Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
71. Cerita Keluarga Jeff


__ADS_3

Mereka tiba di rumah Raveno. Karena semakin dingin, tadi Raveno memakaikan kembali hoodie-nya ke Melinda.


“Yuk turun,” ajak Raveno. Sejak tadi tangannya tak pernah lepas dari genggaman Melinda.


Melinda mengangguk dan mengikuti langkan Raveno. “Ga kapa-apa?” tanya Melinda. Dia tak siap bertemu dengan Bunda Raveno dengan keadaan seperti ini.


“Abang, ini Mel kenapa?” Bundanya tiba-tiba datang dan terkejut melihat keadaan Melinda.


Sudut bibir terluka, pipinya yang merah, siapa yang tak khawatir jika melihat penampilan seorang gadis seperti itu.


“Nanti Abang cerita di dalam ya,” jawab Raveno. Mendengar hal itu, Melinda mengeratkan pegangannya di tangan Raveno dan memandang pria itu dengan lekat.


Raveno bisa mendapatkan kode dari Melinda jika dia tak ingin Bundanya tahu tentang permasalahannya.


Raveno menganggukkan kepalanya berusaha meyakinkan Melinda agar gadis itu percaya padanya.


Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. “Sebenarnya ada apa ini?” tanya Bundanya yang aneh melihat penampilan Melinda.


“Bukan apa-apa Bun. Mel cuma lagi sakit aja. Di rumahnya gak ada siapa-siapa, jadi Abang bawa ke rumah,” jelas Raveno. Dia tak akan menceritakan yang sebenarnya pada Bundanya jika Melinda tak menginginkan hal itu.


Bunda Raveno mengangguk. “Tapi itu kenapa bibir kamu, Nak?” tanyanya. “Itu tadi di sekolah kena bola basket.” Maafkan Raveno karena lagi-lagi pria itu berbohong.


“Bun, boleh Abang bawa Mel ke kamar dulu? Biarin dia istirahat.” Raveno meminta izin pada Bundanya.


Bundanya mengangguk. Setelah mendapatkan izin, Raveno membawa Melinda ke kamarnya dan menyuruh agar gadis itu beristirahat.


**** 


“Sayang, aku mau ngomong.” Entah hal penting apa yang akan dikatakan oleh Jeff mala mini hingga mau ngomong saja dia harus meminta izin.


“Ada apa? Kenapa pake minta izin segala sih?” kekeh Bila. “Soal orang tua aku,” desis Jeff.


Sebenarnya dia sangat malas ketika harus menceritakan tentang orang tuanya, tapi Bila memang harus tahu kebenarannya.

__ADS_1


“Jadi?” tanya Bila. Dia membenarkan duduknya hingga menghadap Jeff sepenuhnya.


“Kamu pasti aneh kan waktu aku bawa kamu ke rumah aku pertama kali? Berantakan? Teriakan?” ucap Jeff menjelaskan keadaan ketika Jeff membawanya ke rumahnya.


“Mama aku pernah terjerat kasus perselingkuhan. Bukan perselingkuhan biasa, tapi dia main belakang sama teman Ayah aku sendiri, setidaknya itu yang ada dalam berita. Tapi Mama aku menyangkal, dia bilang gak ngelakuin itu sama sekali. Saat itu, perusahaan Ayah yang lagi naik-naiknya tiba-tiba bangkrut karena rumor itu. Sampai sekarang dia gak bisa bangkit lagi karena bagaimanapun jejak digital itu kuat. Ayah selalu nyalahin Mama, karena dia beranggapan jika karena rumor itulah perusahaannya hancur.”


Jeff menjelaskan semuanya pada Bila dengan Panjang lebar. Dia tak ingin melewatkan apapun. 


“Selain itu, karena rasa cemburunya, Ayah mulai pakai kekerasan sama Mama. Beberapa kali juga aku minta Mama buat lapor, tapi dia gak pernah lapor.”


“Kenapa?” tanya Bila. Jeff menggeleng. Dia juga tak tahu kenapa Mamanya tak pernah mau melapor.


“Maaf kalau kamu ngerasa keluarga aku gak sesuai sama harapan kamu,” lirih Jeff. “Kamu ini ngomong apa sih.” Bila segera menyangkalnya.


