Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
30. Akankah Berjumpa


__ADS_3

Empat hari sudah mereka lalui untuk melakukan ujian. Hari-hari berat bagi siswa dan siswi sudah terlewati.


Sekarang mereka hanya tinggal menikmati liburan akhir semester. Libur panjang yang mereka dapatkan membuat mereka sangat antusias.


Setidaknya itulah yang dirasakan Raveno. Liburan di negaranya membuatnya sangat bosan.


Pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar negeri.


"Ih Abang, jangan ke Jepang~" rengek seorang gadis dengan seragam SMP.


Raveno memandang gadis yang memanggilnya Abang itu dengan lekat.


"Ya terus lo mau ke mana?" Raveno mulai kesal dengan rengekan adiknya itu.


Gadis itu terlihat sedikit berpikir. "Gimana kalau korea? Dita mau ketemu sama suami Dita," serunya.


Raveno merotasikan bola matanya. "Mulai," desis Raveno jengah.


Bisa dikatakan adiknya itu adalah seorang pecinta korea, mungkin bisa dikatakan penghalu handal.


"Geli gue kalau lo udah kaya gini," ujar Raveno.


Bukannya marah, gadis yang dipanggil Dita itu tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya yang rapi.


"Ya ya ya. Korea ya~" Dita kembali merengek seraya bergelayut manja di lengan abangnya.


"Iya ayo!" putus Raveno pada akhirnya.


Biarkan dia mengikuti keinginan adiknya.


"Bunda setuju kan?" Raveno bertanya pada seorang wanita paruh baya yang sedari tadi ada di sana.


Wanita itu mengangguk dengan senyuman tipisnya. "Bunda setuju, tapi mungkin Ayah kalian gak ikut. Dia sibuk bekerja," ujarnya.


"Gapapa Bunda. Kita bertiga aja," timpal Dita.


Akhirnya rencana liburan mereka sudah matang, lusa mereka baru akan berangkat.


****


Korea


"Huueekk." Lagi-lagi hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya.


Entah sudah yang keberapa kali Bila memuntahkan isi perutnya yang kosong itu.


Sebenarnya baru saja Bila akan sarapan. Satu suap baru dia makan, tapi perutnya terasa bergejolak.


"Kenapa ini?" tanya Bila bingung.

__ADS_1


Dia sama sekali tak tahu apa yang akan dialami ibu hamil di trimester pertama.


"Bunda~ Bila mual," ucapnya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Rumah, hanya rumah yang dia bayangkan ketika dia berada di posisi seperti ini. Dia benci sendiri.


Air matanya mengalir. Sekuat tenaga dia menahan agar air matanya tak tumpah.


"Jangan nakal Nak. Mommy gak punya siapa-siapa di sini. Jadi bantu Mommy buat lewatin semua ini ya," lirih Bila.


Tangannya terangkat untuk mengelus perut yang semakin membuncit itu.


Bila keluar dari kamar mandi dan kembali melanjutkan makannya.


Dia harus tetap makan meskipun merasa mual karena tentu saja bayinya membutuhkan asupan.


Berhasil, Bila berhasil menghabiskan semua makanannya. Dia merasa senang meski rasa mual datang berkali-kali tapi dia bisa melawannya.


Bila mencuci piring bekasnya dan kemudian duduk di sofa untuk beristirahat.


"Haahh enam bulan lagi aku akan bisa bertemu dengan anakku," ujar Bila dengan senyuman yang tersemat di wajahnya.


Bila merasa tak sabar memikirkannya.


"Hari ini sangat cerah, sepertinya kita harus jalan-jalan, Baby," ucap Bila sambil mengelus perutnya.


****


Bila sangat menyukai hal yang berbau Korea. Itulah mengapa saat ini dia ada di sana. Dia ingin mengenal Bila lebih dalam dengan memahami hal-hal yang Bila sukai.


"Ternyata seperti ini suasana di sini." Lagi-lagi Jeff menghembuskan nafasnya.


"Aku di sini Bil. Di tempat yang sangat kamu sukai. Maaf karena tak mengajakmu. Tapi nanti, jika aku sudah menemukanmu, aku akan membawamu ke sini," lirihnya.


