
Hari ini di sekolah berjalan normal seperti biasa. Tapi ada satu hal yang berbeda jika biasanya Melinda yang akan mencari Raveno, maka sekarang malah pria itu yang memutari sekolah untuk mencari melinda.
“Sialan! Di mana cewek itu?!” umpatnya kesal saat dia merasa sudah mengelilingi area sekolah hampir keseluruhan.
Dia akhirnya pergi ke kantin terlebih dulu untuk mengisi perutnya dan juga tenggorokkannya yang terasa kering.
Raveno berfikir keras, di mana kiranya gadis itu berada. Kelanya sudah dia datangi dan temannya bilang gadis itu belum datang.
Sampai bel masuk tadi Raveno juga sudah menunggu di pos satpam, tapi batang hidungnya tak kunjung nampak.
“Dia gak apa-apa kan?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Kenapa ganggu fikiran gue mulu sih lo!!” Raveno mengacak rambutnya kesal.
Sejak kejadian semalam, dia menjadi tidak rasional. Dia yang jelas-jelas terganggu dengan keberadaan Melinda yang selalu menempelinya, kini malah otaknya penuh dengan gadis itu.
“Oke kalau lo milih itu, gue nanti ke rumah lo,” desisnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu sebelum dia benar-benar pergi ke rumah Melinda nanti.
Sementara itu, Jeff baru saja tiba pukul sembilan di sekolah. Yang niatnya akan mengantar Bila jam sepuluh saat istirahat pertama ternyata berubah.
Setelah menghubungi dokternya, dia bilang bisa ditemui pagi hari. Jadilah Jeff pergi mengantar istrinya terlebih dahulu sebelum dia pergi ke sekolah.
“Tumben siang, Pak?” tanya satpam. Memang yang dia tahu Jeff selalu tepat waktu dan tak pernah berangkat siang seperti sekarang.
“Iya, Pak. Ada urusan dulu di rumah.” Satpam itu mengangguk. Setelah gerbang dibuka, Jeff melajukan mobilnya ke dalam sekolah. Dia memarkirkan mobilnya sebelum dia pergi ke ruangannya.
Ponselnya bergetar tepat ketika dia berada di ruangannya. “Halo,” ucap Jeff.
“Dengan Pak Jeff??” tanya orang di seberang sana. “Ya saya sendiri.”
“Bapak, untuk rumah yang Bapak katakan. Kami telah menyiapkannya dan mungkin bisa ditempati dua hari kedepan,” ucap orang di seberang sana.
“Baiklah, terima kasih. Akan saya transfer sekarang.” Setelah selesai dengan percakapannya, Jeff memutuskan sambungan.
Senyumnya mengembang ketika dia membayangkan betapa bahagianya istrinya nanti ketika mereka sudah pindah.
****
__ADS_1
“Dasar anak kurang ajar!! Gak tau diuntung!” Suara bentakkan menggema di seluruh penjuru ruangan.
Sementara gadis yang saat ini sedang dibentak itu hanya meringkuk di pojok ruangan dengan luka memar yang berada di sekujur tubuhnya.
“M-maaf Pah,” lirihnya. Air matanya sedari tadi tak henti mengalir. Sakit? Tentu saja, siapa yang ingin mengalami penyiksaan seperti ini?
“Kalau lain kali Papah lihat kamu gitu lagi? Jangan harap kamu bisa selamat!” Setelah mengucapkan hal itu, Papahnya pergi begitu saja.
Melinda, gadis kurang beruntung yang tetap bertahan hidup hanya karena takut untuk mati. Gadis itu berusaha meraih Ventolin Inhaler-nya yang tergeletak tak jauh dari sana.
Setelah menghirupnya, nafasnya mulai kembali normal. Jika saja dia tak takut mati, mungkin sudah sejak lama dia membuang alat itu dan membiarkan dirinya mati perlahan.
Tapi sayang, dia terlalu takut. Apalagi sekarang ada orang yang sangat ingin dia gapai. Raveno, pria tampan nan berprestasi yang mampu membuat Melinda masih berfikir untuk hidup.
Tak lama setelah dia bergelut dengan fikirannya, suara motor terdengar olehnya. Dia melihat dari jendela kamarnya.
