
Segala permohonan yang dilontarkan Jeff sepertinya tak dapat menembus benteng pertahan Bila.
Terbukti saat Jeff dengan susah payah memohon maaf pada Bila, gadis itu memilih meninggalkan Jeff di ruang tamu sendiri.
Jeff sendiri tak menahan Bila untuk pergi. Dia takut Bila akan semakin marah jika dia menahan gadis itu.
"Harus dengan cara apa lagi aku minta maaf, Bil," lirih Jeff.
Wajahnya yang kedinginan dan juga tangisan membuatnya terlihat sangat merah.
Setelah kepergian Bila, Tuan Harla dan Bunda Erina datang menghampiri pria itu.
"Pulanglah, Bila mungkin belum bisa nerima kamu," ucap Bunda Erina sambil mengelus lengan Jeff yang dingin.
Jeff menoleh pada wanita paruh baya itu. Wajahnya memelas. "Bun, tolong bantu Jeff buat dapetin maaf Bila." Lagi-lagi air matanya menetes.
Semua ini terasa sangat menyakitkan baginya.
"Bunda nanti ngomong sama Bila."
"Bunda udah maafin Jeff?" Jeff sedikir aneh karena Bunda Bila sedikit bersikap lembut padanya.
"Gimanapun anak yang ada di dalam kandungan Bila juga anak kamu. Gak mungkin Bunda akan terus larang kamu buat ketemu Bila. Walaupun rasa sakit itu masih ada," jelas Bunda Erina.
Dia berkata seperti itu setelah berdiskusi dengan suaminya.
"Anak? Jadi Bila nggak gugurin kandungannya?" Jeff jelas-jelas terkejut dengan kenyataan itu.
"Kamu berharap dia gugurin kandungannya." Ayah Bila kembali tersulut ketika mendengar pertanyaan Jeff.
Jeff menggelengkan kepalanya. "Bukan gitu, Yah. Waktu Jeff ketemu Bila di Korea, Bila bilang udah gugurin kandungannya. Jadi itu bohong? Anak Jeff masih hidup?" tanya Jeff meminta kejelasan yang kemudian diangguki oleh Tuan Harla dan Bunda Erina.
Setelah mendengar kejelasan itu, Jeff kembali menanyakan tentang kesalahannya yang sudah dimaafkan atau belum.
"Ayah udah maafin Jeff?" Jeff kembali bertanya. "Ayah ikut kata Bunda. Tapi Ayah juga gak bisa maksa kalau Bila emang gak mau," ucap Ayahnya.
Jeff merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar hal itu. "Makasih Yah, Bun. Tapi boleh Jeff tanya sesuatu?"
Kedua orang tua Bila mengangguk. "Raveno. Waktu itu kenapa dia ke sini?" Jeff sudah sangat penasaran dengan hal ini sejak lama.
"Bukan apa-apa. Dia cuma bilang kalau Bila mau pulang asal gak mau ketemu kamu."
"Kenapa dia bisa tau?"
"Kataya waktu dia liburan ke Korea dia ketemu Bila."
__ADS_1
Ada sedikit rasa sakit ketika mendengar hal itu. Dia juga bertemu dengan Bila tapi Bila tidak mengatakan apapun.
Namun, Jeff tetap mengangguk. "Sekarang pulanglah. Kamu harus istirahat," pinta Bunda Erina.
Dia agak takut karena semalaman Jeff tidur di luar tanpa alas dan tanpa selimut.
Jeff mengangguk. "Kalau gitu, Jeff pamit Yah, Bun." Keduanya mengangguk sebelum Jeff benar-benar pergi dari sana.
Saat tibadi apartemennya, netranya menangkap sosok gadis yang sangat tak ingin dia temui.
Laras. "Ada apa?" tanya Jeff. Dia belum masuk karena memang Laras tepat berada di depan pintu apartemennya.
"Aku butuh uang buat cek kandungan," ucap Laras.
Jeff mengeluarkan dompet di saku belakangnya dan memberikan beberapa lembar uang.
"Makasih." Setelah Jeff memberikan uang itu, Laras pergi dari sana dengan raut bahagianya.
Sementaea Jeff tak menaruh curiga sedikitpun pada gadis itu. Dia segera memasuki apartemennya kemudian membersihkan badannya.
