Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
82. Tanpa Jeff


__ADS_3

Beberapa pasang mata nampak aneh melihat kedekatan Raveno dan Melinda. Pasalnya mereka menyaksikan sendiri bagaimana Melinda mengejar pria itu dan Raveno dengan egois selalu menolaknya. 


Tapi sekarang yang terjadi justru kebalikannya. 


Raveno mengulurkan tangannya untuk pegangan Melinda agar gadis itu mudah turun dari motornya. 


"Hati-hati," ucap Raveno. Perhatian seperti ini sudah kenyang Melinda dapatkan selama mereka bersama. 


Setelah Melinda berhasil turun, Raveno memarkirkan motornya. Dia menghampiri Melinda setelahnya. 


"Aku antar," tawar Raveno yang kemudian diangguki oleh Melinda. 


"Rav, kayanya orang-orang pada mikir aku pakai pelet deh. Dari tadi liatin kita mulu."


Raveno memperhatikan keadaan sekita. Benar sekali, banyak orang yang membicarakan mereka. 


"Biarin lah gak usah didengerin." Raveno malah sengaja merangkul pundak Melinda. 


Hal itu berhasil membuat orang-orang yang tadi membicarakan mereka menganga tak percaya. 


"Rav, ini di sekolah loh." Raveno menatap Melinda yang sepertinya risih dengan perbuatannya. 


"Dulu lo mau banget gue giniin, sekarang kok malah nolak," goda pria itu. 


Melinda yang mendengar itu bergidik ngeri. "Ya tapi kan ini di sekolah," ucap Melinda sambil menyingkirkan tangan Raveno dari pundaknya. 


"Oh berarti kalau di luar sekolah boleh ya?" kekehnya. 


Hal itu berhasil membuat Melinda tersenyum dan berlari mengejar Raveno yang memang kabur setelah mengucapkan hal itu. 


"Rav!!" Teriakan Melinda terdengar di lorong sekolah. 


Stevani dan Keisya yang mendengar itu sontak menolehkan pandangannya pada dua insan yang sedang kejar-keajaran itu. 


"Dia kira film India kali," desis Stevani yang memang memiliki mulut random. 


"Lah, bukannya yang Raveno suka itu Bila? Terus kenapa sekarang malah nempel gitu sama Melinda?" Kali ini Keisya yang bertanya. 


"Ya lo pikir aja! Emang dia mau sama cewek yang udah bersuami? Ya mening move on lah," sentak Stevani. 


Memang benar apa yang dikatakan Stevani, tapi apa secepat itu? 


"Gatau ah jangan ngurusin hidup orang." Mereka melanjutkan langkah mereka menuju ke kelas karena tak ingin ikut berpikir tentang hubungan seperti apa yang mereka punya. 


**** 


Sekolah sudah bubar, namun sebelum itu terjadi, Jeff sendiri sudah pergi dari sana. Dia akan menemui Laras. 


"Semoga gak ketahuan Bila," desisnya. Demi Tuhan dia takut Bila akan tahu dan kecewa padanya. Tapi di sisi lain, dia melakukan ini juga demi Bila. 


"Maaf, Sayang. Sekali ini saja." Setelah memantapkan hatinya, dia kembali melajukan mobilnya dengan yakin. 

__ADS_1


Jeff tiba di rumah yang menjadi kediaman Laras. 


"Ahh udah sampai, ayo!" ajak Laras dengan semangat. 


Jeff sama sekali tak bersemangat. Dia sekarang hanya akan menjadi mesin uang bagi gadis itu. 


"Lo beneran hamil, kan?" Jeff agak curiga karena Laras menggunakan sepatu hak tinggi. 


Bagaimana bisa seorang wanita hamil mengenakan itu. Itu sangat berbahaya. 


"I-iya emang kenapa?" tanya Laras gugup. 


"Yakin mau pakai sepatu itu?" Jeff bertanya sambil menunjuk sepatu yang dikenakan Laras. 


"Oh, ya udah sih aku bisa kok. Lagian gak ada sepatu lain," timpalnya. 


Seorang Laras tak akan pernah mau mengenakan sandal atau sepatu santai. Itu karena Laras sangat mengutamakan penampilannya daripada kenyamanannya sendiri. 


Jeff akhirnya membiarkan apa yang gadis itu inginkan. Kecurigaannya bertambah kala dia tak sengaja menyentuh perut gadis itu. 


