Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
37. Raveno Si Pria Tengil


__ADS_3

Guys, pemberitahuan ya ada pembaharuan di Bab 36. Jadi buat yang mau baca Bab 37 diharapkan baca ulang Bab 36đź’ś


Thank's for support!!!


****


“Kapan lo mau pulang?” tanya Bila merasa sudah sangat risih dengan keberadaan Raveno.


Mereka sudah menghabiskan dua judul film dan lima musik video kpop, tapi Raveno tak memperlihatkan jika dia akan seger pergi dari sana.


“Nanti.” Jawaban yang sama setelah dari satu jam lalu Bila selalu melontarkan pertanyaan yang sama.


Pria itu malah merebahkan dirinya di sofa dengan paha Bila sebagai bantalnya. “Ahh cape banget. Gue mau tidur dulu bentar,” ucapnya.


Sikap Raveno seperti ini sukses membuat Bila merindukan Jeff. Pria itu juga suka bertingkah manja seperti yang tengah dilakukan Raveno sekarang.


Posisi seperti ini membuat Raveno dengan mudah melihat ekspresi wajah Bila. “Kenapa lo?” tanya Raveno yang menyadari perubahan raut wajah Bila.


Bila hanya menggeleng tanpa berniat menjawab pertanyaan Raveno yang satu itu.


Raveno memilih memejamkan lagi matanya alih-alih memaksa Bila untuk menjawab pertanyaannya.


Pria yang ada di pangkuan Bila itu membalikan badannya hingga wajahnya menghadap perut Bila. Dia merasa sedikit aneh dengan perut Bila.


“Kok kaya lebih berisi ya,” ucapnya sambil mencolek pelan perut Bila yang berhasil membuat Bila memukul kepala Raveno reflek.


“Aww,” rintih Raveno sambil bangkit dari posisi tidurnya. Tangannya menyentuh kepalanya yang terkena pukulan Bila.


“Ngapain lo pukul gue?” tanya Raveno merasa tak terima. “Gue yang harusnya nanya. Ngapain lo colek-colek perut gue?!” sentak Bila kesal.


Selain karena dia ketakutan, dia juga merasa sebal dengan pria itu. Baru tahu sekarang jika Raveno adalah pria yang tengil.


Salah besar saat itu Bila memandang Raveno seperti bad boy. “Gue Cuma penasaran apa yang ada di dalam perut lo. Kenapa gede amat,” ucapnya tanpa filter yang kembali dihadiahi tamparan kecil tepat di mulutnya.


“Akkhh. KDRT lo!!” kesal Raveno. Dalam waktu kurang dari dua menit, sudah dua anggota tubuhnya yang menjadi korban kekerasan Bila. Bagaimana jika dia sering bertemu dengan gadis itu.


“Bodo amat!! Pergi lo,” ucap Bila. Raveno diam di tempatnya. Dia tak ingin pergi, dia belum ingin pulang. Lagi pula ini masih siang. Masih ada waktu untuk dirinya berada di sana.

__ADS_1


“Gak mau. Cerita dulu, baru gue pulang.”


Bila bungkam. Haruskah dia menceritakan semuanya? “Lo hamil, kan?” Pertanyaan Raveno yang mulai serius membuat Bila mematung.


Dia benci berada di situasi seperti ini. “Jawab gue. Kalau lo benar hamil, gue juga gak bakal kasih tau siapa-siapa.” Nada bicara Raveno sangat serius sekarang.


Bila menunduk tak bisa menjawab. “Ternyata benar,” ucap Raveno mengklaim jika yang dia katakan itu memang sebuah kebenaran.


Bila terkejut karena Raveno mengatakan itu. Namun beberapa saat kemudian, dia tak lagi menyanggah.


“Siapa orangnya?” Bila sangat tahu ke mana arah dari pertanyaan Raveno.


“Jeff, Jeff Adhinata.” Akhirnya Bila memutuskan untuk memberitahu Raveno kebenarannya. Dia tak peduli lagi bahkan jika pria itu mengumumkan pada dunia jika dirinya sedang mengandung.


“M-maksud lo Pak Jeff guru Bahasa Inggris kita?” tanya Raveno berusaha mencari kepastian di balik ucapan Bila. “Bukan, kan? Pasti bukan.” Berpikir positif, itulah yang sedang dilakukan Raveno sekarang.


Namun, jawaban selanjutnya yang diberikan Bila berhasil meruntuhkan pikiran positifnya. “Ya, dia orangnya.” Raut wajah Bila berubah sendu saat dia mengatakan hal itu.


