
Jeff segera keluar dari mobilnya untuk menghampiri gadis itu.
"Kamu ngapain di sini?!" tanya Jeff dengan penekanan namun suaranya pelan.
Dia juga takut siswa lain akan mendengar karena memang di sana sudah ramai siswa yang berlalu lalang.
Bahkan tak jarang dari mereka melempar pandangan pada gadis itu dan sekarang juga pada Jeff karena mereka ada di sana bersama.
"Kamu bulan ini gak kasih uang, Jeff. Aku mau check up gak ada uang." Tanpa memperdulikan suasana di sekitar, gadis itu berkata dengan keras.
"Sorry, Ras. Aku lupa. Nanti aku transfer. Sekarang kamu pulang." Jeff agak mendorong gadis itu.
Ya, gadis itu adalah Laras. Gadis itu datang lagi pada Jeff untuk meminta uang.
"Jangan lupa ya." Laras pergi setelah dia mengatakan hal itu.
Jeff menghela nafasnya dan merapikan penampilannya. Dia khawatir penampilannya akan berantakan setelah berbicara dengan laras.
"Astaga nekat banget," ucapnya.
Jeff berjalan ke ruangannya dan mempersiapkan bahan ajar sebelum kemudian dia akan masuk kelas.
Dia mengeluarkan ponselnya dan segera mengirimkan uang pada Laras.
Bel berbunyi, itu artinya Jeff harus segera pergi ke kelas.
"Pagi, Pak," sapa salah satu siswa yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Pagi. Kenap kamu keluar kelas? Bel masuk kan udah bunyi?" tanya Jeff pada anak itu.
"Itu Pak. Mau ke toilet bentar," jawabnya.
Jeff mengangguk kemudian mempersilahkan anak itu pergi.
Jeff melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas.
Sementara itu Stevani dan Keisya sedang jam olahraga.
Stevani tak sengaja melihat Jeff yang melewati mereka.
"Eh, Pak Jeff tuh." Stevani mencolek bahu Keisya untuk memberitahu gadis itu.
Keisya yang awalnya sedanh fokus dengan tali sepatunya sontak mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah yang ditunjuk oleh Stevani.
"Wahh yang udah kawin beda ya. Apalagi kawin sama Bila," ucapnya.
"Hah? Siapa yang kawin sama Bila?" Kedua gadis itu menoleh ke arah belakang mereka.
"Siapa yang nikah sama Bila?" Orang itu mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Eh Rav," jawab Stevani. Dia panik, dia sudah janji akan merahasiakan pernikahan Bila. Jadi sekarang dia bingung harus menjawab apa.
Raveno menaikan sebelah alisnya. Dia masih belum mendapatkan jawaban dari Stevani dan Keisya.
"Enggak. Gak ada yang nikah kok," elak Keisya berusaha menutupi kebenaan itu.
"Gak. Gue tadi jelas-jelas dengar kalo lo bilang Bila nikah. Jadi, siapa yang nikahin Bila?"
Stevani dan Keisya saling berpandangan untuk melempar pertanyaan itu kepada satu sama lain karena dia juga bingung akan menjawab apa.
"Gimana nih?" bisik Keisya pada Stevani.
"Gue juga gak tau. Kalau kita bilang, Bila marah gak ya?" Stevani menjawabnya.
"Bilang aja sama dia. Tapi dia gak boleh bilang siapa-siapa," usul Keisya.
"Emm, jadi gini … "
Stevani menggantung jawabannya masih agak ragu dengan apa yang akan dia katakan.
"Bila udah nikah satu minggu yang lalu," lanjutnya.
"Sama siapa?" Ada sedikit rasa sakit di hatinya kala Raveno mendengar kabar itu.
"Pak Jeff. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa. Soalnya nikahnya diem-diem." Stevani meletakan jari telunjuknya di bibirnya sebagai tanda agar Raveno tak mengatakan hal itu pada siapapun.
"Kapan?" tanya Raveno dingin.
"Satu minggu yang lalu." Keisya menjawab.
Raveno mengangguk sebelum kemudian dia hanya melenggang pergi dari sana tanpa sepatah katapun.
"Lah? Kok pergi?" tanya Stevani.