Rasanya agak lain ketika dibandingkan dengan perut Bila yang dia sentuh. Tapi Jeff tak mempedulikan itu. 


Dia hanya ingin menyelesaikan ini dan cepat pulang. 


"Ayo cepat!!" sentak Laras. 


Jeff melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan. 


"Gue kira lo mau beli barang kebutuhan bayi lo," protes Jeff. 


"Kali-kali senengin ibunya juga." Jeff tak lagi menjawab. 


Mereka berputar kesana-kemari mencari barang yang bahkan Jeff tak tahu itu apa. 


Sementara itu Bila merasa ada yang salah dengan  perutnya. 


"Akhh." Perutnya terasa sakit. Ada yang salah. 


"Kontraksi sekarang?" tanyanya. Bila meringis menahan sakit di perutnya. 


Suaminya sedang tak ada di rumah, lalu dia harus meminta bantuan siapa? Sementara ponselnya ada di kamarnya dan itu jauh dari sana.


"Akkhh tolong."


"Non Bila!!" Bila melihat ke arah orang yang baru saja datang. Itu adalah Bi Inah. 


"Bi sakiitt!!" teriak Bila. Bi Inah menghampiri Bila dengan panik. 


"Tunggu bentar Non. Bibi mau bilang Mang Parman buat ke sini."


Bi Inah berlari ke depan berharap Mang Parman belum pergi dari sana. 

__ADS_1


"Mang itu Non Bila kayanya mau ngelahirin. Tolong bawa ke rumah sakit." 


Mang Parman yang terkejut segera keluar dari mobil dan berlari ke dalam. 


Setelah melihat Bila yang terlihat lemas, Mang Parman membopong gadis itu ke mobilnya begitupun Bi Inah yang mengikuti mereka dari belakang. 


"Hubungi Nyonya sama Tuan!" Perintah Mang Parman dianggukki oleh Bi Inah. 


Mereka melajukan mobilnya dengan cepat namun tetap berhati-hati. 


"Aakkhhh Bi sakiitt!!" teriak Bila. Keringat dingi  sudah bercucuran di pelipisnya. 


"Sabar ya, Non. Ini udah ngebut," ucap Bi Inah. Melihat Bila yang kesakitan membuat Bi Inah juga ikut panik. 


Mereka tiba di rumah sakit dan Bila segera di bawa ke dalam. 


"Bi, gimana Bila?" Tak lama Bunda Erina dan suaminya datang ke sana. 


"Lagi ditangani dokter, Nya. Kayanya mau lahiran," jawab Bi Inah. 


"Loh, Jeff mana?" Bunda Erina kembali bertanya ketika dia tak melihat Jeff di sana. 


"Bibi gak liat Den Jeff ada di rumah tadi. Kayanya dia lagi keluar."


Mendengar hal itu Tuan Harla segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Jeff. 


"Nomornya gak aktif," ucap Tuan Harla. Dia tak patah semangat, dia kembali memanggik nomor itu walau lagi-lagi dia mendapat jawaban jika nomor itu tak aktif. 


"Astaga!! Ke mana dia di saat seperti ini?"


"Keluarga pasien satu orang bisa masuk untuk menemani persalinan?" Dokter datang untuk memanggil suaminya. 


Namun sepertinya tak ada. Berakhirlah Bunda Erina yang masuk ke dalam ruang persalinan. 


Di sana Bila sedang berbaring dan mandi keringat. Rasa sakit yang tak ada tandingnya dia rasakan saat ini. 


Tapi dia tak bisa menyerah begitu saja. 


"Bunda, Jeff mana?" tanya Bila dengan nafas yang berderu. 


"Tenang Sayang. Jeff kayanya lagi di jalan. Sekarang jangan pikirin suami kamu dulu ya. Pikirin anak kamu, dia mau ketemu sama kamu." 


Bunda Erina berusaha menenangkan Bila. Dia mengelus kening Bila dan menghapus air mata yang sudah membanjiri pipi gadis itu. 


Bila mengangguk, dia berusaha sekuat mungkin untuk melahirkan anaknya. 


"Bundaaaa sakiitt!!!" Di teriakan terakhir, akhirnya suara bayi terdengar sangat nyaring. 


Bila menghela napasnya sebelum kemudian dia menutup matanya. Dia kehilangan kesadarannya. 


"Dok, anak saya!" teriak Bunda Erina. 

__ADS_1


__ADS_2