“Bil,” lirih Raveno. Saat ini dia merasa sangat bersalah karena mengungkit hal yang membuat Bila sedih seperti ini.


“Maafin gue,” ujar Raveno. Dia hanya mengusap punggung Bila berusaha memberikan ketenangan pada gadis itu. Dia tak berani memeluknya karena takut Bila akan merasa tak nyaman.


“Boleh gue minta pelukan?” Yang ditakutkan Raveno justru menjadi sebuah kebutuhan bagi Bila. Selama tiga bulan ini dia hanya memeluk dirinya sediri untuk menenangkan dan memberikan dukungan.


Tanpa berkata apapun lagi, Raveno segera membawa Bila ke dalam dekapannya. Gadis itu menangis dengan kencang dalam pelukan Raveno.


“Semua akan baik-baik saja.” Hanya satu kalimat yang dapat dilontarkan Raveno saat ini.


Dia tak melarang Bila menangis. Dia membiarkan gadis itu mengeluarkan semua kesedihannya hingga mungkin hanya akan tinggal kebahagiaan dalam hidupnya.


Cukup lama Bila menangis dalam dekapan Raveno hingga gadis itu mulai tenang. Dia juga mengusap air matanya dan menjauhkan dirinya dari pelukan Raveno.


“Udah baikan?” tanya Raveno khawatir. Hebat, itulah satu kata yang ada dalam benak Raveno untuk Bila. Dalam keadaan yang seperti ini, Bila masih bisa bersikap seolah tak ada yang terjadi padanya.


Bila mengangguk. “Lo hebat,” ucap Raveno spontan yang membuat Bila mengalihkan atensinya pada Raveno.


“Apanya yang hebat? Gue bisa dihamilin sama guru gue sendiri?” gurau Bila. Raveno merotasikan bola matanya.

__ADS_1


Bahkan di saat seperti ini, Bila masih bisa bercanda. “Lo hebat bisa lewatin semua ini, tolol,” ujarnya.


Bila terkekeh melihat Raveno yang sepertinya mulai kesal. “Mau cerita lengkapnya?” tanya Bila menggoda Raveno.


Mungkin Raveno bisa dia percaya. Mungkin Tuhan mengirimkan pria ini untuk dijadikan sebagai sandarannya.


“Oke, tapi skip pas lo sama dia ****,” sarkas Raveno. Pria itu mendapatkan toyoran di kepalanya setelah mengatakan hal tersebut.


“Sialan lo!” umpat Bila.


“Berapa bulan sekarang?” tanya Raveno sambil melihat perut Bila yang memang sedikit buncit.


“Tiga bulan jalan empat.” Bila mengelus perutnya dengan lembut.


“Gue boleh?” Raveno merasa iri karena hanya tangan Bila yang bisa mengelus perut buncit itu. Dia juga menginginkannya.


Tanpa diduga, Bila mengangguk. Raveno mulai mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Bila.


“Jadi lo di paksa **** sama dia?” Raveno merasa sangat penasaran. Bila menggeleng. “Gue pacaran sama dia. Gue sayang dia dan sebaliknya.”


Raveno merasa ada yang janggal dengan ucapan Bila barusan. “Kalau kalian saling sayang, kenapa kalian lari? Atau Pak Jeff sembunyiin lo di sini?”


Raut wajah Bila kembali sendu. Raveno sangat peka dengan hal itu. “Kalau gak mau cerita, gak usah dijawab.”


Raveno tak ingin membuat Bila sedih, itu sebabnya dia tak memaksa Bila untuk menjawab pertanyaannya.


“Gue dibuang. Dia gak mau terima anak ini. Dia mau gue gugurin bayinya.” Jawaban dari Bila sukses membuat Raveno membulatkan matanya terkejut.


Selama ini sosok Jeff menjadi panutan di sekolah. Bagaimana mungkin gurunya itu ternyata seorang pria bajingan?


“Sorry kalau pertanyaan gue bikin lo sedih. Udah deh gak usah diceritain lagi.”


Bila menggeleng sambil menatap Raveno dalam. “Gue udah putusin buat percaya sama lo. Jadi lo harus dengerin semuanya. Tanyain apapun yang mau lo tahu tentang gue,” jawab Bila.


“Jadi ini alasan lo pergi dari rumah?” Bila mengangguk membenarkan.


“Orang tua lo tau?”

__ADS_1


__ADS_2