Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
27. Sesal


__ADS_3

Di negara yang sering dijuluki dengan Negeri Ginseng, Bila kini sedang mengelus perutnya yang mulai membuncit. Terhitung tiga bulan dia berada di Negeri itu dan kini kandungannya sudah menginjak bulan ketiga juga.


Selama itu juga Bila berusaha melupakan Jeff. Bila terpaksa meninggalkan sekolah dan cita-citanya. Bahkan olimpiade Bahasa Inggris yang hendak dilakukannya dia tinggalkan begitu saja.


“Semoga kita bisa hidup di sini walau hanya berdua,” ucapnya. Selama dua tahun terakhir, Bila berusaha sendiri. Mencari uang untuk bertahan hidup.


Bila mencoba bekerja paruh waktu di manapun, tapi akhirnya dia memutuskan untuk bekerja sebagai guru les Bahasa Inggris karena hanya itu yang nyaman baginya.


Walau bayarannya tak seberapa karena ijazah pendidikannya hanya sampai SMP, tapi hal itu tak membuat Bila menyerah.


“Ah aku harus bersiap, sebentar lagi aku harus berangkat,” ucapnya. Bila masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya.


Dia tak membeli rumah, dia hanya menyewa rumah pertahun karena hanya itu yang dia mampu.


Bila sudah siap dengan baju yang sedikit formal. Semua pakaiannya terlihat sedikit ketat karena badannya yang mulai membesar.


“Mungkin pulang nanti aku harus membeli baju baru,” ucapnya. Setelah itu Bila berangkat ke rumah salah satu anak didiknya.


****


Sementara itu, Jeff masih di tanah kelahirannya. Sudah tiga bulan dia berusaha mencari Bila dan hasilnya masih sama. Dia tak berhasil menemukan Bila.


Ada rasa sesal yang bersarang di benaknya setelah kepergian Bila. Dia memang tak menginginkan anak itu, tapi bukan berarti Bila juga harus pergi dari kehidupannya.


“Kau di mana? Aku hampir menyerah dengan semua ini, Bil,” lirihnya. Dia menopang kepalanya karena merasa akan pecah.


“Apa aku sejahat itu sampai kamu meninggalkanku seperti ini?” Lagi-lagi Jeff bertanya. Namun percuma, meskipun dia bertanya tak akan ada jawaban karena orang yang dia sayang kini telah meninggalkannya entah kemana.


“Apa lagi yang harus aku lakukan? Bahkan aku sudah meminta bantuan kepada Kakekku.”


Begitulah kehidupan Jeff setelah Bila pergi dari hidupnya. Dia tetap pergi ke sekolah untuk mengajar, namun belakangan ini dia sering kali tak fokus.


**** 

__ADS_1


Seperti yang telah direncanakan, Bila mampir ke toko pakaian untuk membeli beberapa baju yang berukuran agak besar agak bisa terpakai lama.


Bila tertegun sesaat ketika melihat sebuah keluarga kecil yang sedang belanja bersama. 


“Andai saja Jeff menerima bayi ini, aku pasti akan sebahagia itu.” Senyum tipis terukir indah di wajah Bila saat membayangkan betapa indah hidupnya jika saja hal itu terjadi.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pegawai yang baru saja menghampiri Bila. Orang itu berbicara dengan bahasa Korea. 


Bila yang memang masih belum bisa berbahasa Korea dengan lancar akhirnya menjawab pegawai itu dengan Bahasa Inggris.


“Sorry, I can’t speak Korean,” ucap Bila.


“Emm okay. Can I help you?” Pegawai itu bertanya untuk yang kedua kalinya.


“I want to buy maternity clothes. Or clothes that have a slightly large size,” ujarnya.


Pegawai itu mengangguk dan memberikan isyarat pada Bila untuk mengikutinya. Bila yang mengerti segera mengikuti pegawai itu.


Pegawai itu memperlihatkan beberapa baju yang Bila inginkan. “We only have these three models.”


“I want this one and this one.” Akhirnya Bila memilih dua dari tiga pakaian itu. Untuk saat ini dia hanya bisa memilih dua karena memang pengeluarannya yang membengkak bulan ini.


