
Setelah mengunci pintu, Raveno benar-benar membawa Melinda ke atas kasurnya. Dia memeluk gadis itu dengan erat hingga menjadikannya seperti guling.
“Rav, mau apa sih? Jangan macam-macam ya!!” Melinda memperingatkan Raveno agar tidak berbuat yang tidak-tidak.
“Enggak, cuma mau satu macam kok,” jawab Raveno sambil mengeratkan pelukannya. “Jangan kemana-mana, gue mau tidur.” Setelah mengucapkan itu, Raveno benar-benar tak mengatakan apapun lagi.
Pria itu benar-benar terlelap ditandai dengan deru nafasnya yang mulai beraturan. Pelukannya juga semakin melonggar menandakan jika pria itu sudah masuk ke alam mimpinya.
Sementara Melinda masih terjaga. Dia mengelus pelan punggung kekasihnya dan berusaha tak bergerak dengan keras. Dia tak mau membangungkan kekasihnya itu.
“Makasih ya buat semuanya,” bisik Melinda. Dia menunggu Raveno sendiri yang melepaskan pelukannya.
Dia tak boleh tidur, dia harus memasak untuk makanan mereka nanti. Akan boros juga jika mereka selalu membeli makanan yang sudah jadi.
Membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam sampai Raveno benar-benar melepaskan pelukannya. Melinda menjauh dari Raveno perlahan dan bangkit dari posisinya.
Setelah berhasil bangun dengan tak membangunkan pria itu, kini Melinda harus membuka kunci kamar Raveno dengan pelan.
“Adu, kenapa pakai dikuci segala sih,” kesalnya dengan suara yang pelan karena dia tak ingin membangunkan Raveno dengan suaranya.
Dengan segala kesabaran yang dia gunakan, akhirnya kuncinya terbuka dan Melinda berhasil keluar dari sana.
Melinda membenarkan kucir rambutnya sebelum dia memasak. “Ayo lihat, kita masak apa sekarang?” Melinda membuak lemari pendingin dan melihat bahan masakan apa yang ada di sana.
“Ayam?” tanyanya. Akhirnya dia membawa ayam itu dan mencucinya. Menu sore hari ini adalah ayam balado.
Melinda sibuk dengan peralatan dapurnya hingga kegiatannya selesai. “Mandi dulu deh,” ujarnya.
Akhirnya Melinda masuk ke kamarnya dan memutuskan untuk membersihkan badannya yang dia yakini sudah bau berbagai macam bumbu dapur.
Melinda keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. “Astaga!!” kagetnya saat dia melihat sosok Raveno sedang duduk di atas tempat tidurnya.
“Kamu ini ngagetin aja!” kesal Melinda. Habisnya pria itu masuk tanpa pemberitahuan. “Gue udah panggil lo dari tadi, tapi lo gak nyaut,” jawab Raveno mencoba membela diri.
__ADS_1
“Ya iya lah, kan Mel lagi mandi,” ujarnya. Raveno tak lagi menjawab. “Sana mandi, nanti langsung makan,” perintah Melinda.
Raveno malah diam di tempatnya tak bergerak. Pria itu menatap Melinda dengan dalam. “Kenapa keluar kamar gak bilang-bilang?” tanya Raveno tiba-tiba.
Melinda menghela nafas, kadang dia merasa bingung dengan pria ini. Raveno pintar, tapi di saat-saat tertentu kenapa otaknya harus terganggu?
“Kan tadi kamu tidur,” jawab Melinda mengatakan yang sebenarnya. “Iya gue tau. Tapi kan tadi gue bilang jangan kemana-mana. Kenapa lo malah kabur?” kesalnya.
“Aku harus masak Rav. Kamu mau makan apa kalau aku gak masak? Boros tau beli di luar mulu,” jawab Melinda.
Raveno menghela nafas tak bisa menjawab Melinda lagi. “Udah ah, sana mandi.” Akhirnya Raveno pergi dari sana untuk membersihkan badannya.
****
“Kenapa aku bisa gak tau ya kalau Melinda itu adiknya Laras?” Jeff bertanya-tanya setelah gadis itu datang ke rumahnya dan menyampaikan permintaan maaf atas nama kakaknya.
“Ya mana aku tau.” Bila tak bisa menjawab karena dia juga baru tau sekarang.
“Jadi, buat kedepannya kita cuma harus abaikan Laras kan?” tanya Jeff yang diangguki oleh Bila.
