
Seperti yang telah Raveno katakan, pulang sekolah dia akan latihan basket terlebih dahulu. Saat ini dia sedang berjalan menuju kelas Melinda karena gadis itu mengatakan akan menunggunya latihan.
Kebanyakan murid sudah keluar kelas karena jam pulang memang sudah berlalu agak lama. Namun entah mengapa Melinda tak kunjung datang ke kelasnya. Itulah kenapa Raveno menyusul gadis itu ke kelasnya.
“Ini sih kayanya gurunya nih yang suka nyolong waktu, padahal udah jelas bel bunyi dari tadi,” gerutu Raveno saat melihat kelas Melinda memang belum bubar.
Raveno sengaja memperhatikan guru itu dari luar agar dia tersadar jika jam pulang sudah berlalu sejak tadi.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya guru itu mengakhiri ceramahnya. Raveno menghela nafas lega. Dia pergi ke dalam kelas ketika guru itu sudah keluar.
“Lama banget sih.” Raveno kembali mengomel pada Melinda, padahal dia sendiri sudah jelas tahu kenapa kekasihnya itu lama.
“Iya maaf, kan tadi gurunya masih ngajar. Masa aku keluar gitu aja,” ucap Melinda sambil memasukan buku-buku ke dalam tasnya.
“Udah semua?” tanya Raveno memastikan jika Melinda sudah memasukan semua bukunya.
“Udah. Yuk!” Akhirnya mereka pergi ke lapang basket sekolah yang letaknya ada di belakang.
“Siapa aja dari kelas kamu?” tanya Melinda ketika mereka menuju ke lapang. “Dewa, Radit sama Tian.” Entahlah, Melinda hanya mengetahui Dewa saja dan sisanya dia tak mengenalinya.
“Tunggu di tribun aja ya,” ujar Raveno saat mereka sudah tiba di lapangan. Melinda mengangguk.
“Rav, cepetan!! Udah telat, lambat pula!!” teriak teman-temannya. Setelah menitipkan tas pada Melinda, pria itu segera berlari menghampiri temannya.
Raveno terhanyut dalam permainan hingga dia sepertinya melupakan Melinda yang sedang duduk memperhatikannya dari tribun.
Cukup lama Melinda memandang pria itu dan sesekali membuka ponselnya karena merasa bosan hingga permainan sepertinya akan segera usai.
Melinda lupa jika dia tak membeli minum. Pasti setelah berlatih nanti, Raveno lelah dan haus. “Ke kantin dulu deh,” ucapnya sambil berlalu dari sana.
Melinda tak berpamitan karena dia hanya akan pergi sebentar. Tapi dia melupakan sesuatu, dia lupa jika semua siswa sudah pulang dan kantin sudah tutup.
“Lah iya, kan udah pada balik ya? Kenapa bisa lupa?” ucap Melinda sambil menepuk pelan jidatnya.
__ADS_1
“Terpaksa ke seberang deh,” lanjutnya. Akhirnya Melinda memutuskan untuk membeli minum ke warung seberang sekolahnya.
Dia berjalan cukup jauh karena lokasinya tadi berada di belakang sekolah.
Sementara itu, latihan sudah selesai dan Raveno spontan melihat ke tribun di mana tasnya dan tas Melinda berada di sana.
Tapi, pria itu sama sekali tak melihat keberadaan sang empu. “Ke mana dia?” tanyanya mulai khawatir.
“Dew, lo liat pacar gue gak?!” teriak Raveno pada Dewa yang berada tak jauh dari tempatnya.
“Lah, mana gue tau. Dari tadi kan kita main bareng. Mana sempat liatin sekitar,” jawab Dewa. Apa yang dikatakan pria itu ada benarnya juga.
“Ke mana dia?” Lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Dengan cepat, Raveno mendekati lokasi di mana Melinda tadi duduk. Dia mengambil tasnya dan tas Melinda.
“Gue duluan ya!!” teriak Raveno pada teman-temannya yang masih bersiap untuk pulang.
Dia berlari mencari Melinda ke toilet. Kosong, tak ada siapapun di sana. “Astaga!!” ucapnya. Dia sangat khawatir saat ini.