“Gak boleh gitu, baik buruknya keluarga kita, mereka juga kan tetap keluarga kita. Aku gak keberatan sama apa yang terjadi.” Bila tersenyum menenangkan suaminya dan mengelus lembut lengan suaminya.


“Jadi, kamu gak keberatan?” Jeff kembali bertanya pada istrinya. Bila dengan yakin menggelengkan kepalanya.


Jeff akhirnya bisa merasa lega. Dia tak harus lagi menyembunyikan hal ini dari Bila. Tapi Namanya kehidupan, pasti selalu ada masalah.


Bagaimana jika suatu saat nanti Laras datang dan meminta pertanggungjawaban darinya? 


“Sayang, kamu kenapa?!” sentak Bila. Sudah beberapa kali Bila memanggil suaminya tapi Jeff malah bengong tanpa meresponnya sama sekali.


“Ah, enggak gak kenapa-kenapa.” Jeff berusaha kembali terlihat normal. Dia tersenyum pada Bila dan mengelus surai gadis itu.


Bila mengangguk. Karena hari mulai malam, mereka memutuskan untuk terlelap saja.


**** 


Raveno meninggalkan Melinda di kamarnya. Dia meminta gadis itu untuk istirahat setelah dia membersihkan badannya.


“Bun, Dita di mana?” tanya Raveno karena sedari tadi dia tak melihat adiknya itu.

__ADS_1


“Di kamar. Katanya besok ada ulangan harian jadi dia belajar.” Raveno mengangguk paham.


“Bunda tahu ada yang gak beres sama Mel. Sebenarnya ada apa?” Bunda Raveno tadi cukup peka karena menerima ucapan Raveno seperti percaya.


Namun dalam hatinya dia tahu jika yang dikatakan oleh Raveno seluruhnya adalah sebuah kebohongan.


“Iya Bun. Apa yang Bunda bilang benar. Tapi maaf, Abang gak bisa cerita sama Bunda karena ini juga ranah pribadi Melinda. Dia gak mau ada yang tau, jadi buat saat ini Abang belum bisa cerita sama Bunda,” jelas Raveno.


Bundanya itu mengangguk dan mengelus lengan Raveno dengan lembut. “Oke gak apa-apa kalau gak boleh cerita. Bunda cuma khawatir aja.” Raveno mengangguk. Dia mengerti bagaimana perasaan bundanya.


“Ya udah, mala mini berarti kamu tidur di kamar tamu?” tanya Bundanya.


“Gak tau Bun. Abang masih khawatir sama Mel. Kalau Abang tidur di kamar bareng Mel gimana? Tapi Abang tidur di sofa kok,” jelas Raveno.


“Bunda bisa percaya sama kamu kan?” tanya Bundanya yang kemudian dianggukki oleh Raveno.


“Bunda gak perlu khawatir, Abang gak akan macam-macam. Cuma mau ngawasin Mel aja,” jawab Raveno.


“Ya udah gak apa-apa. Kalau terjadi sesuatu bilang sama Bunda ya.” 


“Iya Bun. Kalau gitu Abang ke atas dulu ya.” Bundanya mempersilahkan Raveno untuk pergi dari sana.


Raveno kembali ke kamarnya. Dia membuka pintu sepelan mungkin karena takut Melinda akan terbangun.


Tapi dugaannya salah, dia kira Melinda sedang tertidur tapi ternyata tidak. Gadis itu sedang duduk di ranjang dengan pandangan ke arah jendela.


Dari sana kita memang bisa melihat pemandangan luar yang cantik. “Enak banget ya jadi kamu, punya kamar yang bisa lihat pemandangan secantik ini,” ucap Melinda.


Dia tak menatap Raveno, pandangannya masih ke arah yang sama. “Lo boleh ke sini kapanpun lo mau,” jawab Raveno.


Pria itu duduk di kursi belajarnya yang berdekatan dengan posisi Melinda. Gadis itu mengenakan pakaian Raveno karena memang dia tak membawa pakaian.


Dita juga tadi tak bisa diganggu karena sedang belajar. “Rav, kayanya aku gak bakal berani pulang lagi ke rumah,” lirihnya.

__ADS_1


Dia menunduk dan memilin jari-jari tangannya. Raveno yang peka jika gadis itu sedang gelisah akhirnya menghampirinya.


“Kenapa?” tanyanya. Raveno meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan erat. Matanya lurus memandang netra Melinda yang terlihat sedih.


__ADS_2