Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
32. Takut Bertemu


__ADS_3

Pertanyaan Raveno berhasil membuat Bila bungkam. Dia tak tahu apa yang harus dia katakan.


"Oke kalau lo gak mau jawab sekarang. Tapi gue harap suatu saat lo bisa cerita sama gue." Tak sampai di sana Raveno menceramahi teman seperjuangannya itu, dia kembali melontarkan kalimat yang membuat Bila menatap pria itu.


"Lo tau? Beberapa kali orang tua lo datang ke sekolah buat cari lo. Dua teman lo juga sibuk cari keberadaan lo. Lo gak kasian sama mereka?" tanya Raveno.


Bila semakin bungkam. Dia menghela nafasnya saat Raveno sama sekali tak menyebutkan nama seseorang yang dia harapkan.


"Gak apa-apa. Gue cuma lagi butuh ketenangan aja." Bila berusaha menutupi bagian perutnya agar tak begitu terlihat.


"Oh iya, lo jangan bilang siapapun kalau gue ada di sini." Bila mencoba memperingati Raveno.


Dia belum siap jika bertemu dengan Jeff. Dia takut Jeff tak akan menerimanya dan juga buah hatinya. Lebih parahnya dia takut jika Jeff akan memintanya untuk memusnahkan darah dagingnya sendiri.


"Iya gue paham. Gue minta nomor baru lo. Kalau ada apa-apa lo bisa bilang gue," pinta Raveno.


Dita yang merasa jenuh kini menyenggol lengan Abangnya. "Bang, siapa?" tanya gadis manis itu pada akhirnya.


Dia sudah merasa penasaran sejak tadi, tapi dia baru bisa mengungkapkannya sekarang.


Raveno menoleh ke arah Dita. "Diem, dia teman gue."


Setelah mendapatkan jawabannya, Dita akhirnya bungkam dan memilih menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Gak usah. Lagi pula gue gak sepercaya itu sama lo. Jadi lo gak usah perduliin gue." Jawaban yang dilontarkan Bila cukup menohok hati Raveno.


Namun pria itu berusaha bersikap biasa saja dan mengerti dengan Bila.


"Oke kalau itu yang ada dalam otak lo sekarang. Gue di sini lumayan lama. Lo boleh cari gue di sini kalau lo butuh gue." Raveno menyodorkan sebuah kartu di mana di sana tertera nama sebuah hotel.


Untuk yang satu ini Bila tak menolak. Dia mengambilnya tanpa menjawab Raveno.


"Oh ya, gimana olimpiade lo?" tanya Bila sekedar untuk mencairkan suasana.


"Pak Jeff sibuk cari orang buat gantiin lo walau pada akhirnya gak ada satupun. Gue berhasil bawa piala, tapi buat kategori putri, sekolah kita kalah."


Mendengar nama Jeff disebut Raveno, membuat hati Bila sedikit bergetar. Rasanya pada pria itu masih sama.


"Sorry. Gara-gara gue sekolah kita jadi kalah," lirih Bila sambil menundukkan kepalanya.


"I'ts okay. Lagian gue juga menang. Gak bobrok-bobrok amat lah ya." Raveno berusaha mengubah suasana sedih Bila.


Bila mendongak dan tersenyum tipis. Dia mengalihkan pandangannya pada gadis yang ada di samping Raveno yang sejak tadi hanya diam memperhatikan keduanya.

__ADS_1


"Dia adek lo?" tanya Bila. Raveno memandang adiknya sebelum kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Bila.


"Namanya Dita." Raveno menyenggol Dita agar mengulurkan tangannya.


Dita mengulurkan tangannya yang kemudian dibalas dengan lembut oleh Bila.


"Bila," ucap Bila memperkenalkan diri.


"Dita, Kak." Dita tersenyum dengan lebar karena memang pada dasarnya gadis itu adalah gadis yang ceria.


Setelah itu mereka saling senyum dan Bila kembali fokus pada Raveno.


"Gue ke toilet dulu ya," ucap Bila. Dia merasa kurang nyaman berada di sana jadi dia pergi ke toilet.


Raveno memperhatikan Bila karena merasa ada yang aneh dengan gadis itu sebelum kemudian dia mengangguk.


