
Hari ini adalah hari yang telah direncanakan oleh Bila dan Jeff. Mereka mengadakan syukuran untuk rumah baru mereka.
Suasananya di ruamahnya sekarang sangat ramai. Keluarga Bila, keluarga Jeff dan tetangga yang ada di sana datang ke rumah Bila.
Setelah acara inti, mereka menyantap makanan yang sudah disediakan oleh Bila dan keluarga.
"Silahkan dimakan," ucap Bila. Tetangganya tak sombong, mereka bisa berbaur dengan mudah dan Bila merasa nyaman.
"Kamu nikah muda?" tanya seorang ibu-ibu yang sedang asyik memakan puding.
Bila tersenyum dan mengangguk. "Iya Bu," jawabnya.
"Kenapa milih nikah muda? Padahal kayanya kamu seumuran sama anak saya. Anak saya masih sekolah," ucap ibu itu.
Setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu itu, Bila merasa tak nyaman. Tapi untuk menjaga sopan santunnya dia tetap menjawab.
"Iya Bu. Ngerasa udah cocok aja. Lagian kalau udah ada calonnya kenapa harud ditunda-tunda, iya kan?" Bila meminta pendapat dari ibu itu.
Senyum ibu itu menjadi agak canggung ketika Bila menjawabnya seperti itu.
"Tapi kok suami kamu kayanya udah berumur ya?"
"Iya Bu. Dia guru saya. Kayanya dia guru paling tampan di sekolah saya. Jadi saya cepat nikahin dia takut nanti malah direbut sama yang lain." Bila menjawabnya lagi.
Ibu itu tersenyum dan mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Bila.
"Kalau gitu ini anak pertama kamu?" Bila mengangguk.
"Iya ini akan pertama. Semoga setelah pindah ke sini kita bisa bikin lagi biar rumah segede gini gak sepi."
Jawaban itu dia lontarkan saking merasa kesal. Dia merasa pertanyaan yang dilontarkan orang itu agak sedikit privasi untuk orang baru seperti dirinya.
"Kalau gitu saya tinggal dulu ya Bu." Bila pamit pada orang itu untuk menyapa tamu yang lainnya.
"Iya silahkan." Bila pergi dari sana dengan gerutuan ringan yang tak kunjung reda.
Di suasana ramai itu Jeff menghampirinya dan merangkul istrinya.
"Kenapa hmm? Kok kaya bete gitu?" Jeff memang yang terpeka dari semua orang yang ada di sana.
"Tuh ada ibu-ibu yang kepo banget sama hidup kita," kesalnya.
"Ssttt gak boleh gitu. Mungkin dia cuma penasaran aja." Jeff berusaha memberikan pengertian pada istrinya.
__ADS_1
"Oh ini dia suaminya. Tadi saya gak lihat begitu jelas karena jauh. Ternyata ganteng banget ya," ucap ibu-ibu yang tadi berbicara dengan Bila.
Bila merotasikan bola matanya kesal. Namun Bila tentu saja melakukannya saat ibu-ibu itu lengah.
"Salam kenak Bu." Jeff menyapa ibu itu dengan ramah.
"Selain ganteng juga ramah ya. Anak saya cantik loh." Entah apa yang menjadi motif ibu itu bercerita tentang anaknya.
Bila ingin sekali mengeluarkan segala umpatannya saat ini tapi dia masih bisa menahan.
"Di sekolah, dia juga selalu jadi juara kelas. Kayanya dia seumuran sama istri kamu."
Jeff hanya tersenyum menanggapi ucapan itu.
"Bagus dong, pasti nanti orang yang akan menjadi suaminya sangat bangga punya istri kaya dia." Jeff akhirnya menjawab setelah dia menyusun kalimat dalam otaknya.
"Kalau aja kamu masih single, pasti sudah saya jodohkan dengan anak saya."
Bila membulatkan bola matanya mendengar hal itu.
Sepersekian detik saja Jeff terlambat menenangkan Bila, mungkin gadis itu akan meninju bebas ibu-ibu itu.
"Kalau gitu saya permisi dulu Bu." Daripada tetap di sana dan hal itu memicu keribuatan, Jeff membawa Bila ke kamar untuk berbicara.
