
Pada akhirnya malam tadi Melinda tak bisa lolos dari Raveno. Gadis itu akhirnya harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Bangun, ada kelas pagi kan sekarang?" tanya Melinda.
Sebenarnya dia juga baru saja membuka matanya dan teringat jika Raveno sekarang ada kelas pagi.
Pria itu mengangguk dengan mata yang masih terpejam.
"Bolos aja boleh gak sih?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Heh gak boleh!" Melinda memang tipe orang yang sangat mencintai kehadiran.
Dia tak peduli apa yang akan Raveno lakukan di kelas, yang penting kehadiran. Pria itu harus hadir.
"Tapi aku cape. Emangnya kamu gak cape?" tanya Raveno yang berhasil membuat wajah Melinda tersipu.
Dia kembali mengingat kejadian semalam. Itu memang sangat panjang, wajar jika pagi ini mereka merasa sangat kelelahan.
"Diem, gak usah diingetin lagi!" sentak Melinda karena malu.
Dia menutup wajahnya dengan selimut yang masih menutupi seluruh tubuh polosnya.
Raveno kembali mendekati istrinya itu dan berusaha menyingkap selimut yang dikenakan Melinda.
"Rav!" sentak Melinda. "Kenapa sih? Lagian gak ada siapa-siapa kok," ucap Raveno.
"Ya tetap aja malu." Melinda menjawab dengan kesal.
"Malu sama siapa? Aku udah liat semuanya," ucap Raveno yang lagi-lagi dia mendapatkan pukulan ringan dari Melinda.
"Udah ah sana mandi!" perintah Melinda pada Raveno.
"Mandi bareng?" tanya Raveno. "Gak mau!! Cepet mandi sendiri!!" Melinda terus saja mendorong-dorong tubuh Raveno hingga pria itu menyerah dan beranjak dari ranjang hanya dengan menggunakan boxernya.
Sementata itu Melinda masih berusaha membuant rasa malunya. Beberapa kali dia menutup wajahnya yang tersenyum.
Tak lama, Melinda juga ikut beranjak untuk mendi di kamar mandi satunya agar tak terlalu memakan waktu.
Seperti yang dia katakan tadi, hari ini mereka ada kelas pagi.
Setelah selesai dengan urusan mereka, mereka kembali bertemu dengan penampilan yang lebih segar.
"Rav, ini gimana nutupinnya?" tanya Melinda dengan kesal.
Saat ini dia sedang memandang pantulan dirinya di cermin dan terlihat dengan jelas di lehernya ada noda berwarna kemerahan.
__ADS_1
Kalian tau dengan pasti siapa yang melakukannya.
"Ya udah gak usah ditutupin. Lagian gak keliatan jelas kok," jawab Raveno tenang sambil menyisir rambutnya.
"Gak jelas gimana? Jelas-jelas ini merah banget." Melinda berusaha menutupi noda itu dengan bajunya tapi tetap saja tak tertutup.
"Pakai baju turtle neck aja," saran Raveno.
Melinda akhirnya berjalan menuju lemari untuk mencari baju yang dikatakan Raveno.
Setelah mendapatkannya, Melinda segera mengganti bajunya. Beruntungnya bekas itu akhirnya bisa tertutup.
"Hhmm kan, makanya jangan panik duluan," ejek Raveno yang membuat Melinda mencebikan bibirnya.
Selesai dengan masalah bekas yang ditinggalkan Raveno itu, Melinda beralih pada wajahnya. Dia segera memoles wajahnya agar tak terlalu polos.
"Jangan lama-lama, nanti kesiangan," ucap Raveno sambil berlalu dari kamar. Seperti biasa, dia akan menunggu Melinda di ruang tamu.
"Jangan lama-lama apanya. Tadi aja dibangunin susah banget!" ujar Melinda kesal.
Tapi tetap saja dia melakukannya dengan cepat agar Raveno tak menunggunya lama.
Terakhir, Melinda mengambil tas selempangnya sebelum kemudian dia beranjak dari sana.
"Ayo!" seru Melinda saat keluar dari kamar.
Mereka berangkat menggunakan motor. Raveno bilang, dia lebih suka motor daripada mobil.
Melinda juga tak keberatan dengan hal itu karena dengan naik motor, dia bisa memeluk Raveno sepanjang jalan.
