Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
64. Kenapa?


__ADS_3

Raveno dan Melinda masih dalam perjalanan. 


"Rav, turunin aku di depan aja ya," pinta gadis itu. 


Raveno belum menurunkannya. "Kenapa?" tanya pria itu heran. 


"Gak kenapa-kenapa. Pengen turun di sana aja," jawab Melinda. 


"Gak. Gue anterin sampai rumah lo. Sekarang udah malam," ujar pria itu. 


"Mel mohon turunin di depan."


Gadis itu terlihat seperti akan menangis. Raveno yang bingung akhirnya menghentikan laju motornya.


Pria itu menengok ke belakang di mana Melinda berada. Ada raut sedih yang tak pernah pria itu lihat.


"Kenapa lo?" tanya Raveno. Melinda hanya menggeleng tanpa niat menjawab pertanyaan Raveno.


"Mel mau turun di sini." Gadis itu hendak turun dari motor Raveno, namun pergerakannya terhenti ketika Raveno menahanny.


"Mel, walaupun gue gak suka sama lo, gue tatap cowok. Gue yang bikin lo pulang larut, jadi gue harus tanggungjawab buat bawa lo pulang," jelas Raveno.


"Gak apa-apa kok. Mel bisa pulang sendiri. Rav cukup anterin Mel sampai sini aja." Melinda turun dari motor Raveno, kali ini dia tak mencegahnya.


"Makasih ya Rav. Mel pulang dulu, sampai ketemu besok di sekolah. Oh jaketnya biar Mel cuci dulu ya." Melinda melambaikan tangannya sebelum kemudian meninggalkan Raveno.


Sebelum meninggalkan Raveno, Melinda tersenyum terlebih dulu pada pria itu. Tapi Raveno sangat yakin jika senyum yang diberikan gadis itu bukan senyum tulus yang biasa dia berikan.


Senyum itu terlihat sangat dipaksakan.


Sepeninggalan Melinda, Raveno tak langsung pulang. Dia menunggu gadis itu menjauh sebelum kemudian dia memarkirkan motornya di sana.


Jalanan yang gelap membuat Raveno agak khawatir pada gadis itu.


"Kenapa mau turun di sini sih?" bisiknya pelan. Dia berjalan mengikuti gadis itu lumayan jauh hingga Melinda berbelok di depan.


Sebuah rumah yang bisa dikatakan besar. "Jadi itu rumahnya?" ucap Raveno.


Dia sedikit lega karena Melinda sudah tiba di rumahnya. Dia memandang gadis itu masuk gerbang dan dia melihat di luar gerbang.


Tak lama ada seorang pria yang menghampirinya. Bisa Raveno lihat jika Melinda ketakutan.


"Dari mana aja kamu?!!" bentak pria itu yang sontak membuat Melinda terlonjak. Bukan hanya gadis itu, tapi Raveno yang juga mendengarnya ikut terkejut.


"M-maaf P-pah, tadi M-mel dari RS dulu," jawab Mel gagap.


Hal yang baru dilihat oleh Raveno dari kepribadian gadis itu.

__ADS_1


"Alasan!! Masuk kamu?!! Mau kabur kan?!!" Amarah sang Papah semakin memuncak ketika membayangkan jika sang anak akan pergi darinya.


Melinda segera menggelengkan kepalanya. "E-nggak Pah."


"Permisi, Om." Suara bariton yang sangat melinda kenali. Suara yang selama ini selalu didambakannya.


Melinda membalikan badan untuk melihat dengan pasti pemilik suara itu.


"Rav?" lirihnya ketika dia akhirnya melihat orang itu.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Melinda dengan suara bergetar.


Sebelum Raveno menjawab pertanyaan Melinda, pria yang disebut sebagai Papah Melinda itu memperhatikannya dari atas hingga bawah.


"Siapa kamu?!" bentak Papah Melinda. Melinda yang tahu apa kelanjutannya segera memandang Papahnya dan menyembunyikan Raveno di belakang tubuhnya.


"Gak ada Pah. Mungkin dia cuma salah alamat," ucap Melinda. Raveno terkejut ketika Melinda berucap seperti itu.