"Gak boleh gitu ah. Ini kan lagi acara, hari bahagia kita." Jeff mencoba memberikan pengertian.
"Kesel banget aku. Apa coba maksudnya bilang kaya gitu? Dia mau rebut kamu dari aku?" tanya Bila dengan menggebu-gebu.
"Namanya juga ibu-ibu. Udah gak usah diladenin."
"Kalau aja tadi aku lupa sama sopan santunku, udah aku pelintir tuh mulutnya." Bila berkata sambil memperagakannya.
"Eh gak boleh gitu. Udah sini-sini." Jeff membawa Bila ke dalam pelukannya mencoba menenangkannya.
Bila diam. Dia masih tak membalas pelukan Jeff. Amarahnya masih memuncak apalagi ketika dia mengingat apa yang dikatakan ibu tak tau diri itu.
"Aku kesel banget!!" Mungkin karena hormon ibu hamil, saking kesalnya Bila saat ini menangis.
Tangannya mulai terangkat untuk membalas pelukan Jeff.
"Sstt udah jangan diambil hati. Mungkin dia bercanda."
"Hiks… Mana ada becandanya kaya gitu." Bila terisak di pelukan suaminya.
__ADS_1
"Iya udah. Lagian aku gak mau juga sama anaknya ibu itu. Kan aku udah jadi milik kamu," ucapnya.
"Jahat banget ibunya." Jeff terus berusaha menenangkan Bila hingga tangisan gadis itu reda.
"Udah?" tanya Jeff sambil terkekeh melihat wajah Bila yang penuh dengan air mata dan juga memerah.
Bila mengangguk-anggukkan kepalanya. "Udah gak usah nangis lagi. Yuk balik. Ke depan. Masa tamu undangan ditinggalin sih?" ujar Jeff yang diangguki oleh Bila.
Mereka akhirnya kembali ke depan di mana di sana masih banyak orang.
Satu persatu acara sudah dilalui dan mereka juga mulai pulang satu persatu.
Begitupun dengan ibu tadi. "Saya permisi ya. Makasih udah diundang. Kalau ingin bertemu anak saya main saja ke rumah."
Rupanya ibu itu belum menyerah untuk mencuci otak Jeff.
"Makasih Bu. Tapi kayanya kita gak bisa mampir ke rumah. Suami saya ini selalu mau kelonan sama saya." Bila akhirnya menjawab saking kesalnya.
Jeff memberikan kode pada Bila agar dia tak boleh berkata seperti itu. Namun Bila juga keras kepala dan masih teguh dengan pendiriannya.
"Iya kalau begitu saya pamit." Ibu itu pamit dengan nada yang sedikit kesal.
Dia sadar jika ucapan Bila tadi adalah sindiran untukknya.
"Kamu ini ada-ada aja. Apa salahnya dengerin dia aja gak usah diladenin," ucap Jeff saat di sana sudah tak ada siapa-siapa.
"Abisnya aku kesal banget. Bisa-bisanya dia ngundang suami aku ke rumahnya."
Bila terdiam sejenak sebelum dia mengingat sesuatu.
"Oh iya kamu juga. Jangan harap bisa ketemu sama anak tub ibu-ibu. Aku gak bakal biarin kamu keluar rumah."
Sifat posesif Bila akhirnya kembali muncul.
"Iya Sayang aku gak bakal pergi. Kan aku maunya kelonan sama kamu." Jeff mengulang ucapan Bila beberapa saat lalu yang dia katakan pada ibu itu.
Akhirnya acara di rumah mereka selesai. Orang tua Jeff dan Bila juga sudah pulang.
Niat awal orang tua Bila akan menginap, tapi mereka membatalkannya karena ada yang harus mereka lakukan.
Sekarang di sana seperti biasa hanya tersisa Bila, Jeff, Bi Inah dan Mang Parman.
"Non, ini sisa makanan masih banyak mau dikemanain?" tanya Bi Inah bingung.
__ADS_1
Biasanya Bi Inah yang akan menghabiskannya, tapi jika sebanyak ini mana mungkin perutnya bisa menampung.