Setelah mendapatkan pakaian yang dia inginkan, Bila segera pulang ke rumahnya. Hidup sendiri membuat Bila belajar jika hidup itu sangat berat.


Bila terbiasa dilayani di rumahnya. Sekarang ketika dia harus melakukan semuanya sendiri, maka hal itu terasa sangat berat.


Bila membuka pintunya. Dia merindukan Bi Inah yang memang telah merawatnya sejak kecil. Dia merindukan masakan Bi Inah, dan bagaimana Bi Inah menyambutnya ketika dia pulang sekolah.


Tak terasa air mata mulai turun di pipinya ketika dia mengingat kenangan-kenangan indah yang telah dia lewati dengan orang-orang terdekatnya.


“Aku sangat merindukan kalian,” ucap Bila sambil mengusap air matanya. Dia rindu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. 


Dia tak bisa menemui orang yang dia rindukan karena jika dia pulang, dia pasti akan bertemu dengan kedua orang tuanya dan hal itu yang dia takutkan.

__ADS_1


Dia takut orang tuanya akan tahu jika Bila hamil dan berakhir tak menerima Bila di rumah. Maka, dia memilih pergi saja.


“Baiklah Bila. Ayo berhenti. Kamu harus makan sekarang, sepertinya Baby sudah lapar,” kekeh Bila sambil mengelus perutnya.


Dia sangat tak sabar menantikan Baby itu lahir ke dunia sehingga dia tak lagi merasa kesepian.


Bila memasak seadanya. Dia memang belum banyak belajar. Untuk saat ini dia hanya bisa membuat nasi goreng dan telur mata sapi.


“Oke siap.” Hanya satu porsi yang dia masak. Sering kali Bila merasa kesepian, namun dia tak bisa melakukan apa-apa. Jadi untuk sedikit meminimalisir kesepian itu, dia makan sambil menonton film.


“Ahh harusnya dia meloncat, jadi dia tak akan tertangkap,” ucap Bila mengomentari film yang sedang di tonton.


Begitulah kegiatan Bila ketika sedang makan. Dia hanya berisik dengan berbagai komentar yang keluar dari mulutnya. Dan hal tersebut sudah berlangsung selama tiga bulan.


**** 


Sepulang sekolah hari ini, Jeff datang ke rumah Bila untuk kembali menanyakan keberadaan gadis itu. Dia berharap Ayah Bila sudah mendapatkan info tentang keberadaan Bila.


“Ayah, bagaimana apa Ayah menemukan Bila?” tanya Jeff gusar. Untuk kali ini entah mengapa dia sangat berharap Ayah Bila menjawab ‘Ya’.


Namun harapan itu sirna ketika Ayah Bila menggeleng begitu saja.


“Jeff apa mungkin kamu punya masalah sama Bila sampai dia pergi seperti ini? ini sudah tiga bulan dan dia belum kembali,” ucap Ayah Bila.


Jeff terdiam. Dia tak mungkin mengatakan jika dia menghamili Bila karena hal itu pasti akan semakin menjauhkan Bila darinya untuk saat ini.


“Aku tak tahu. Aku merasa selama ini aku baik-baik saja dengannya,” dusta Jeff. Di terpaksa berbohong karena dia tak mau Ayah Bila menjauhkannya dari Bila.


“Baiklah. Aku belum menemukannya saat ini. tapi sepertinya dia memiliki masalah sehingga dia pergi begitu saja.”


Jeff mengangguk setuju. “Baiklah, untuk sekarang aku akan pulang dulu. Aku juga akan mencarinya sampai ketemu.” Jeff berpamitan pada Tuan Harla.


Tuan Harla mengangguk dan mengantar Jeff hingga ke depan pintu masuk. 

__ADS_1


Jeff meninggalkan kediaman Tuan Harla dengan segala pertanyaan yang ada di benaknya. Salah satunya adalah pertanyaan di mana Bila saat ini.


Dia khawatir pada gadis itu karena Bila tak pernah hidup sendiri. 


__ADS_2