
Hari ini cuaca hujan seolah tak mengizinkan Jeff dan Bila untuk pergi. Setelah Jeff ke rumah Bila pagi tadi, hujan tak kunjung reda hingga mereka terpaksa menunggu di rumah Bila.
"Padahal udah siap gini," gerutu Bila sambil memperhatikan penampilannya yang sudah rapi.
Tentu saja dia harus berpenampilan menawan. Jika dia tidak memperhatikan penampilannya, calon mertuanya tak akan menyukainya, bukan?
"Tunggu sebentar lagi, mungkin sebentar lagi hujannya reda." Jeff berusaha membujuk Bila.
Bila memajukan bibirnya. Dia merasa mood-nya hancur karena gagal pergi ke rumah calon mertuanya.
Jeff mengusap surai gadis itu dengan lembut berharap kekasihnya itu sedikit tenang.
Pada akhirnya mereka hanya saling diam satu sama lain. Bila sibuk dengan game yang ada di ponselnya. Sementara Jeff hanya memperhatikan gadis itu dengan seksama.
"Tuh udah reda," ucap Jeff. Hujan memang baru saja reda walaupun cuaca masih mendung.
Jeff merasa sangat menyesal. Kenapa dia tak membawa mobil saja hingga mereka tak perlu menunggu hujan reda.
Dia malah membawa Ninja-nya ke rumah Bila.
Bila tersenyum cerah sebelum kemudian dia mengambil tas selempangnya dan memakainya.
"Ayo berangkat!" Bila terlihat sangat semangat setelah hujan reda.
Berbeda dengan Bila yang sangat semangat, Jeff justru malah ketakutan. Meskipun dia yakin kakeknya akan membantu nanti, tapi rasa takut itu tak kunjung hilang.
Jeff tersenyum canggung sebelum kemudian dia mulai mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.
"Kamu udah siap ketemu keluarga aku?" Jeff bertanya dengan nada sedikit keras karena dia yakin Bila tak akan mendengar ucapannya jika dia tidak meninggikan volumenya.
"Siap dong! Lagian kenapa kamu gak ngajak aku dari dulu sih?!" seru Bila dari belakang.
Jeff terdiam. Kalian tentu sudah tahu apa yang menjadi hambatan bagi pria itu.
"Nanti juga kamu bakal tau," jawab Jeff.
Ucapan Jeff barusan terasa sangat janggal di telinga Bila. Dia mengerutkan keningnya dan berfikir mencoba mencari jawabannya. Namun nihil. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya Bila hanya memilih diam.
Tak perlu waktu lama hingga mereka tiba di rumah Jeff.
Rumah itu terlihat normal dari luar. Jeff juga sengaja tak memberitahu orang tuanya jika ada orang yang datang.
__ADS_1
Alasannya karena Jeff tak ingin semuanya terlihat palsu. Dia ingin Bila mengetahui keaslian keluarganya.
Memasuki ruang tamu, Bila tercengang karena banyak pecahan kaca dimana-mana.
"Hati-hati." Jeff menggandeng tangan Bila setelah sebelumnya dia berusaha menyingkirkan pecahan kaca itu.
"Kenapa ini? Ada apa?" tanya Bila mulai panik melihat keadaan sekitar.
"Gak apa-apa. Ini udah biasa," jawab Jeff.
Lagi-lagi Bila dibuat bingung dengan ucapan pria itu.
"Kenapa biasa? Sebenarnya ada apa?" Sekarang Bila mulai mendengar pecahan kaca dimana-mana.
Teriakan juga menggema di ruangan itu. "Ini semua salah kamu!" teriak seorang wanita.
Bila terlonjak mendengar hal itu sebelum kemudian dia melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana.
"Ma, Pa," panggil Jeff dengan suara normal. Namun seolah tuli, kedua orang tuanya yang sedang beradu mulut sambil membanting barang tak menggubris Jeff sama sekali.
"Ma, Pa!!" Akhirnya Jeff berteriak setelah dia kehabisan kesabaran.
Sementara Bila belum bisa mencerna semua yang terjadi ditambah dengan keterkejutannya atas teriakan Jeff.
