Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
40. Pendusta


__ADS_3

“Keluar kamu dari sini!” bentak Tuan Harla dengan tangan yang menunjuk ke arah pintu keluar.


“Jeff mohon, Yah. Maafkan Jeff kali ini saja,” mohonnya. Bahkan saat ini dia sudah bersimpuh di hadapan Tuan Harla.


Bunda Erina memang merasa sakit hati dengan Jeff. Tapi jauh di lubuk hatinya tersirat rasa iba pada pria itu.


“Yah, tenang.” Bunda Erina berusaha untuk menenangkan suaminya.


Kemudian dia beralih pada Jeff. “Sekarang pulang dulu ya. Nanti kembali ke sini kalau Ayah sudah tenang.”


Sebenarnya Jeff merasa enggan. Tapi tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pergi dari sana untuk saat ini.


Jeff akhirnya mengikuti ucapan Bundanya. Dia beranjak dari sana dan meninggalkan rumah itu dengan tubuhnya yang lesu.


Cara apa lagi yang harus dia lakukan agar kedua orang tua Bila mau memaafkannya?


“Kayanya gue mesti bicara sama Raveno,” lirihnya ketika dia sudah berada di dalam mobil.


Meski dia sudah menahan diri agar tidak terlalu penasaran dengan pria itu, tapi tetap saja dia merasa hal itu ada kaitannya dengan Bila.


Karena Jeff yang tak tahu di mana rumah Raveno, dia memutuskan untuk berbicara dengan Raveno di sekolah saja.


Malam ini, malam ini dia harus pergi ke club. Dia menginginkan ketenangan. Kepalanya sudah hampir pecah karena terus menerus memikirkan hal ini.


Namun, karena hari masih siang, Jeff memutuskan untuk pulang ke apartemennya terlebih dulu.


Dia terpaku saat sudah tiba di depan pintu apartemennya. Sosok gadis yang sudah lama tak dia jumpai. Sosok yang tentu saja selama ini Jeff hindari kini ada di hadapannya.


“Laras,” ucapnya. Matanya tertuju pada gadis itu.


“Jeff, kamu datang. Aku sudah menunggumu sangat lama. Awalnya aku akan langsung masuk, tapi sepertinya kau mengubah sandinya.” Laras tersenyum miris.


Sudah beberapa kali Jeff menolaknya. Tapi bagaimanapun juga, Laras sangat mencintai Jeff. Itulah kenapa dia selalu menghampiri pria itu tak peduli berapa kali dirinya ditolak.


“Mau apa kamu di sini?” tanya Jeff sinis. Demi Tuhan, sejak dulu dia berpacaran dengan Laras, dia tak pernah sekalipun mencintai gadis itu.


Dia memacarinya hanya karena nafsunya dan Laras selalu memberikan apapun yang dia inginkan.

__ADS_1


Tapi semenjak mengenal Bila, akhirnya Jeff tahu apa itu cinta dan bisa mencintai Bila dengan tulus walaupun dia melakukan kesalahan setelahnya.


“Aku rindu kamu. Udah lama kita gak ketemu. Kamu juga udah jarang ke club,” Jawabnya.


“Pergi dari sini. Aku sudah tidak menginginkanmu lagi,” usir Jeff. Dia tak ingin dalam keadaan yang sangat rumin ini malah terjadi kesalah pahaman.


“Aku nggak mau. Lagipulan ada yang mau aku omongin sama kamu,” timpal gadis itu. Memang dia membawa sebuah kota kecil persegi panjang di tangannya.


Karena tak ingin hal ini berlarut-larut, akhirnya Jeff menyerah.


“Oke, sepuluh menit.” Setelah berucap demikian, Jeff melangkah memasuki rumahnya yang diikuti oleh Laras dengan senyum liciknya.


“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Jeff tanpa basa basi.


Tanpa menjawab, Laras memberikan kotak yang dia pegang itu. Senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya.


Sementara itu Jeff menerima kotak pemberian Laras dengan bingung. Bagaimana tidak? Gadis itu mengatakan ada yang perlu dibicarakan, tapi setelah dia mengajaknya masuk, gadis itu malah memberikan sebuah kotak kecil padanya.


“Apa ini?” Jeff enggan membuka kotak itu karena ada sedikit rasa takut di hatinya.


