Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
81. Berbohong


__ADS_3

Pagi ini Jeff dan Bila kembali ke rumah mereka. Mereka sengaja berangkat dari rumah Bila agak pagi karena Jeff harus bersiap untuk ke sekolah.


Sementara Bila masih diam dengan segala rasa kecewanya. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini.


“Yang, aku bakal buktiin kalau cuma kamu yang jadi prioritas aku. Walaupun aku masih harus nafkahin dia, tapi aku gak akan nemuin dia,” ucap Jeff tiba-tiba yang membuat Bila menoleh ke arah gadis itu.


“Hhmm,” jawab Bila. Dia bahkan sangat malas membicarakan hal ini.


“Udah dong jangan diam terus. Aku gak apa-apa kamu marahin, tapi tolong jangan diemin aku,” lirih Jeff. Dia tak bisa harus terus diabaikan seperti ini.


“Makanya lain kali kalau mau ambil keputusan tuh mikir dulu, jangan asal iya iya aja!” sentak Bila kesal.


“Iya, maaf.” Percakapan mereka berakhir di sana, sepertinya Bila agak luluh dengan bujukannya.


Jeff hanya harus melakukannya beberapa kali lagi dan semua akan kembali pada tempatnya.


Mereka tiba di rumah mereka sekitar pukul enam. Tak banyak bicara, Jeff segera masuk ke kamar mandi sementara Bila menyiapkan baju yang akan dipakai oleh suaminya itu.


Setelah selesai dengan itu, tak lupa dia juga menyiapkan makanan sederhana untuk sarapan.


Ketika Bila kembali ke kamar, rupanya Jeff belum selesai mandi, tapi dering ponsel yang berulang kali membuat Bila geram dan sedikit penasaran dengan siapa yang menghubungi suaminya di pagi buta seperti ini.


Bila melihatnya, rupanya sebuah pesan masuk. Nama yang tertera di layar membuat Bila penasaran dengan isi pesannya.


“Laras,” lirihnya. Bila tak membuka pesannya, dia hanya membaca pesan itu lewat pop up saja dan dia sudah bisa mengerti maksud dari pesan itu.


“Jadi setelah minta nafkah sama suami orang, sekarang juga minta temenin belanja?” tanya Bila. Itulah pesan yang ada di ponsel Jeff.


Bila mengabaikan itu, biarkan dia melihat apa yang akan dilakukan suaminya. Bila kembali ke dapur dan menunggu Jeff di sana.


Tak lama, Jeff keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sedikit basah. Dia membuka ponselnya. Rupanya ada pesan dari Laras.


Jeff merotasikan bola matanya, bisakah gadis itu tak mengganggunya lagi?”


“Apa ini? Nemenin belanja?” desisnya saat dia membaca pesan itu. Jeff membalas pesan itu dengan mengatakan dia tidak akan melakukannya.


Namun, balasan selanjutnya yang dia dapatnya membuatnya tak bisa mengabaikan keinginan gadis itu karena hal ini berkaitan dengan keselamatan Bila.

__ADS_1


“Sialan!” umpatnya. Jeff membanting ponselnya ke kasur dan segera turun dari kamarnya untuk sarapan.


Mood-nya di pagi hari ini sangat kacau dan itu semua karena Laras.


“Sarapan dulu,” ajak Bila. Dia menyiapkan makanan untuk suaminya. Jeff mendekat ke arah Bila dan memeluk gadis itu dengan erat.


Biarkan dia mengisi tenaganya dulu setelah beberapa hari ini sangat terkuras. “Kamu kenapa sih?” tanya Bila ketika dia tiba-tiba mendapat pelukan.


Jeff menggeleng, dia menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Bila. Bila mengelus punggung Jeff berusaha memberikan ketenangan.


“Habis pulang sekolah nanti, aku mau main sama teman, boleh kan?” Gerakan tangan Bila yang semula mengelus punggung Jeff tiba-tiba berhenti.


Teman dia bilang? Bila tersenyum miris, rupanya suaminya masih menanggapi permintaan gadis itu.


“Teman yang mana?” Bila berusaha terlihat biasa saja setelah melepaskan pelukannya.


“Victor, semalam kita ada janji,” dustanya. Bila mengangguk membiarkan Jeff pergi sesuai dengan keinginannya.