Setelah Bila pergi, Raveno menghela nafasnya. "Sorry ya. Buat hari ini kayanya gue belum bisa nemenin lo jalan. Sebagai gantinya gue temenin full besok," ujar Raveno pada adiknya.


"Okey gapapa." Awalnya Dita sedikit dongkol pada Abangnya itu. Tapi dia berusaha mengerti dengan keadaan saat ini.


Sementara itu, Bila di toilet hanya diam sambil memandang pantulan dirinya di cermin.


"Astaga!! Apa yang harus gue lakuin sekarang? Gimana kalau Raveno bilang sesuatu sama keluarga gue?"


"Okey, sekarang gue cuma harus tenang." Setelah mengatakan penyemangat untuk dirinya sendiri, akhirnya Bila kembali.


Raveno dan adiknya masih di sana. Bila juga baru mengetahui jika Raveno memiliki seorang adik.


"Sorry lama," ujar Bila sambil tersenyum canggung.


"Gapapa," jawab Raveno.


"Bil, gue boleh tanya sesuatu?" tanya Raveno. Dia tak ingin terus menduga tanpa tahu yang sebenarnya.


Bila mengangguk tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


"Sorry kalau pertanyaan gue bakal nyinggung lo. Tapi lo kelihatan gendutan sekarang, lo baik-baik aja, kan?"


Pertanyaan Raveno lagi-lagi membuat Bila mematung. Dia bingung akan mengatakan apa. Dengan cepat dia merapatkan coat yang dia kenakan untuk menutupi bagian perutnya.


"Ah itu, gue baik-baik aja. Mungkin karena banyak makan jadi gue gendutan." Bila tertawa hambar.


Sebuah alasan yang sangat bertolak belakang dengan penyebab yang sebenarnya. Tidak mungkin juga Bila mengatakan jika dirinya sedang mengandung.

__ADS_1


Raveno hanya mengangguk walaupun sebenarnya dia tak sepenuhnya percaya.


"Bagus deh. Jadi keliatan lebih berisi," ujar Raveno.


"Lo lagi jalan-jalan sama adek lo?" Bila bertanya. Sebenarnya semakin merasa tak nyaman berada di sana.


"Iya liburan. Dan ini bocah maksa mau ke sini." Raveno mengusak rambut Dita yang dihadiahi pukulan pelan di lengannya.


Bila mengangguk. "Lanjutin kalau begitu. Gue juga mau pulang. Udah cape," ucap gadis itu.


"Gue boleh main ke tempat lo?" tanya Raveno ragu. Kali ini dia akan memperjuangkan Bila. Belakangan ini pria tampan itu merasa kehilangan sosok Bila dan akhirnya dia menyadari jika dirinya jatuh cinta pada teman seperjuangannya itu.


"Buat sekarang gue gak bisa. Gue lagi mau sendiri." Lagi-lagi jawaban Bila membuat Raveno berkecil hati.


"Okey. Gue harap, nanti gue bisa main ke tempat lo dan jadi orang kepercayaan lo."


Bila hanya tersenyum menanggapi ucapan Raveno. "Kalau gitu gue pulang dulu."


Bila berpamitan pada kedua orang itu sebelum kemudian dia kembali ke rumahnya.


Niat awalnya dia ingin menghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan, tapi sepertinya tak aman. Dia takut akan bertemu kembali dengan orang yang dia kenal.


"Sebaiknya pulang," ucapnya.


Sementara itu Raveno masih berada di sana dengan Dita.


"Dia hamil gak sih, Bang?" Pertanyaan Dita sontak membuat Raveno reflek menoyor kepala sang adik.


"Aww," rintih Dita sambil memegangi kepalanya.


"Lagian lo kalau ngomong suka ngawur," sela Raveno.


"Lah, bukannya gitu. Tapi badannya itu kaya orang hamil. Orang kalau gendut karena makanan, gendutnya gak kaya gitu," jelasnya.


"Dah ah, sok tahu lo! Ayo, katanya mau jalan-jalan." Raveno menarik tangan adiknya untuk keluar dari sana setelah membayar makanan mereka


Hallo vren, sorry baru up lagi...


Pada nungguin gak nih???


Jangan lupa vote sama komen ya, biar makin semangat up-nya💜💜


See U di part selanjutnyaaa💜

__ADS_1


Follow ig @xxde_javu


__ADS_2