Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
67. Persiapan


__ADS_3

Setelah Melinda mulai tenang, Raveno membawa gadis itu ke kantin. Dia membelikan satu botol air mineral.


"Udan mendingan?" tanya Raveno. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka apalagi kedekatan mereka yang bisa dibilang sangat pesat.


"Emang beneran Raveno mau sama tuh cewek, bukannya selama ini dia nolak?"


"Pake pelet kali tuh cewe." 


Dan masih banyak lagi ucapan orang-orang tentang mereka. Sebisa mungkin Melinda tak mendengarkannya, karena dia tahu hal itu hanya akan membuatnya sakit.


Toh selama ini dia bisa bertahan dengan segala hujatan dan perkataan orang lain yang tak mengenakkan untuknya.


"Udah." Dia menjawab singkat pertanyaan Raveno.


"Kemarin-kemarin kemana aja?" tanya Raveno.


"Ah, belakangan ini ada yang harus Mel lakuin, jadi gak masuk sekolah dulu." Dia menjawab dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.


"Urusan sepenting apa sampai bikin lo gak masuk sekolah seminggu?" Raveno kembali bertanya.


"Ada deh, Rav kangen ya sama Mel?" Gadis itu mulai lagi. Walaupun ada luka lebam di wajahnya, Raveno juga tahu luka lebam itu juga ada di lengannya, tapi Melinda masih bisa tersenyum dan menggodanya seperti ini.


Raveno merotasikan bola matanya. "Gak ada gue kangen. Cuma penasaran aja. Gue sih syukur gak ada lo, gak ada yang ganggu hidup gue," ujar Raveno.


Ada setitik rasa sakit mendengar ucapan Raveno. Tapi Melinda tak ambil hati, dia memilih tersenyum menanggapi ucapan pria itu.


"Ya udah, besok-besok biar Mel gak usah masuk sekolah lagi," jawabnya.


Raveno berdecak, rupanya gadis itu sedang mengancamnya.


"Terserah lo." Setelah mengatakan hal itu, Raveno beranjak dari sana dan membawa papper bag yang Melinda simpan tadi di atas meja.


Melinda tak mencegah pria itu untuk pergi. Dia merasa cukup baik hanya dengan bertemu sebentar dengan Raveno.


"Hahh pada akhirnya kamu tahu gimana bobroknya keluarga aku Rav. Padahal selama ini aku udah berusaha nutupin itu semua dari kamu," lirihnya.


"Kalau udah gini, aku gak bakal terlalu berharap buat dapatin kamu. Aku malu," lanjutnya.


Melinda beranjak dari sana untuk kembali ke kelasnya.


**** 


Tepat dua  hari setelah kepindahan mereka ke rumah baru itu.

__ADS_1


Seperti yang Bila katakan waktu itu, mereka pindahan dibantu oleh Bi Inah dan juga Mang Parman.


Ketika diberitahu akan pindah, semua orang heboh termasuk kedua orang tua Bila.


Pasalnya keluarga Bila sama sekali tak tahu jika Jeff membeli rumah. Kata suaminya itu yang tahu dia membeli rumah hanya kakeknya saja. 


"Yang kayanya ada yang kuran deh," ucap Bila sambil mencoba memikirkan apa yang kurang itu. 


"Apa?" tanya Jeff. Rumah baru mereka kini terbilang ramai. Di sana ada kedua orang tua Bila, Bi Inah dan Mang Parman. 


Mereka memutuskan untuk mengadakan syukuran setelah kepindahan mereka. 


"Makanan buat tamu, ini dikit banget. Tetangga kita banyak loh," jawab Bila. 


Memang, letak rumah mereka saat ini bisa dikatakan di area yang padat penduduk. 


"Ya udah nanti beli lagi." Rencananya acaranya itu akan digelar besok hari. Itulah kenapa mereka sibuk mempersiapkannya hari ini. 


"Jangan terlalu cape. Biar aku aja yang kerjain." Jeff khawatir istrinya akan kelelahan, apalagi perutnya itu sekarang semakin membesar. 


Bila mengangguk. Memang tak terasa sekarang menuju bulan kelima. Empat bulan lagi kiranya dia bisa bertemu dengan buah hatinya.