Jeff menggeret kopernya. Sebuah hotel, itulah tujuannya saat ini. Dua minggu, Jeff akan berada di sana selama dua minggu.


Jeff menaiki taksi untuk sampai di tempat yang dia tuju.


Matanya melihat ke kiri dan ke kanan memperhatikan suasana di sana.


Mata Jeff terbelalak ketika melihat sosok yang selama ini dia cari.


Taksinya melewatinya. Jeff menoleh ke belakang untuk melihat gadis itu lagi tapi nihil, tak ada siapapun di sana.


"Astaga, apa aku berhalusinasi?" tanyanya. Dia mengacak rambutnya frustasi.


"Gila lama-lama!" umpatnya. Dia tak bisa jika seperti ini.


Jeff sudah tiba di tempat yang dia tuju. Sebuah hotel bintang lima. "Semoga aku bisa menenangkan hatiku di sini."

__ADS_1


Jeff mengistirahatkan tubuhnya saat dia berhasil tiba di kamarnya. Kamar yang berhadapan langsung dengan keramaian kota.


Sangat menenangkan, apalagi di malam hari, lampu dari tiap bangunan akan menyala dan hal itu pasti akan terlihat indah.


Jeff mengangkat ponselnya. Ada seseorang yang harus dia beri kabar, atau jika tidak, dia tak akan mendapatkan tiket untuk pulang.


"Halo, aku sudah sampai." Jeff berucap sambil merebahkan badannya. Dia sangat lelah setelah perjalanan panjangnya.


"Syukurlah. Nikmati waktumu di sana, untuk Bila, aku akan berusaha mencarinya lagi," ujar orang di seberang sana.


Jeff mengangguk. "Terima kasih, Kek. Semoga Bila cepat ditemukan. Bisa mati aku jika hidup tanpanya," ucap Jeff.


"Aku mengerti. Aku tutup dulu telponnya." Jeff mengangguk sebelum kemudian dia menutup panggilan dan memejamkan matanya.


Matanya mulai berat. Sepertinya saat ini dia harus tidur dulu. Setelah bangun nanti dia akan pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhannya selama di sana


****


Bila terus berjalan menyusuri jalanan. Setelah selesai dengan sarapannya tadi dia segera bersiap untuk pergi ke luar.


Dia beranggapan jika rasa mualnya itu datang karena dia jarang olahraga. Jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan.


Cuaca yang cerah membuat mood Bila naik. Coat coklat yang membalut tubuhnya terlihat sangat indah.


"Di luar sangat dingin," ucapnya sambil menggosok kedua telapak tangannya berharap ada rasa hangat di sana.


Coat yang membalut tubuhnya itu tak hanya dia gunakan sebagai gaya, tapi karena cuaca dingin di sini.


Bila berhenti di sebuah kedai kue. Entah mengapa melihat itu membuatnya ingin memakannya.


Bila memesan kue itu kemudian memakannya dengan lahap.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Bila untuk menghabiskan kue yang dia beli.


Bila kembali berjalan. Perutnya terasa agak nyeri ketika ada sebuah taksi yang melewatinya.


Samar, Bila melihat bayangan pria yang ada di dalam taksi itu. "Jeff?" lirihnya saat merasa kenal dengan pria itu.


Bila menggelengkan kepalanya. "Tak mungkin. Untuk apa dia di sini?


Bila kembali melanjutkan jalannya untuk pulang. Perutnya sudah kenyang jadi tak ada lagi yang dia cari.


"Apa benar itu dia?" Sepanjang perjalanan dia masih memikirkan siluet orang yang dia lihat di taksi tadi.


Terlihat terlalu jelas. "Tak mungkin. Untuk apa juga Jeff datang ke Korea. Dia tak memiliki saudara di sini," ucapnya.


Dia melanjutkan perjalanannya. Hari ini terasa cukup sepi padahal libur akhir semester mulai tiba.


"Andai aku masih dengan keluargaku, aku akan merengek untuk pergi ke sini. Tapi sekarang dengan bebas aku sudah berada di sini kenapa ingin pulang," lirihnya.

__ADS_1


Biarlah dia mengoceh karena tak akan ada yang mengerti ucapannya.


__ADS_2