Lain halnya dengan Raveno yang khawatir pada Melinda, gadis itu bersenandung ringan menuju lapangan basket dengan dua botol minum di tangannya.
Setelah berbagai perjuangan, akhirnya dia mendapatkan minum untuk Raveno. Dia berhenti berjalan ketika dia melihat lapangan sudah sepi.
“Loh, pada kemana?” tanyanya heran. Dia menengok ke tribun di mana dia menyimpan tasnya. Kosong, tak ada apapun di sana.
“Pada kemana sih?” kesalnya. Gadis itu membalikan badannya mencoba mencari orang-orang yang tadi latihan basket.
“Ponsel juga di tas, lagi.” Melinda tak memiliki pilihan lain selain mencari orang-orang itu terutama Raveno.
Gadis itu sudah mengelilingi sekolah satu putar. Karena lelah, akhirnya dia memutuskan untuk duduk di bangku taman depan. Dia tak pulang karena dia yakin Raveno masih ada di sana. Motornya juga masih terparkir rapi di sana.
Melinda duduk sambil memainkan tanah dengan kakinya yang terbalut sepatu. Dia sangat lelah karena memutari sekolah. Akhirnya dia membuka salah satu botol minum dan meneguknya hingga habis setengah.
Tak jauh berbeda dengan Raveno, selain lelah karena latihan, saat ini dia juga bermandi keringat karena berputar-putar mencari kekasihnya.
__ADS_1
Dia berhenti sejenak di taman depan. Matanya menatap lurus dan akhirnya apa yang dia cari ketemu.
“Astaga, anak itu,” ucapnya sambil berjalan mendekati Melinda. “Udah main petak umpatnya?” tanya Raveno saat tiba di sana.
Melinda terlonjak karena Raveno datang begitu tiba-tiba. “Rav!! Kemana aja kamu? Aku cariin dari tadi!” sentak Melinda. Gadis itu kini sudah berdiri di hadapan Raveno.
“Yang ada gue yang cari lo, bukan lo.” Raveno tak mau kalah. “Kok gitu? Kan kamu yang ilang.”
Raveno menghela nafasnya dalam. “Abis dari mana tadi?” tanya pria itu mulai menginterogasi Melinda.
Sebelumnya, dia sudah mendudukan Melinda di bangku taman tadi dan dia juga ikut duduk.
“Nih beli minum buat kamu.” Melinda memberikan satu botol air mineral pada Raveno. Demi Tuhan, rasa haus Raveno telah hilang karena dia sangat khawatir.
“Beli ke mana?” Dia menyampingkan air mineral itu. Dia lebih fokus pada kekasihnya saat ini.
“Itu di depan sekolah. Tadinya mau ke kantin, tapi tutup. Jadi aku ke warung seberang sekolah,” jawab Melinda yang lagi-lagi membuat Raveno menghela nafasnya dalam.
“Kenapa gak bilang dulu sih?! Hampir mau mati gue karena takut lo kenapa-napa.” Raveno agak meninggikan suaranya tanpa sengaja.
Melinda tersentak mendengar hal itu. Dia menundukkan kepalanya takut. “Maaf,” cicitnya. Jika sudah begini, Raveno memang sangat menyeramkan.
“Jangan diulang lagi.” Raveno menghela nafas lega sebelum kemudian dia menarik Melinda ke dalam pelukannya. Dia memeluk gadis itu dengan erat, rasa khawatirnya sudah tak terbendung lagi.
“Sorry udah bentak lo. Gue kelepasan,” ujar Raveno yang kemudian mendapatkan anggukan dari Melinda.
Raveno melepaskan pelukannya. Dia menatap Melinda dengan lekat. “Udah selesai latihannya?” tanya Melinda.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Raveno mengalihkan pandangannya dari Melinda. “Udah,” jawabnya singkat.
Pria itu membuka air mineral yang diberikan Melinda dan meneguknya. “Yuk pulang.” Setelah itu merek berjalan ke parkiran untuk mengambil motor mereka.
“Pegangan,” ucap Raveno saat Melinda sudah naik. Gadis itu patuh dan memeluk Raveno dengan erat.
__ADS_1