“Aku juga gak yakin, tapi kayanya waktu itu deh. Waktu itu Laras nyamperin aku sekolah, mungkin Melinda tau dari sana.”
Bila mengangguk mengerti. Semenjak kejadian Jeff sudah membongkar kebohongan Laras dan Jeff mengalami kecelakaan, Bila sudah tak lagi mempermasalahkan Laras sebenarnya.
Walau beberapa kali gadis itu datang ke rumahnya dan meminta Jeff memaafkannya, Bila hanya akan bicara baik-baik dan meminta gadis itu untuk menyerah.
Namun mungkin mulai dari sekarang, jika gadis itu datang lagi ke sana, mereka hanya perlu mengabaikannya. Itulah pesan yang dikatakan oleh Melinda.
“Ya sudah, kalau gitu aku mau masak dulu ya.” Bila berpamitan pada suaminya. “Tolong jaga Azka benta.” Jeff mengambil alih anaknya dari pangkuan Bila.
“Kenapa kita gak sewa pembantu aja sih? Kalau kamu gak mau Azka yang diurusin, biar mereka ngurusin keperluan rumah tangga,” saran Jeff. “Aku gak mau kamu kecapean,” lanjutnya.
“Aku masih bisa kok, nanti kalau aku udah cape banget, pasti aku minta Bi Inah datang ke sini sekali-sekali.”
__ADS_1
Pada akhirnya Jeff juga tidak bisa mengatakan apapun lagi jika istrinya sudah memutuskan seperti itu.
Bila pergi ke dapur sementara Jeff pergi ke kamar mereka untuk menidurkan Azka. Anak itu sangat baik, jarang sekali dia rewel.
Jika mengantuk, dia hanya akan tertidur tanpa menangis terlebih dulu. “Anak Ayah baik banget sih.” Jeff mencium pipi Azka beberapa kali hingga Azka menggeliat dalam tidurnya.
“Bobo lagi ya, Ayah temenin di sini,” ucap Jeff. Dia menyimpan Azka di kotak bayi yang tak jauh dari ranjangnya, sementara dia memperhatikan anak itu dengan seksama hingga Azka kembali tertidur.
Setelah memastikan putranya tertidur, Jeff turun ke dapur. Dia ingin menemani istrinya yang sedang memasak.
****
“Eh udah ganteng,” goda Melinda saat Raveno sudah kembali ke kamarnya dengan penampilan segarnya.
Tapi pria itu tak menjawab, dia hanya bergumam dan kembali merebahkan badannya di ranjang Melinda.
“Lah, kok malah tidur lagi sih?” tanya Melinda yang sedang mengeringkan rambutnya. “Jangan tidur lagi, ayo makan!” Ajak Melinda.
Gadis itu mematikan hairdryer sebelum kemudian menarik tangan Raveno agar bangun dari posisi tidurnya.
“Bentar, gue masih ngantuk,” ucap Raveno. “Udah mandi loh, masa masih ngantuk sih?” Melinda menyerah menarik pria itu. Dia malah duduk di samping pria itu dan mengelus kepala Raveno.
“Bentar aja,” ucap Raveno yang kemudian diangguki oleh Melinda. Melinda hendak beranjak dari sana untuk menyiapkan makanan mereka, tapi tangannya ditarik oleh Raveno.
“Mau ke mana?” tanya pria itu seolah keberatan jika Melinda pergi dari sana. “Itu kan mau siapin makanannya,” jawab Melinda.
“Nanti aja.” Raveno sangat manja jika mereka sedang berdua seperti ini. melinda juga tak menyangka jika pria itu memiliki sisi yang seperti ini.
Akhirnya Melinda duduk di samping Raveno yang sedang memejamkan matanya beberapa saat. “Udah, ayo makan. Mel lapar.” Akhirnya Melinda kembali menarik tangan Raveno dan kali ini terkesan memaksa.
Raveno sedikit mengeluh walau pada akhirnya dia mengikuti apa yang diinginkan Melinda. Mereka berjalan beriringan menuju dapur.
Makanan sudah siap di sana. Melinda mengambil piring untuk mereka makan sebelum kemudian mereka duduk di kursi makan.
__ADS_1
Melinda mengambilkan makanan untuk Raveno setelahnya dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan. Mungkin karena Raveno yang masih mengantuk dan Melinda yang malas memulai pembicaraan.