Mereka sampai di kampus tepat waktu. "Aku ke kelas dulu ya," izin Melinda. Walaupun satu kampus, mereka mengambil jurusan yang berbeda.
Melinda yang mengambil kedokteran dan Raveno dengan Bisnisnya. Dia bilang akan melanjutkan bisnis Ayahnya saja.
"Gak, aku antar kamu ke gedung kedokteran," ucap Raveno.
"Gak usah. Nanti kamu telat. Sana masuk kelas aja," jawab Melinda menolak Raveno.
"Ini bukan tawaran, jadi kamu gak bisa nolak." Melinda merotasikan bola matanya pasrah.
"Terserah kamu deh." Melinda berjalan duluan meninggalkan Raveno yang berjalan di belakangnya.
Tapi dengan mudah pria itu bisa menyamakan langkahnya dengan Melinda.
"Kok ninggalin sih?" tanya Raveno sambil menyampirkan tangannya di bahu Melinda.
__ADS_1
"Gak ninggalin. Emang kamunya aja yang lama." Raveno terkekeh mendengar jawaban Melinda.
Mereka berjalan cukup jauh karena memang jarak gedung kedokteran cukup jauh dari parkiran. Beda dengan gedung Bisnis yang berada tepat di seberang parkiran.
"Tuh kan lama. Belum nanti kamu balik lagi ke sana. Udah deh, orang lain selesai kelas kamu baru masuk," ujar Melinda yang membuat Raveno tersenyum
"Ya enggak lah. Lagian kan masih lama. Aku belajar itu dua jam dan ini baru telat beberapa menit," jawab Raveno.
Tak lama mereka telah tiba di gedung kedokteran tepatnya di kelas Melinda.
"Udah sampai. Sana ke kelas. Kalau selesai kelas nanti, kamu gak usah ke sini. Nanti aku tunggu kamu di katin gedung bisnis aja," ujar Melinda karena memang dia akan selesai lebih dulu dari Raveno.
Kali ini Raveno mengangguk. "Oke, tetap kabarin kalu kamu udah selesai." Melinda mengangguk.
Dia mendorong pelan suaminya agar cepat pergi dari sana. Raveno terkekeh dan dia pergi dari sana sambil melambaikan tangannya.
Raveno kembali ke gedung bisnis. Ketika memasuki kelas, benar saja dosen sudah ada.
"Permisi, Pak. Boleh masuk?" tanya Raveno sebelum dia benar-benar masuk.
"Dari mana aja kamu?" tanya dosen itu.
"Itu Pak. Tadi abis antar pacar dulu," jawabnya. Teman kampunya memang tak ada yang tau selain Dewa bahwa dia sudah menikah.
Beruntunglah dosen yang berada di kelasnya saat ini terlampau baik hingga dosen itu mengangguk.
"Sana duduk. Janga diulang lagi," ujar Dosen itu.
"Siap Pak. Makasih." Raveno segera masuk ke kelas. Semua orang yang ada di kelas itu memandangnya karena dia telat.
"Main lagi kan lu semalam," bisik Dewa. Pria itu memang sangat menjengkelkan. Selalu saja membawa kegiatan semalam jika Raveno telat datang ke kelas.
"Berisik lu!" Dewa akhirnya diam setelah dia terkena semprotan Raveno.
Raveno mengeluarka alat-alat belajarnya dan Dewa kembali fokus pada dosen di depan.
Meski kadang otaknya tak bisa menjangkau apa yang dikatakan dosennya, tapi setidaknya dia selalu memperhatikan.
Sudah berlalu sekitar satu jam setengah dan para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas itu sudah mulai bosan.
"Oke kita akhiri sampai di sini saja. Buat tugas yang tadi saya katakan, saya mau kalian kerjakan perkelompok!"
Teriakan dan eluhan terdengar di penjuru kelas itu
"Gak individu aja Pak? Ribet kalau kelompok," ucap salah seorang mahasiswa.
__ADS_1
"Enggak. Justru itu kalian harus belajar kerja sama ya. Kumpulkan minggu depan dan siapkan presentasi!"
Beginilah menjadi mahasiswa. Banyak tugas membuat kepala terasa ingin pecah.