadis itu khawatir.
Tatapan matanya terlihat lega ketika dia berhasil menemukan orang yang dia cari. Melinda, dia menemukan adiknya.
“Lo gak apa-apa?” tanya wanita itu saat baru saja tiba di hadapan Melinda. Sementara itu Raveno memandang terkejut pada Laras yang terlihat sangat khawatir.
“Mel gak apa-apa. Duduk dulu,” ucap Melinda berusaha menenangkan kakaknya. “Lo gak lagi bohongin gue kan?” tanya Laras yang melihat adiknya seperti baik-baik saja.
Melinda menggeleng. “Enggak, Mel beneran sakit kok,” jawab Melinda. Apa yang dikatakan gadis itu memang tak sepenuhnya sebuah kebohongan karena beberapa hari lalu dia benar-benar sakit walau hanya penyakitnya yang kambuh.
“Tapi sekarang lo udah baik-baik aja? Gimana kata dokter?” tanya Laras beruntun. Dia tak bisa mengontrol kekhawatiran pada adiknya.
“Kak, Mel udah baik-baik aja. Selain Mel mau bilang kalau beberapa hari lalu Mel menjalani pengobatan, Mel juga mau ngomong sesuatu sama Kakak,” ucap Melinda.
Laras sedikit bingung dengan apa yang dikatakan adiknya. “Ngomong apa lagi?” tanya Laras. “Bagi gue selama lo masih baik-baik aja, gak ada yang perlu diomongin lagi,” lanjutnya.
“Kak, Mel tau sekarang apa hubungan Kakak sama Pak Jeff. Mel mohon, berhenti ganggu rumah tangga orang lain,” ucap Melinda.
__ADS_1
“Kalau lo minta gue ke sini cuma mau bicarain ini, gue gak ada waktu.” Laras bangkit dari duduknya hendak pergi dari sana.
“Tunggu bentar, Kak.” Bukan Melinda melainkan Raveno yang menarik Laras agar tetap duduk di tempatnya. Raveno benar-benar memegangi gadis itu agar tak pergi dulu dari sana.
“Kalian apa-apan sih?” kesal Laras saat dia merasa seperti disekap saat ini. “Maafin Mel, Kak. Tapi Mel benar-benar harus ngomong sama Kakak,” jawab Melinda.
“Mel mohon berhenti lakuin semua ini. Berhenti nipu orang cuma buat dapetin uang. Berhenti kerja di tempat yang kaya gitu, dan tolong berhenti recokin kehidupan pernikahan Pak Jeff dan Bila,” jelas Melinda. Wajahnya sangat berharap jika Kakaknya akan menuruti semua kemauannya.
Namun, Laras malah berdecak dan terkekeh seolah meremehkan ucapan adiknya itu. “Lo gak tau apapun. Lo cuma anak kecil yang bisanya iya iya aja. Jadi berenti ikut campur urusan gue. Lo cuma harus jalanin hidup lo, bahagia sama pilihan lo. Udah itu aja,” jawab Laras.
“Kakak pikir Mel bakal bahagia dengan punya Kakak kaya Kakak? Seenggaknya jangan cari masalah, Kak. Maaf karena Mel bilang gini, tapi apa yang Mel bilang itu benar. Orang-orang kenal Mel adalah adik dari seorang penipu, adik dari seorang wanita yang gak benar. Dan sekarang Kakak minta Mel buat bahagia?” tanya Melinda dengan air mata yang sudah berlinang.
Apa yang dia katakan memang benar. Banyak sekali rumor yang beredar tentang kakaknya itu. Itulah kenapa akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara dan bertemu dengan kakaknya.
“Maksud lo?” tanya Laras tak mengerti dengan apa yang dikatakan adiknya.
“Ya, rumor itu ada. Entah dari mana asalnya. Awalnya Mel juga gak akan lagi ikut campur tentang kehidupan Kakak, tapi kalau itu ngerugiin Mel, Mel gak mau. Jadi tolong, demi Mel, hidup yang benar. Cari uang dengan cara yang benar dan jangan mengganggu kehidupan pernikahan orang lagi.” Sekali lagi Melinda memperingatkan kakaknya.
Setidaknya dari sanalah Laras mulai mengerti dengan kehidupan. Gadis itu mulai bekerja dengan benar seperti yang diminta oleh adiknya.
Gadis itu juga datang ke rumah Jeff dan meminta maaf pada Jeff dan Bila atas semua hal yang pernah dia perbuat.
Saat ini dia bekerja di sebuah restoran cepat saji. Walaupun gajinya tak sebesar uang yang dia dapatkan dari hasil menipu, tapi rasaya agak beda..
Dia merasa hidupnya lebih tenang dari biasanya. “Ingin memesan apa?” tanya Laras pada seorang pria yang baru saja datang ke sana hari ini.
__ADS_1
Sebelumnya pria itu selalu datang ke sana di jam yang sama, tapi hari ini dia datang sedikit lebih telat dibanding biasanya.
“Seperti biasa ya,” jawab pria itu. Seolah telah hapal dengan apa yang diinginkan pria itu, Laras mengangguk dan segera mencatat apa yang dipesan pria itu.
“Baik, mohon ditunggu.” Pria itu duduk di kursi yang telah disediakan sambil menunggu makanannya.
“Tuan, pesanannya.” Merasa dipanggil, pria itu bangkit dari duduknya. “Bisa kita bicara sebentar?” Setelah sekian lama pria itu memperhatikan Laras, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.
“Ah maaf, tapi saya sedang bekerja,” jawab Laras agak canggung. “Kalau begitu saya tunggu di sini sampai kamu selesai.”
Walau sedikit ragu, tapi akhirnya Laras mengangguk. Dia juga tak terlalu khawatir pria itu akan melakukan apa-apa padanya. Dia sering melihat pria itu di sekitar sini dan hampir setiap hari datang ke tempat kerjanya.
Benar saja, pria itu menunggu hinggal Laras selesai bekerja. Gadis itu membuka apron yang dia kenakan dan mengambil tasnya.
Dia lalu menghampiri pria itu perlahan. “Tuan,” panggil Laras agak ragu karena sepertinya pria itu sedang mengantuk.
Tentu saja, ini sudah hampir tengah malam dan pria itu menunggunya begitu lama. “Ah kamu sudah selesai?” tanya pria itu agak terkejut dengan panggilan Laras.
“Maaf aku mengagetkanmu. Tapi bisa kita bicara di luar? Tempat ini udah mau tutup,” jelas Laras.
Pria itu melihat sekitarnya yang memang sudah sepi tak ada siapapun di sana. Hanya menyisakan mereka berdua dan seorang penjaga keamanan yang akan mengunci pintu.
“Ah iya. Kita bicara di luar saja.” Pria itu segera membereskan barang-barangnya dan mereka segera pergi keluar.
“Apa yang ingin Anda bicarakan?” tanya Laras agak formal. “Maaf terlalu tiba-tiba. Tapi, bisakah aku mengenalmu lebih dalam lagi?” Jantung Laras berdegup dengan kencang saat mendengar hal itu.
__ADS_1