"Sayang, Bunda sama Ayah pulang dulu ya. Udah sore juga." Kedua orang tuanya memang sudah di sana sejak tadi pagi. 


"Iya Bun. Makasih ya udah bantu," jawab Bila yang dianggukki oleh Bundanya. 


"Kalau ada apa-apa bilang aja ya. Bi Inah sama Mang Parman masih di sini kok. Katanya mereka mau nginep," ujar Ayahnya. 


Bila sama sekali tak keberatan. Justru dia senang jika mereka menginap agar rumah ini tak terasa begitu sepi. 


"Kalian kenapa gak nginep juga?" Bunda Erina menggeleng. 


"Malam ini gak bisa, Sayang. Bunda ada janji rapat online sama staff Bunda. Mungkin besok setelah kegiatan Bunda baru bisa nginep di sini," jelasnya. 


Bila akhirnya dengan pasrah mengangguk. "Kalau gitu kita pamit ya." Kali ini Ayahnya yang berbicara. Bila mengangguk. 


"Bi, Mang tolong jaga mereka ya." Bunda Erina menitipkan kedua anaknya pada mereka. 


"Iya Nya siap." 


Bila dan Jeff mengantar orang tuanya hingga halaman depan. Mereka tetap berdiri di sana memperhatikan kepergian orang tua Bila hingga mobil mereka menghilang di sebuah persimpangan.


"Istirahat dulu gih!" perintah Jeff. Sedari tadi dia melihat istrinya terus saja berbenah untuk acara besok.

__ADS_1


Pria itu jadi ngilu sendiri pasalnya perut Bila sekarang semakin membesar.


"Iya." Jeff merangkul Bila ketika mereka masuk ke dalam rumah.


Belum juga mereka masuk ke dalam rumah, kedua teman Bila memanggilnya dengan keras.


"Bila!!!" seru keduanya yang membuat Bila menolehkan pandangannya ke belakang.


Memang sih sudah tak heran karena Bila juga sudah tahu jika Stevani dan Keisya akan datang.


"Cepat amat," ucap Bila sambil benar-benar berbalik. Sementara itu Jeff hanya memperhatikan mereka.


"Ngomongnya di dalam yuk," ajak Jeff. Dia tak tega melihat istrinya yang harus berdiri lama. Apalagi dalam keadaan hamil pasti sangat pegal.


Bila mengangguk dan mengajak kedua temannya masuk. "Tumben gak nyasar?" goda Bila. Dulu ketika dia memberitahu di mana rumahnya, kedua temannya itu malah mengetuk pintu ke rumah tetangganya.


"Enggak dong kita kan udah terlatih," jawabnya.


Bila berdecak mendengar jawaban temannya itu. Dia tak lagi menjawab apa yang temannya katakan.


"Besok jangan lupa, lagian besok gak sekolah kan?" tanya Bila.


Memang sengaja Bila mengambil hari libur untuk acaranya karena dia tahu banyak orang yang dia kenal sibuk jika tidak hari libur.


"Iya Bila. Udah puluhan kali lo bilang gitu sama gue. Bosen dengernya tau gak, sampai panas kuping gue!" jawab Stevani. 


"Ya kali aja lo lupa, lo kan pelupa." Bila berusaha mencari pembelaan karena dia juga tak ingin kalah. 


"Iya gue gak lupa kalau masalah lo."


Mereka terwawa bersama. "Terus sekarang kalian datang ke sini mau ngapain?" tanya Bila. "Mau bantuin gue kan?" lanjutnya. 


"Niatnya sih mau minta makanan. Pasti banyak makanan kan di sini." Dengan kurang ajarnya Keisya menjawab seperti itu. 


"Mening pulang aja lo pada kalau gak mau bantu gue."


"Kok gitu sih. Seenggaknya ada tamu tuh ditawarin minum gitu." Bukannya pulang seperti yang dikatakan Bila, Keisya malah pergi ke dapur.


"Jangan ambil makanan buat besok. Kalau mau ambil aja yang ada di kulkas!" Bila berteriak pada Keisya yang sudah menjauh dari pandangannya.


"Lo gak ikutan?" sindir Bila pada Stevani.


"Males gue. Nanti dia juga bawa banyak makanan."

__ADS_1


__ADS_2