Biarlah dia akan bolos masuk sekolah hari ini. Dia butuh istirahat setelah semalaman berjuang.
****
"Dia uda pulang, Bun?" tanya Bila saat Bundanya memasuki kamarnya.
Bila termenung mendengar penuturan Bundanya. "Gak tau Bun. Sebenarnya Bila juga mau, tapi Bila terlalu takut," jelasnya.
"Bunda paham, ya udah, kamu bisa pelan-pelan terima dia. Mau gimanapun dia adalah ayah dari anak yang ada di perut kamu."
Bila mengangguk. Bila sangat tahu hal itu. Tapi biarkan hatinya siap dulu untuk menerima Jeff kembali.
Tak terasa hari semakin sore dan Bila sedang asik dengan tontonan di depannya. Apalagi makanan yang menemaninya, semuanya terasa sangat nikmat.
"Mau martabak," lirihnya. Entah mengapa dia sangat menginginkan makanan itu.
Tok tok
Pintu rumah diketuk membuat Bila mengalihkan atensinya ke sana.
"Siapa sih sore-sore gini kok bertamu," kesal Bila.
Dengan malas, Bila akhirnya beranjak dari duduknya.
Setelah pintu terbuka, Bila sangat terkejut melihat siapa yang ada di sana.
__ADS_1
"Ngapain kamu di sini?" tanya Bila spontan.
Jeff mengangkat bungkusan plastik yang dia bawa. Tiba-tiba aroma menggiurkan terekam oleh indera penciuman Bila.
Martabak. Bila sangat yakin makanan yang dibawa Jeff adalah martabak.
Sesaat Bila merasa tergoda dengan senyum yang ada di wajahnya. Tentu saja dia sangat bahagia karena makanan yang dia inginkan kini ada di hadapannya.
Tapi kemudian dia ingat siapa yang membawanya. Bila segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Gak mempan. Aku gak mau," ucap Bila ketus namun bukannya takut Jeff mala terkekeh.
Senyuma Bila beberapa saat lalu sudah terlanjut terekam dalam ingatannya.
"Yakin? Tapi tadi au lihat kamu senyum. Kayanya emang lagi pengen ya?" Dengan sengaja Jeff malah menggoda kekasihnya itu.
"Enggak!!" sanggah Bila tak terima.
"Kalaupun aku mau, aku bisa beli sendiri!" lanjutnya dengan nada tinggi.
"Yakin? Padahal aku nyarinya susah loh. Kalaupun kamu mau beli sendiri bakal susah juga carinya. Kalau kamu gak mau, aku bakal buang." Jeff pergi ke arah tempat sampah yang ada di dekat sana. Tangannya sudah terangkat untuk membuang bungkusan itu, sebelum kemudian bungkusan itu tiba-tiba direbut oleh Bila.
"Loh kok diambil? Katanya gak mau?" Jeff sangat tahu bagaimana Bila. Gadis itu sangat menginginkannya, tapi gengsinya itu lebih besar.
"Gak mau! Tapi sayang kalau dibuang," cicitnya sambil memeluk bungkusan itu dengan erat.
Jeff mengangguk dengan ekspresi yang seperti meledek Bila.
"Sana pulang!" sentak Bila setelah dia mendapatkan bungkusan itu.
"Kok pulang sih? Kan aku beli itu buat kita berdua, ya makan bareng lah," ucap Jeff tak mau kalah.
"Gak!! Pulang sana." Setelah berkata seperti itu Bila menutup pintunya dengan kencang hingga membuat Jeff terlonjak.
Jeff menghela nafas dalam. "Sabar," ucapnya sambil mengelus dadanya.
Jeff akhirnya pergi dari rumah Bila karena memang tak ada pilihan lain.
Sementara Bila sedang mengatur detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.
"Haduh kenapa kaya abis dikejar setan sih?" tanyanya saat detak jantungnya tak kunjung normal.
"Tapi kok bisa kebetulan banget ya? Aku emang lagi pengen martabak," ucap Bila sambil mengangkat bungkusan itu dan memandangnya dengan lekat.
"Gatau ah." Bila memilih tak mempedulikan hal itu. Dia hanya harus memakan itu dan segera istirahat.
__ADS_1
"Non lagi apa?" Bi Inah tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Makan Bi. Bibi mau?" Bila menyodorkan sepotong martabak ke arah Bi Inah.