Keisya tak menjawab, dia hanya menggedikkan bahunya pertanda dia juga tak tahu kenapa Raveno pergi begitu saja dari sana.
Stevani dan Keisya melanjutkan jam olahraga mereka yang memang tak ada gurunya.
"Bosen banget gue kalau olahraganya gini-gini aja," keluh Stevani.
"Kantin aja kuy. Lapar gue." Ini memang belum jam istirahat tapi karena rasa lapar mereka dan kebetulan gurunya juga tak masuk, akhirnya mereka pergi ke kantin.
"Woyy mau kemana lo pada?" Sang ketua kelas meneriaki dua orang itu.
"Kantin bentar, Ketua!!" Mereka juga berteriak pada ketua kelasnya karena mereka enggan kembali ke lapangan.
Ketua kelas tak lagi ingin melarang kedua orang itu karena dia tahu jikapun dia melarang dia tahu kedua orang itu tak akan mendengarkan.
"Jangan ada yang ke kantin lagi sebelum jam istirahat!!" Ketua kelas memperingati sebelum anak-anak yang lain malah pergi ke katin.
__ADS_1
Semua anak kelas itu melajutkan kegiatan olahraga mereka walaupun mereka hanya bermain bola voli.
"Yang lainnya futsal yok," ajak Ali salah satu siswa di kelas itu.
Jika yang lain sibuk dengan olahraga mereka dan berkeringat karena kelelahan, maka lain halnya dengan Stevani dan Keisya.
Mereka berada di kantin dan memakan batagor dengan sangat lahap.
"Kalian ini malah ke kantin! Itu teman kalian lagi olahraga!!" bentak Jeff.
Dia tak sengaja bertemu kedua teman Bila di kantin.
"Lapar Pak. Makan dulu bentar, nanti ke lapangan lagi," elah Stevani.
Setelah mereka tahu jika Jeff memiliki hubungan dengan temanya, Bila, mereka sama sekali tak merasa segan dengan pria itu.
"Lah Bapak juga kenapa di sini? Ini kwn belum istirahat. Harusnya Bapak ngajar dong." Keisya malah melempar kembali pada Jeff.
"Saya gak sempat makan di rumah. Jadi saya lapar," jawab Jeff.
"Nah itu Bapk tau. Kalau lapar harus makan, ini saya juga lagi lakuin itu. Saya lapar jadi saya makan."
Jeff hanya menggeleng. Dia tahu dia tak akan menang jika berbicara dengan kedua teman Bila itu.
"Iya terserah kalian. Habis makan cepat kembali ke lapangan atau Pak Iwan akan datang dan hukum kalian," ancam Jeff.
Kedua orang itu mengangguk dan membiarkan Jeff meninggalkan mereka berdua untuk macari tempat duduk lain yang kosong.
Makanan mereka tiba bersamaan. Akhirnya Jeff dan kedua orang itu makan bersama walau di tempat yang agak jauh.
"Sialan, pedes banget," umpat Stevani.
"Lah kok kasar! Kan lo yang mau pedas." Apa yang dikatakan Keisya memang benar adanya. Stevani yang ingin pedas karena katanya, "Lagi pengen pedas gue. Kayanya enak."
Tapi lihatlah sekarang. Gadis itu malah mengumpat karena pedas.
"Iya gue tau. Gue cuma curhat." Setelah Stevani mengatakan hal itu, Keisya memilih diam tak akan menjawab lagi keluhan temannya itu.
Selesai dengan makanannya, bukannya kembali ke lapangan, mereka malah diam dan memainkan ponsel di kantin.
Hal itu tak lepas dari perhatian Jeff. Jeff menghampiri mereka setelah selesai makan.
"Eh kalian cepat kembali ke lapangan! Malah main ponsel!" perintah Jeff pada kedua muridnya itu.
"Iya bentar Pak. Ini perut masih begah. Tunggu makanannya turun dulu nanti baru ke lapangan."
Selalu saja ada alasan agar mereka tak ikut jam pelajaran.
Jeff tak ingin lagi berurusan dengan kedua anak keras kepala itu. Dia memilih kembali ke kelas untuk mengajar anak muridnya yang lain.
__ADS_1