Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
89. Kiss


__ADS_3

Mereka tiba di apartemen sekitar jam enam sore. Langit juga sudah mulai gelap. Raveno segera pergi ke kamarnya begitu juga dengan Melinda.


Mereka harus segera membersihkan badan mereka sebelum dingin. Setelah selesai dengan urusan mereka masing-masing, mereka duduk di ruang tamu untuk menunggu makanan mereka datang.


Ya, mereka memesan makanan karena tak sempat membuatnya sendiri. “Ke rumah Bunda, yuk,” ajak Raveno. Dia merasa rindu rumahnya karena beberapa hari ini dia lebih sering tidur di apartemen.


Melinda memandang Raveno mendengar hal itu. “Terus makanannya?” tanya gadis itu polos.


Raveno merotasikan bola matanya tak menyangka dia mendapatkan kekasih yang sepolos itu.


“Maksud gue nanti, abis kita makan baru berangkat.” Akhirnya Raveno menjelaskan apa maksudnya pada Melinda.


Mulut Melinda membentuk huruf O setelahnya. “Ya udah ayo,”  ucapnya kemudian.


“Rav, sampai kapan ya Mel mau tinggal di sini?” Gadis itu sudah membahas masalah itu lagi. Padahal sebelumnya Raveno sudah mengatakan jika gadis itu akan tinggal di sana selama yang dia inginkan tergantung Raveno.


“Kan dulu gue udah bilang, bayaran dari semua yang gue kasih ke lo, lo harus tinggal sama gue selamanya. Gue rasa itu udah jawab semua pertanyaan lo tadi.”


Melinda bungkam saat dia sadar jika Raveno sepertinya tak ingin membahas tentang hal ini.


“Ya udah iya, maaf,” cicitnya yang membuat Raveno menghela nafas dalam. Pikirannya melayang ke saat ketika dia menolak Melinda habis-habisan.


Tapi lihatlah sekarang? Dia bahka benar-benar bertekuk lutut pada gadis itu. “Kamu sayang kan sama aku?” tanya Melinda tiba-tiba. Entah kenapa ada banyak sekali pertanyaan dalam otaknya.


“Kenapa nanya gitu?” tanya Raveno. Tentu saja dia tak akan langsung mengakuinya, gengsi jika langsung mengatakan bahwa dia menyayangi gadis itu.


“Enggak apa-apa. Penasaran aja, padahal dulu Rav sering tolak Mel.” Rupanya gadis itu juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.


“Itu dulu. Sekarang kan udah enggak,” jawab Raveno. “Iya sekarang sih udah gak nolak, tapi gak tau udah cinta atau belum.” 


Melinda sengaja menggoda pria itu agar mengaku. Tapi Raveno malah membisu, dia malah memakanan makanan ringan yang ada dalam toples untuk mengalihkan perhatian Melinda.


“Jadi, udah sayang atau belum?” Melinda semakin gencar menggoda kekasihnya itu. “Jawab dong. Kalau gak jawab, berarti gak sayang ya.”


“Hhmm.” Raveno hanya bergumam ringan. “Hah? Apa? Gak kedengeran,” ucap Melinda sambil mendekatkan telinganya ke arah Raveno.

__ADS_1


Raveno mulai merasa kesal dengan tingkah Melinda. “Jawab ih!” rengek Melinda.


Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi gadis itu yang membuat Melinda sontak mematung dan membulatkan matanya terkejut.


“Kicep juga kan lo.” Raveno merasa sangat puas karena dia berhasil memutar balikan keadaan.


Raveno melanjutkan kegiatan mengunyahnya sementara Melinda masih sibuk menata hatinya setelah diserang oleh Raveno begitu saja.


Perlahan, Melinda menengok ke arah Raveno dan memandang pria itu dengan nyalang. “Gak sopan main cium-cium!!” Dengan brutal, Melinda memukul pria itu.


Meskipun pukulan Melinda tak berarti apa-apa bagi Raveno, tapi tetap saja dia berusaha untuk melindungi dirinya.


“Akkhh, kok mukul sih?” ucap Raveno. “Lagian, rese banget.” Cukup lama mereka sibuk dengan urusan mereka hingga Raveno habis kesabaran. Pukulan kecil itu lama-lama menjadi sakit karena Melinda tak kunjung berhenti.


