
“M-maaf Nyonya,” lirih Bi Inah sambil menundukan kepalanya karena dia merasa sangat takut saat ini. Dia akhirnya membocorkannya, membocorkan hal yang selama ini Bila rahasiakan.
Bunda Erina menggeleng lemah. “Enggak, Bi. Bukan permintaan maaf yang saya mau. Saya mau penjelasan dari apa yang Bibi katakan tadi,” pinta Bunda Erina dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.
Bi Inah memejamkan matanya. Haruskah dia mengatakan apa yang terjadi selama ini?
“N-no Bila... Dia...” Bi Inah agak ragu untuk mengatakan apa yang terjadi pada Bila.
“Bila hamil?” tanya Bunda Erina cepat. Dia sangat tak sabar dengan penjelasan yang akan disampaikan oleh Bi Inah.
Bi Inah mengangguk lemah sambil merapalkan permintaan maaf pada Bila beberapa kali. Dia sangat menyesal karena tak bisa menjaga amanah yang diberikan oleh Nona mudanya.
Tapi meski demikian, sudah sejak lama dia ingin memberitahukan hal ini pada majikannya karena bagaimanapun kedua orang tua Bila harus tahu tentang keadaan putrinya.
Tangis Bunda Erina pecah ketika dia mendapatkan anggukan dari asisten rumah tangganya. Tangisannya sangat memilukan. Mungkin siapapun yang mendengarnya akan merasakan sakit yang sama.
Bi Inah mencoba menenangkan majikannya. Dia juga ikut menangis.
“Sejak kapan? Kenapa tidak mengatakannya? Hiks...hiks,” lirihnya. Bunda Erina memukul-mukul pelan dadanya sendiri. Rasanya sangat sesak baru mengetahui sekarang jika putrinya sedang mengandung.
“M-maaf Nyonya. Saat itu ketika Non Bila dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan jika Non Bila sedang mengandung. Itulah kenapa Non Bila pingsan. Bibi juga udah menelpon Den Jeff dan kemungkinan dia juga tahu, Nya,” jelas Bi Inah.
Biarlah kali ini dia akan menyampaikan semuanya tanpa ada yang dia tutupi satupun. “Awalnya Bibi juga mau mengatakannya sama Tuan dan Nyonya. Tapi Non Bila bilang dia tak mau jika Tuan dan Nyonya tahu.”
Sampai di sini Bunda Erina sudah tahu apa yang dimaksud oleh Bi Inah. “Jika memang dia hamil, kenapa dia pergi?”
Pertanyaan majikannya yang tidak bisa dia jawab karena dia juga tak mengetahui alasan kenapa Bila pergi.
Bi Inah menggeleng. “Bibi nggak tahu, Nya.”
“Siapa saja yang tau tentang ini?” tanya Bunda Erina. Kali ini tangisannya sudah sedikit reda. Hanya tersisa isakan kecil yang berusaha dia tahan agar tak keluar begitu saja.
__ADS_1
“Mungkin hanya Bibi, Mang Parman dan Den Jeff,” jawab Bi Inah yang membuat Erina memandang ke depan dengan tatapan kosong.
Jika selama ini Jeff tahu, kenapa dia diam saja. Kenapa ketika dia ditanya seputar permasalahan dengan Bila, pria itu mengatakan tak ada yang terjadi?
“Jadi Jeff tahu?” tanya Erina berusaha memastikan. Dia tak ingin salah tuduh atau berburuk sangka pada orang lain.
Namun, lagi-lagi Bi Inah mengangguk pelan. Dia yakin Jeff tahu karena pria itu sendiri yang menemui dokter setelah pemeriksaan Bila.
Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Erina kembali ke kamarnya dengan pandangan kosongnya. Dia tak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi pada putrinya.
“Halo, Yah,” panggilnya saat panggilannya sudah terhubung.
“Kenapa, Bun? Ada masalah?” Tuan Harla bertanya dengan lembut mengingat mood sang istri belakangan ini sangat sensitif.
“Bila hamil.” Ada jeda beberapa saat setelah Bunda Erina mengatakan hal itu. Tuan Harla tak merespon untuk beberapa saat mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar dari istrinya.