“Jangan malam-malam.” Jeff mengangguk, dia berjanji hanya akan menemani gadis itu belanja dan setelahnya pulang.


“Udah belum? Lama amat!” teriak Raveno dari luar. Sudah sekitar lima belas menit dia menunggu Melinda keluar dari kamarnya.


“Iya bentar Rav, ini sebentar lagi kok!” Melinda membalas teriakan kekasihnya.


“Dasar cewek, emang apa aja sih yang dia pakai,” bisiknya. “Eh jangan gitu ya, kalau aku gak dandan, emaang kamu mau sama aku?” protes Melinda saat dia mendengar apa yang dikatakan Raveno.


Raveno tak menjawab, dia memilih berdecak sebelum kemudian berjalan mendahului Melinda untuk tiba di parkiran.


Ini memang masih pagi untuk mereka berangkat sekolah, tapi Raveno memang sengaja karena dia ingin sarapan di luar.


“Naik!” perintah Raveno saat mereka telah tiba di parkiran. Melinda menaiki motor Raveno.


Raveno melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dia mencari tukang bubur ayam saat ini karena dia merasa sudah lama tak memakannya.


“Kamu mau makan apa?!” Raveno bertanya dengan sedikit berteriak karena takut jika Melinda tak akan mendengarnya.


“Kamu mau makan apa?!” Bukannya menjawab, Melinda malah balik bertanya. 

__ADS_1


“Aku cari tukang bubur ayam!” jawab Raveno tak ingin berbelit. “Ya udah samain aja biar gak ribet!”


Raveno mengangguk setelah mendapatkan jawaban dari Melinda. Raveno terus berputar hingga akhirnya dia menemukannya. 


Pria itu menghentikan laju motornya di depan gerobak tukang bubur ayam itu. Entahlah, menurutnya makanan di tempat seperti ini lebih enak rasanya.


“Pagi, Den. Mau bikin berapa?” tanya penjual itu begitu mereka tiba di sana. “Bikin dua ya, Pak. Yang satu gak pake kacang.” Setelah mengucapkan pesanan mereka, mereka mencari tempat duduk.


Beruntunglah masih kosong, hanya ada satu atau dua pelanggan saja. Mereka menunggu makanan mereka beberapa menit.


“Silahkan.” Bapak penjual itu mengantarkan makanan mereka.


Setelah makanan mereka tiba, mereka makan dengan lahap. Mata mereka melihat-lihat area sekitar sana yang bisa dikatakan sangat ramai. Bahkan ada beberapa orang yang sedang lari pagi.


Mata melinda memicing saat dia merasa melihat orang yang dia kenal. “Kakak,” lirihnya pelan.


“Hah, apa Mel?” tanya Raveno yang tak begitu jelas mendengar ucapan gadis di sampingnya.


Melinda tersadar dan mengalihkan pandangannya pada Raveno. “Ah enggak, bukan apa-apa. Ini buburna enak.” Melinda berusaha mengalihkan topik.


Otaknya masih mencerna dan kembali melihat ke arah tadi, di mana dia melihat kakaknya.


Dia berpikir, apakah kakaknya memang masih ad di kota yang sama dengannya? Jika iya, kenapa baru sekarang dia melihat?


Mencari atau menghampiri? Melinda sudah tidak sepenasaran itu pada kakaknya. Mungkin karena rasa kecewanya yang ditinggalkan juga dia tak begitu peduli pada Mama maupun Kakaknya.


“Ya udah, abisin, gih. Nanti kita kesiangan,” ucap Raveno saat melihat Melinda malah melamun. 


Pria itu sangat sadar jika Melinda sedang memikirkan sesuatu, tapi dia memilih diam jika Melinda tak menceritakannya sendiri apa yang sedang dia rasakan.


Melinda mengangguk dan segera menghabiskan makanannya.


Raveno membayar makanan mereka sebelum akhirnya mereka pergi dari sana menuju sekolah.


“Pegangan,” ucap Raveno saat Melinda tak kunjung memeluk pinggangnya. Melinda yang tersentak segera melingkarkan tangannya di pinggang Raveno.


Mereka melajukan motornya dengan kecepatan sedang dan dengan sesuatu yang masih bersarang di pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2