Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
97. Kedekatan Raveno dengan Bila


__ADS_3

“Jadi?” tanya Melinda ketika mereka sudah tiba di apartemen mereka. Bahkan Raveno belum juga duduk.


“Sabar dong. Lagian kenapa penasaran amat sih?” tanya Raveno. Melinda merasa kesal dan sedih denga ucapan Raveno.


Dia merasa selama ini dia selalu menceritakan tentang kehidupannya pada Raveno, tapi dia juga baru ingat sekarang jika Raveno tak pernah menceritakan apapun.


Raveno duduk di sofa dan melihat Melinda yang menundukkan kepalanya. “Kenapa lo?” tanya Raveno tanpa rasa bersalah.


“Kamu sebenarnya sayang gak sih sama aku?” tanya Melinda. Air matanya sudah banjir di wajahnya.


Raveno sangat terkejut melihat Melinda yang menangis. Dia langsung bangkit dari duduknya dan membawa Melinda duduk di sampingnya.


“Kenapa nanya gitu?” Bukannya menjawab, Raveno malah balik bertanya. Melinda menghempaskan tangan Raveno yang hendak menghapus air matanya. “Tuh kan!” sentak gadis itu.


“E-enggak gitu.” Raveno mulai panik karena Melinda sudah menaikan nada bicaranya. Melinda hendak beranjak dari sana untuk pergi ke kamarnya sebelum kemudian tangannya dicekal dan ditarik Raveno hingga dia kembali terduduk.


Namun, kali ini bukan di sofa melainkan dalam pangkuan Raveno. Raveno memeluknya dengan erat.


“R-rav lepasin,” ucap Melinda tergugup. Tentu saja dia gugup karen dia berada dalam posisi ini seketika.


Namun, Raveno tak kunjung melepaskan pelukannya. Dia malah semakin mengeratkannya hingga Melinda menyerah untuk melepaskan diri.


Tangis Melinda semakin berkurang. Raveno sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat gadisnya.


“Udah nangisnya?” tanya pria itu. Melinda tak menjawab memilih mengabaikan pria itu. “Kalau lo gak jawab, gue gak bakal mulai ceritanya,” ancam Raveno.


Melinda tak memiliki pilihan lain selain menjawab pertanyaan Raveno. “Udah,” cicitnya yang membuat Raveno gemas pada gadis itu.


Raveno terkekeh sebelum kemudian dia bercerita tentang bagaimana dia bisa dekat dengan Bila dan bagaimana hal itu berakhir.

__ADS_1


“Gue kenal Bila karena kita pernah bimbingan bareng buat olimpiade. Gak lama karena akhirnya sebelum olimpiade dia malah ilang tanpa kabar. Selama itu entah kenapa, gue selalu mikirin dia. Sampai waktu itu liburan tiba, gue sama keluarga pergi ke Korea, itu juga karena Dita yang maksa.”


Melinda mendengarkan cerita Raveno dengan seksama. “Gue gak nyangka kalau di Korea gue malah ketemu dia. Awalnya dia acuhin gue. Sampai gue ngarasa ada yang aneh sama dia. Gue temuin dia di rumahnya. Akhirnya dia ngaku kalau dia lagi hamil dan itu anak Pak Jeff. Dia kabur ke Korea karena ada masalah sama Pak Jeff.”


“Terus gimana ceritanya mereka bisa bareng lagi sekarang?” tanya Melinda mulai penasaran.


“Gue sempat deketin dia lagi dan punya niat mau tanggung jawab jadi Ayah bayi itu. Tapi Bila nolak, katanya dia gak bisa. Gue gak nyerah cuma karena itu. Gue ajak dia balik ke Indonesia, dia juga gak mau.”


Raveno berhenti sejenak untuk mengambil nafas. “Tapi abis itu dia titip salam buat orang tuanya ke gue yang waktu itu gue mau balik. Dia bilang mau pulang, tapi gak mau ketemu sama Pak Jeff. Dari sana gue udah percaya diri buat dapetin dia.”


Melinda merasa sedikit sakit ketika melihat raut wajah Raveno yang seolah sangat menginginkan Bila.