Dia tak mau kalah. Dia menyingkirkan tubuh Melinda yang menjadi perantara di antara dia dan Papahnya Melinda.


"Enggak Om. Saya kenal Melinda. Dia teman saya. Saya datang ke sini untuk - " 


Plak


Suara tamparan menginterupsi ucapan Raveno. Sebelum dia menyelesaikan ucapannya dia merasakan panas yang menjalar di pipinya.


"Saya gak - "


"Pergi saya bilang!!!" Lagi-lagi ucapannya terpotong.


"Rav, kamu pulang dulu ya. Mel mohon," lirih Melinda. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.


Gadis itu ingin menghampiri Raveno dan mengobati lukanya. Tapi keadaan tidak memungkinkan.


"Masuk kamu!!" Melinda diseret oleh Papahnya masuk ke rumah.


Pandangan menyesal Melinda tak menghilang ketika dia berbalik untuk melihat Raveno. Sementara Raveno masih di sana dengan perasaan herannya.


**** 


"Kamu besok check up?" tanya Jeff. Mereka saat ini sedang berbaring di ranjang mereka dengan Bila yang berbaring nyaman di pelukan suaminya.


"Gak tau. Awalnya iya, tapi kan kamu besok sekolah. Aku gak mau pergi sendiri." Mode manja Bila telah kembali.


"Emang siapa yang bilang bakal biarin kamu pergi sendiri?" tanya Jeff.


Bila mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Jeff secara langsung.

__ADS_1


"Emang kamu mau antar?" tanya Bila yang diangguki oleh Jeff.


"Hmm aku yang antar. Lagian aku juga mau tau keadaan anak aku."


Memang tak terasa, kandungan Bila menginjak bulan kelima. Empat bulan lagi hingga dia bisa melihat sosok anaknya itu.


"Nanti kalau aku lahiran, aku mau kamu ada di samping aku terus loh," ucap Bila.


Jeff terkekeh dengan ucapan istrinya itu. Memangnya dia akan pergi ke mana? Tentu saja dia akan menemani istrinya itu.


"Kamu fikir aku mau kabur?" kekeh Jeff.


"Gak gitu, aku cuma takut kamu gak masuk ke dalam dengan alasan 'aku takut darah, nanti aku pingsan'." Bila mengejek Jeff.


"Kocak kamu! Enggak lah. Ya kali istri aku berjuang sendirian di dalam aku gak temenin. Aku temenin kok," jawab Jeff.


Bila tersenyum lebar dan kembali memeluk suaminya.


"Jadi besok pagi atau siang?" tanya Bila. Dia menyesuaikan saja dengan Jeff karena memang pria itu yang memiliki kesibukan.


"Kayanya aku bisa jam sepuluh. Kebetulan juga istrirahat pertama jadi aku bisa izin bentar." Bila mengangguk mendengar ucapan Jeff.


Hening untuk beberapa saat hingga Jeff kembali bersuara.


"Kamu gak mau tidur? Ini udah malam loh." Jeff memandang jam yang tertempel di dinding tepat di seberangnya.


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam lebih sepuluh menit dan mereka belum juga terlelap.


"Iya bentar ini aku juga lagi berusaha." Jeff terkekeh.


Entah kenapa kadang kalimat yang keluar dari mulut Bila sangat lucu menurutnya.


Tapi kadang gadis itu juga terlihat menyeramkan apalagi jika dia sedang marah.


"Tidur Sayang." Jeff berusaha membuat Bila terlelap dengan mengelus surai gadis itu.


Bila mulai memejamkan matanya dan memeluk Jeff lebih erat.


Sementara itu, Jeff masih terjaga dengan segala fikiran yang hinggap di kepalanya.


Setelah meyakinkan jika istrinya itu tidur, dia membenarkan posisi Bila dan menyelimutinya.


Sementara itu Jeff pergi ke balkon dan menyalakan rokok yang selama ini selalu menjadi sahabat setianya dikala dia dalam keadaan seperti ini.


"Apa yang mesti gue lakuin? Gue gak mau nyakitin dia lagi," lirihnya diiringi dengan hembusan asap setelah dia menghisap benda itu.


Malam yang dingin itu menjadi saksi bagaimana Jeff merasa gundah dengan segala permasalahan yang menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2