“Buka dong,” girang Laras. Dia berusaha sangat keras untuk mendapatkan hal itu.


“Apa ini?” tangan Jeff mengangkat benda kecil yang ada di dalam kotak itu.


Sebuah test pack. “Apa maksudnya? Kenapa dikasih padaku?” tanya Jeff bingung. Sebenarnya dia berusaha menyangkal pikiran buruknya.


“Tak mungkin, kan?” Jeff mencoba bertanya pada sang pemilik. Namun, dunianya seakan hancur ketika laras menganggukan kepalanya dengan senyum merekah.


“Iya, bentar lagi kamu jadi Ayah.” Tatapan Jeff kosong. Pikirannya berkecamuk, semesta mempermainkannya dengan sangat luar biasa.


“Kamu yakin dia anakku?” tanya Jeff ragu. Pasalnya dia sangat mengingat, dia tak pernah mengeluarkannya di dalam ketika mereka bercinta.


“Kamu meragukan aku?” Air mata gadis itu menggenang di pelupuk matanya. Ingin sekali dia menangis meraung karena Jeff meragukannya.


Jeff segera menyimpan benda itu. Dia menghampiri Laras dan segera memeluk gadis itu. Sangat kurang ajar, bukan?


Kenapa dia tak melakukan hal yang sama pada Bila? Kenapa dia seperti ini hanya pada Laras saja?

__ADS_1


“Maaf. Oke, aku akan mengakuinya. Tapi aku punya satu permintaan,” ujarnya sambil melepaskan pelukannya.


Laras menatap lekat netra Jeff untuk mendengarkan apa yang selanjutnya akan dikatakan pria itu.


“Aku akan menafkahimu dan anakmu. Tapi aku tidak akan menikahimu,” ucap Jeff merasa menyesal.


Yes masuk. Itulah kiranya yang ada dalam hati Laras. “Tapi kenapa?” dia mencoba bertanya hanya agar Jeff tak merasa curiga.


“Maaf, tapi aku udah gak cinta kamu. Aaku punya orang yang sangat ku cintai.” Akhirnya Jeff mengatakan semuanya.


Laras tak menjawab, dia hanya terdiam dengan raut wajah sedinya.


“Tapi seperti yang aku katakan tadi, aku akan menafkahimu.” Pembicaraan mereka hanya sampai di sana karena Laras akhirnya menyetujui apa yang dikatakan Jeff.


“Sekarang kamu pulang.” Tanpa protes lagi, akhirnya Laras pergi dari sana dengan senyum yang mengembang.


“Seperti yang aku harapkan,” desisnya bangga. “Kalau dia nggak tinggal sama aku, dia gak bakal tahu kalau aku gak hamil,” ucapnya bangga.


Ya, semua yang dilakukan oleh Laras adalah sebuah sandiwara. Dia sama sekali tak hamil karena dia selalu meminum pil pencegah kehamilan setelah dia berhubungan intim dengan siapapun itu.


“Setelah hartanya habis, yang perlu aku lakukan hanya pergi meninggalkannya,” lanjutnya. Dia pergi dari sana dengan sebuah kemenangan yang sangat mutlak.


Sebenarnya di luar sana dia juga memiliki seorang kekasih yang lebih dia cintai daripada Jeff. Karena cintanya pula dia berani melakukan hal ini.


Cintanya untuk pria itu terlalu besar hingga dia memberikan semunya untuk pria itu. Namun, gajinya tak cukup jika harus dia gunakan untuk menafkahi kekasihnya.


Jadi, dia melakukan hal ini agar dia tak perlu bekerja terlalu keras untuk mendapatkan uang yang banyak.


“Sayang, aku akan ke rumah. Aku membawa kabar gembira,” ucapnya setelah panggilan telpon tersambung.


Kebetulan sekali rumah kekasihnya itu tak jauh dari sana. “Hmm terserah!” Seperti itulah respon yang selalu diberikan oleh kekasihnya.


Namun, Laras berusaha untuk menahannya karena kembali lagi, dia sangat mencintai pria itu.


“Oke, tunggu aku. Aku segera ke sana.” Laras mematikan sambungan telpon. Kemudian dia menancap gas menuju rumah kekasihnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2