“Raveno?” lirihnya. Air matanya yang tadi mulai berhenti, kini kembali menggenang di pelupuk matanya.
“Kenapa kamu ke sini lagi?” Sebisa mungkin Melinda menahan agar tangisnya tak pecah. Dia tak ingin Raveno tahu keadaannya yang seperti ini. gadis itu membekap mulutnya dengan rapat.
Seorang pria paruh baya yang Raveno kenal keluar dari rumah itu. Ekspresinya sangat tidak bersahabat.
Raveno tahu pria itu sangat tak suka dengan kehadirannya saat ini. “Ngapain kamu ke sini lagi?! Mau buat Melinda nakal?!” bentak pria itu.
Raveno tetap bersikap tenang. “Enggka Om. Saya cuma khawatir sama Melinda. Dia gak sekolah tadi. Dia baik-baik saja?” tanya Raveno.
Melinda masih bisa melihat pria itu dari kamarnya. Dia juga masih bisa mendengar apa yang dikatakn pria itu.
“Benarkah?” bisiknya tak percaya ketika Raveno berkata diaa khawatir padanya.
“Bukan urusan kamu! Pergi dari sini!!” Pintu tertutup dengan keras. Raveno sedikit terlonjak dan menutup mata erat setelahnya.
“Mel!!? Lo di dalam? Kalau iya tolong jawab gue!!” Tak ingin menyerah begitu saja, Raveno berteriak dengan keras di depan rumah Melinda.
Melinda semakin menangis mendengar hal itu. Dia ingin sekali menjawab Raveno, atau mungkin dia sangat ingin pergi dari rumah itu sejauh mungkin.
__ADS_1
Tapi tak bisa, semuanya tak semudah membalikan telapak tangan. “Lo baik-baik aja kan?!!” Lagi-lagi Raveno berteriak.
“Pulang Rav, aku mohon pulang,” lirihnya. Melinda tak bisa lagi menahan beban tubuhnya. Dia terduduk di kamarnya dengan air mata yang berlinang.
Setelah beberapa saat Raveno berteriak, teriakan itu kini tak terdengar lagi tergantikan dengan suara motor Raveno yang meninggalkan rumahnya.
“Kamu lihat?! Dia ninggalin kamu gitu aja!” ucap Papahnya yang tiba-tiba datang ke rumahnya.
Ingin sekali dia menjawab jika Raveno pergi bukan karena ingin meninggalkannya. Tapi pada kenyataannya dia hanya bisa membisu.
****
“Sayang, aku pulang,” ucap Jeff ketika di tiba di apartemennya. Dia datang tak sendiri, melainkan membawa dua tuyul yang memaksa untuk ikut.
Bila datang dari kamarnya, dia berjalan sambil mengikat rambutnya. “Hai Bila!!” seru keduaa temannya yang cukup membuat Bila terkejut.
“Kalian?!” Bila juga berteriak. “Kalian ini jangan teriak-teriak kenapa sih? Ini di rumah loh bukan di hutan,” kesal Jeff.
“Maaf. Habisnya aku kaget ada dua anak ini,” cicit Bila. Jeff mengelus rambut Bila lembut.
“Kalian pulang bareng suami gue?” tanya Bila yang spontan duduk di sofa begitupun Stevani dan Keisya. Sementara Jeff masuk ke kamarnya tak ingin mengganggu waktu Bila dengan temannya.
“Hhmm, lumayan lah ya irit ongkos,” kekeh Stevani.
“Lain kali gak sudi gue kalian pulang bareng suami gue,” ucap Bila. “Pelit amat lo.”
Entahlah, harusnya dia merasa biasa saja dengan hal itu, tapi dia sekarang merasa tak rela jika di mobil suaminya ada orang lain selain dirinya walaupun itu sahabatnya sendiri.
“Iya deh, posesif amat.”
“Ngapain lo pada kesini?” tanya Bila. “Cuma mau gibah aja sih.”
Bila sudah curiga dengan topik pembicaraan yang akan diangkat oleh dua temannya ini.
“Lo tau Raveno kan? Tau lah ya, gak mungkin gak tau.” Bila memejamkan matanya. Apa dia bilang, bukan masalah se-gawat apa permasalahannya, tapi bisa lebih gawat jika Jeff mendengar hal itu dan suaminya itu cemburu.
__ADS_1