“Apa maksud Bunda? Gak lagi bercanda, kan?” tanya Tuan Harla dari seberang sana. Dia merasa aneh karena tiba-tiba istrinya menelpon dan mengatakan hal lain tentang Bila. Padahal putrinya itu bahkan belum dia temukan.
“Jadi, Jeff yang melakukannya?” tanya Tuan Harla setelah istrinya selesai menjelaskan semuanya.
“Bunda gak yakin, tapi siapa lagi yang akan berbuat seperti itu? Selama ini pria yang dekat dengan Bila cuma Jeff aja, Yah,” jawab Erina.
“Oke, Bunda tenang dulu. Ayah coba cari tahu semuanya.” Erina mengangguk setelah mendapatkan kalimat penenang dari suaminya.
Saat ini dia hanya bisa merenung. Dia menyerahkan semuanya pada suaminya dan berharap bisa segera menemukan Bila. Erina saat ini sangat khawatri, apalagi ada nyawa lain dalam perut putrinya itu.
****
“Jeff, kapan kau pulang?” Suara Tuan Harla berubah dingin. Sangat berbeda dengan tadi sebelum dia mendapatkan kabar dari istrinya.
“Belum tahu, Yah. Jeff masih harus cari Bila di sini, kan?” tanya Jeff. Dia merasa ada yang aneh dengan Ayah Bila.
__ADS_1
“Tinggalkan itu. Ayah akan mengurus itu. Ayah mau kamu pulang secepat mungkin. Ada yang perlu kita bicarakan,” ucap Tuan Harla yang tentu saja semakin membuat Jeff penasaran.
“Jeff pulang besok.” Akhirnya Jeff memutuskan untuk pulang besok karena dia merasa tak enak hati.
Tak ada jawaban lagi. Sambungan telpon dimatikan sepihak setelah Jeff memastikan jika dia akan kembali ke Indonesia besok hari.
“Apa ada yang terjadi? Mungkinkah Bila sudah ketemu?” Raut wajah Jeff sangat bahagia ketika dia membayangkan jika Bila sudah ketemu dan akan pulang ke rumahnya.
“Sebaiknya aku bersiap untuk berangkat besok,” ujarny. Dia membereskan pakaian dan berbagai macam barang ke dalam kopernya.
Akhirnya penantiannya yang sangat lama akan berakhir. Bila-nya akan kembali ke dalam pelukannya dan dia berjanji tak akan lagi melepaskan gadis itu jika sudah kembali.
Senyumnya tak pernah pudar setelah mendapatkan telpon dari Tuan Harla. Bahkan saat ini Jeff bisa makan dengan tenang tanpa harus terbebani pikiran.
Waktu berlalu dan Jeff sudah terbangun dari tidurnya. Dia beranjak untuk mandi sebelum kemudian dia berangkat ke bandara.
****
Jeff tiba di tanah kelahirannya. Dia bahkan tak mengingat rumahnya sendiri. Saking senangnya, dia langsung pergi ke rumah Bila. Koper besar masih setia dalam genggamannya saat dia masuk ke rumah itu.
“Ayah!” seru Jeff saat memasuki rumah itu dan menampilkan Tuan Harla yang sepertinya sudah menunggunya cukup lama.
Plak
Senyuman yang sedari kemarin terbit di wajah Jeff kini hilang begitu saja ketika rasa panas menjalar di pipi kirinya. Dia memegang pipinya dan dengan perlahan menoleh ke arah Ayah Bila.
Di sana tak hanya ada Tuan Harla, tapi juga ada Bunda Erina, Bi Inah dan Mang Parman. Berbeda dengan sang pemilik rumah, Bi Inah dan Mang Parman hanya menundukan kepalanya saat Tuan Harla menampar pipi Jeff.
“Kurang ajar kamu!!” bentak Tuan Harla tepat di depan wajah Jeff.
Jeff terdiam tak mengerti. Kejutan yang dia nantikan ternyata hanya sebuah angan dan tergantikan dengan kejutan lain yang berbanding terbalik dengan apa yang dia bayangkan.
__ADS_1