Raveno yang mulai geram akhirnya memegang kedua tangan Melinda dan mendorong gadis itu hingga dalam posisi terlentang di sofa dan Raveno ada di atas tubuhnya.


Mereka saling beradu tatap untuk beberapa saat hingga Raveno semakin memajukan wajahnya.


Tersentuh, bibir mereka saling menyentuh. Melinda melebarkan matanya karena terkejut. Sementara Raveno melanjutkan rencananya.


“Eemmhh,” gumam Melinda. Namun sayang, Raveno tak melepaskan gadis itu dengan mudah.


Dia melanjutkan kegiatannya hingga perlahan Melinda juga ikut terbuai. Tangannya yang semula berontak kini sudah diam bahkan Raveno sudah melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Melinda.


Mata mereka mulai saling terpejam setelah beberapa lama mereka berciuman. Tangan Melinda melingkar dengan nyaman di leher Raveno.


Cukup lama mereka saling memagut hingga Raveno melepaskan lumatannya. Benang saliva terbentang di antara bibir mereka ketika Raveno menjauh.


“Masih perlu jawaban gue sayang sama lo atau enggak?” tanya Raveno dengan nada suara yang sangat rendah.


Melinda menggeleng dengan polos. Dia sudah tau jawabannya. Raveno bangkit dari posisinya begitupun Melinda yang kembali duduk.


Melinda duduk dengan kaku, pandangannya lurus ke depan tak berani menatap Raveno.


“Tunggu makanannya sampai, gue mau ke kamar mandi bentar.” Kalian tahu dengan pasti apa yang akan dilakukan oleh Raveno.

__ADS_1


Pria mana yang tak terangsang jika sudah dalam posisi seperti tadi. Tapi Raveno juga tak bisa melakukannya pada Melinda.


Dia terlalu menyayangi gadis itu hingga dia tak mau melakukan hal yang buruk pada Melinda.


Melinda memandang kepergian Raveno dengan bingung. Melinda dengan patuh benar-benar menunggu kedatangan kurir makanannya.


Tak lama, bel berbunyi membuat Melinda sedikit terkejut karena awalnya dia masih memikirkan apa yang terjadi beberapa saat lalu.


Melinda beranjak dari duduknya dan membuka pintu untuk mengambil makanan. “Makasih, Mas,” ucap Melinda pada kurir itu sebelum kemudian dia kembali menutup pintu.


Dengan gesit, Melinda membawa piring untuk makanan mereka. Mereka membeli ayam goreng lengkap dengan nasinya.


Cukup lama Melinda menunggu Raveno kembali hingga pria itu kembali. “Yuk makan!” ucap Raveno ketika baru saja datang.


Melinda mengangguk, mereka makan dalam diam. Selain karena menikmati makanan, mereka juga merasa masih canggung karena kejadian beberapa saat lalu.


Mereka makan tak membutuhkan waktu lama, mungkin karena mereka sudah sangat kelaparan.


“Aku beres-beres dulu,” ucap Melinda ketika mereka sudah selesai dengan makanan mereka. Raveno mengangguk mengiyakan ucapan Melinda.


Sementara Melinda membereskan bekas makan mereka, Raveno duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Rasanya belakangan ini dia sudah jarang sekali membuka ponselnya.


Entah itu karena latihan, pekerjaan atau sibuk menghabikan waktu berdua dengan Melinda.


“Ayo siap-siap. Jadi berangkat kan?” tanya Melinda karena melihat Raveno yang masih betah dengan ponselnya.


“Iya.” Raveno bangkit menuju kamarnya untuk membawa jaket. Begitu pula dengan Melinda yang mengganti bajunya dengan baju yang lebih tebal.


“Loh, kok gak pakai jaket?” tanya Raveno yang melihat Melinda hanya memakai baju biasa.


“Hmm, semua jaket aku dicuci, jadi gak ada cadangan lagi,” jawabnya. Tanpa bertanya lebih lanjut, Raveno kembali ke kamarnya.


“Nih pake, nanti kedinginan.” Raveno menyodorkan sebuah jaket berwarna hitam pada Melinda. Melinda menerimanya dan segera memakainya.


“Makasih,” ucap Melinda. “Hmm, ayo.” Akhirnya mereka berangkat dari sana menuju rumah Raveno.

__ADS_1


__ADS_2