Jeff tahu Bila ketakutan. Dia menengok untuk melihat Bila. "Maaf, aku terpaksa lakuin ini," bisik Jeff.
Bila mengangguk pelan. Kedua orang tua Jeff yang mulai sadar dengan keadaan akhirnya mulai berbenah dan membenarkan penampilan mereka.
"Ah Jeff, kenapa?" tanya Mamanya seolah tak ada apapun yang terjadi.
"Duduk dulu." Kali ini Papanya yang berbicara. Meskipun suasana rumah sudah hancur, kedua orang tua Jeff berusaha untuk merapikan tempat di sekitar tempat duduk.
Jeff menarik tangan Bila dengan lembut untuk mengajak gadis itu duduk. Bila hanya patuh dengan perintah Jeff dan tentu saja masih merasa takut dan kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Pacar kamu, Jeff?" Papanya kembali bertanya seolah semuanya normal.
Jeff mengangguk. "Iya. Dia kekasih saya. Dalam waktu dekat saya akan menikahi dia." Ucapan seperti ini memang sudah Biasa.
Sejak dulu, Jeff memang tak akrab dengan orang tuanya. Apalagi setelah kejadian itu, dia menjadi sangat asing dengan kedua orang itu.
"Kok mendadak?" Mamanya terlihat sangat terkejut karena dia baru tahu ini sekarang. Dia bahkan tak pernah tahu jika Jeff memiliki kekasih.
__ADS_1
"Kalian yang gak mau tau dan sibuk sendiri," jawab Jeff yang membuat hati kedua orang tuanya tertohok.
Untuk menghilangkan kecanggungan, kedua orang tuanya itu hanya terkekeh sebelum kemudian mengalihkan pandangannya pada Bila.
"Siapa nama kamu?" Sinta, Mamanya Jeff bertanya dengan lembut. Tapi entah mengapa Bila masih merasa takut dengan orang itu.
"Bila, Tante. Salsabila Auristela," jawab Bila. Sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.
"Cantik. Sejak kapan kamu jadi pacar Jeff?" Kali ini Papanya Jeff yang bertanya.
"Itu gak penting. Saya cuma mau kasih tau kalian aja kalau dalam waktu dekat saya akan menikah." Jeff menyela sebelum Bila menjawab.
Bila sedikit tak enak dengan kedua orang tua Jeff ketika Jeff bersikap seperti itu.
"Kalau begitu saya permisi." Jeff membawa Bila dari sana.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Bila tersenyum dan menundukkan kepalanya yang menjadi tanda jika dirinya berpamitan.
"Pamit dulu Tante, Om," ucapnya yang dianggukki oleh Mama dan Papanya Jeff.
Mereka akhirnya pergi dari sana. Setelah mereka pergi, Jeff sama sekali tak berbicara. Dia membisu sepanjang perjalanan.
"Kita mau ke mana?" Dari belakang Bila bertanya karena dia yakin jalur yang mereka lewati itu bukan arah menuju rumahnya.
"Ada satu orang lagi yang harus kita kunjungi," jawab Jeff dingin. Bila merasakan itu. Dia sangat merasakan perubahan sikap Jeff.
Pada akhirnya Bila memilih diam tak bertanya lebih lanjut. Dia tak ingin membuat Jeff semakin diam.
"Maaf aku gak bawa mobil. Kamu pasti pegel ya?" ucap Jeff tiba-tiba. Dia baru teringat jika perut Bila mulai membesar dan pasti sangat sulit untuknya duduk di atas motor.
"Gak apa-apa. Aku juga suka naik motor." Bila memang tak bohong. Dia menyukainya karena naik motor membuatnya bebas melihat kesana-kemari.
Jeff mengangguk. Mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar dengan halaman yang luas.
"Rumah siapa ini?" Bila lebih bertanya pada dirinya sendiri.
"Nanti kamu juga akan tau." Namun sepertinya Jeff mendengar pertanyaannya hingga pria itu menjawabnya.
Bila mengangguk dan mengikuti langkah Jeff menuju rumah itu. Tangan Jeff sedari tadi tak lepas menggandeng tangan Bila.
"Loh? Kamu datang lagi?"
__ADS_1