“Akhirnya dia pulang. Beberapa minggu setelah itu gue benar-benar hilang kontak sama dia karena gue juga sibuk sekolah. Tapi Keisya sama Stevani waktu itu bawa berita kalau Bila udah nikah sama Pak Jeff. Gue hancur banget waktu itu, tapi gue gak bisa apa-apa lagi karena itu juga udah terjadi,” jelas Raveno mengakhiri ceritanya.


“Jadi, kamu terima aku cuma buat pengalihan dari dia?” tanya Melinda dengn nada kecewanya. 


“Enggak! Gue beneran sayang sama lo!” tekan Raveno meyakinkan kekasihnya itu. Melinda terdiam untuk mencerna semuanya. Jika dipikirkan, Raveno menerimanya memang terlalu mendadak.


Sebelumnya pria itu selalu menolaknya dan bagai kiamat, pria itu malah menerimanya dengan sangat terbuka.


“Gak ada niatan sama sekali buat gue jadiin lo pelampiasan. Gue terima lo itu karena gue sayang.” Raveno berusaha meyakinkan gadis itu.


“Iya iya,” jawab Melinda. “Gak usah panik gitu,” lanjut Melinda diiringi dengan kekehan. Hatinya sudah merasa lebih baik setelah mendengar hal itu dari Raveno.


“Udah marahnya?” tanya Raveno pada Melinda yang masih berada di pangkuannya. Melinda mengangguk dan beralih memeluk leher pria itu.


Raveno membalas dengan memeluk pinggang gadisnya. “Jangan mikir yang enggak-enggak. Gue sayang sama lo,” ucap Raveno yang kembali diangguki oleh Melinda.


“Rav, boleh aku minta bantuan kamu?” tanya Melinda setelah mereka saling melepaskan pelukannya satu sama lain.

__ADS_1


“Apa?” tanya Raveno memandang Melinda dengan lekat.


“Aku mau ketemu sama Kak Laras. Aku mau ngomong sama dia,” pinta Melinda. Sebenarnya Raveno agak keberatan dengan hal-hal ini. Dia keberatan karena hal ini tak ada kaitannya dengan Melinda tapi malah gadis itu yang harus menyelesaikan semuanya.


“Mau ngomong apa lagi? Gue rasa udah cukup dengan lo minta maaf sama Bila dan Pak Jeff,” jawab Raveno.


“Gak bisa Rav. Aku tau gimana Kak Laras, dia gak bakal berhenti kalau gak diginiin. Aku terpaksa harus lakuin ini biar Kak Laras sadar,” timpal Melinda.


Melinda memasang wajah memohonnya pada Raveno hingga pria itu luluh. Dia paling tak bisa melihat wajah Melinda yang seperti itu, karena dia selalu ingin menerkamnya.


“Jangan bikin ekspresi wajah kaya gitu di depan orang lain!” Raveno memperingatkan kekasihnya sebelum dia meraup bibir gadis itu dengan rakus.


Melinda yang mendapat serangan mendadak tentu saja terkejut. Gadis itu meremas bahu Raveno saat pria itu semakin memperdalam ciumannya. Bahkan Raveno semakin menarik Melinda ke dalam pelukannya lebih erat.


“Hhmm,” lenguh Melinda yang kehabisan nafas. Raveno benar-benar tak memberinya bernafas barang sedetikpun.


Raveno yang sadar itu akhirnya melepaskan pagutannya. Wajah mereka sama-sama mererah. Mereka sama-sama menahan gairah mereka. Mereka masih harus menjaga batasan.


“Selesai sekolah kita nikah ya,” ucap Raveno yang berhasil membuat Melinda terbelalak. Dia terkejut denga ucapan Raveno.


Tak biasanya pria itu membahas hal seperti itu. “Apaan sih!” sentak Melinda sambil memukul pelan bahu kekasihnya karena merasa sangat malu.


“Kok gitu? Lo gak mau?” tanya Raveno kecewa. “Gak gitu. Udah ah, Mel mau masak,” ucap gadis itu mengalihkan topik dan hendak beranjak dari pengkuan Raveno.


Namun Raveno dengan sengaja menarik Melinda hingga gadis itu tak bisa kemana-mana dari pelukannya.


“Gue gak lapar. Gue cuma mau lo,” ucap Raveno. Raveno menggendong Melinda dengan bridal kemudian membawa gadis itu ke kamarnya.


“Mau apa?!!” teriak Melinda karena tiba-tiba pria itu mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2