Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
48. Khawatir


__ADS_3

Jeff sebenarnya sudah sangat lelah dengan semuanya. Berbagai macam usaha yang dia lakukan tak kunjung membuahkan hasil. Bila masih tak mau menemuinya.


Salah satu hal yang Jeff lakukan untuk melupakan semua ini. siang tadi sepulang dari sekolah, dia membeli beberapa botol alkohol. Dia tak peduli uangnya akan habis, yang dia pedulikan saat ini adalah dia bisa melupakan masalah ini walaupun hanya untuk sesaat.


“Aarrggg, gue cape!!” teriaknya. Dia sudah sangat bingung harus melakukan apa lagi.


Dia terus meneguk cairan haram itu. Rasa terbakar di tenggorokannya membuatnya sedikit tersiksa namun ada sensasi nikmat di akhir.


Tiga botol sudah dia habiskan. Jeff terkapar di ruang tamu. Dia memegangi perutnya yang terasa sangat bergejolak.


Ueek oeek


Jeff hendak mengeluarkan semua isi perutnya. Mual, itu yang dia rasakan. Badannya yang lemas tak bisa dia ajak kompromi untuk sekedar pergi ke toilet.


Kepalanya pening hingga beberapa saat kemudian kesadarannya menghilang.


Sementara itu Victor sedari tadi berusaha menghubungi Jeff. “Kemana dia pergi?” tanyanya sambil terus berusaha menelpon Jeff.


“Sialan, kenapa gak di angkat sih?!” umpatnya kesal. Dia merasa khawatir, pasalnya beberapa hari kebelakang, Jeff terlihat sangat hancur.


Dia tahu permasalahan dengan kekasihnya belum juga usai.”Ah iya, Bila,” ucapnya seperti mendapatkan ide.


“Apa dia ada di rumah cewek itu?” Victor bertanya-tanya. Hari ini dia memang memiliki janji dengan Jeff, itulah kenapa pria itu mencari Jeff.


Tanpa berpikir terlalu lama, Victor segera melajukan mobilnya ke rumah Bila. Dia tahu di mana Bila tinggal karena Jeff beberapa kali mengajaknya ke sana untuk bertemu Bila walaupun sampai sekarang dia belum melihat gadis itu.


“Semoga kali ini gak ditolak,” ucapnya. Victor memarkirkaan mobilnya di depan gerbang karena gerbang yang tertutup.


“Pak, Bila ada?” tanya Victor pada satpam rumah Bila.

__ADS_1


“Ada perlu apa ya?” tanyanya. Satpam itu hanya bersikap waspada, siapa yang tahu jika saja pria itu jahat.


“Saya temannya, ada hal penting yang harus saya bicarakan,” ucapnya.


Satpam itu mengangguk sebelum kemudian membuka gerbang mempersilahkan Victor masuk. Setelah memarkir mobilnya, Victor segera mengetuk pintu.


“Permisi, Bila ada?” Lagi Victor menanyakan hal yang sama pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


“Oh ada, tunggu sebentar. Silahkan duduk dulu, Den.”


Bi Inah pergi ke kamr Bila untuk memanggil gadis itu. “Non, di bawah ada temannya Non Bila.” Bila sedikit mengernyit mendengar penuturan Bi Inah, kali ini temannya yang mana lagi yang datang.


Karena terlampau penasaran, Bila akhirnya turun untuk melihat siapa kali ini yang ingin menemuinya.


Seorang pria dengan perawakan tinggi, putih, tampan tak jauh berbeda seperti Jeff. “Siapa ya?” tanya Bila merasa tak kenal dengan pria itu.


Victor yang mendengar suara gadis segera menengadahkan kepalanya untuk melihat sosok Bila yang sangat dicintai oleh Jeff itu.


“Bila?” Bukannya menjawab pertanyaan Bila, Victor malah balik bertanya. Namun hal itu diangguki oleh Bila.


“Gue temannya Jeff. Jeff ada ke sini hari ini?” tanya Victor. Dia tak mau berbasa-basi.


Bila menggeleng. Dia juga baru sadar jika Jeff belum datang. Biasanya pria itu akan datang di jam-jam ini dan membawakannya makanan. Tapi sampai saat ini dia belum mendapatkan kabar dari satpamnya bahwa Jeff datang ke sini.


“Dia belum datang,” ucap Bila dengan wajah bingungnya. “Telponnya gak aktif. Beberapa hari ini dia juga kayanya stres banget,” ujar Victor tiba-tiba yang membuat Bila mendengarkan pria itu dengan fokus.


“Terus?” tanya Bila. “Dia kaya gitu karena lo. Selama ini dia nyesel udah nolak bayi itu dan dia berusaha buat dapat maaf dari lo. Gue tau lo gak pernah mau nemuin dia, tapi kalau lo lihat penampilan dia sekarang, hancur,” jelas Victor.


Memang begitu adanya, temannya itu memang sangat sengsara ketika terus mendapat penolakan dari Bila.

__ADS_1


“Lo gak khawatir sama dia?” Khawatir, Bila sangat khawatir, tapi dia berusaha memasang wajah datar ketika Victor bertanya seperti itu.


“Dia juga gak khawatir sama gue dan anaknya. Jadi kenapa gue harus?” Penolakan yang Jeff lakukan dulu masih saja terekam jelas dalam ingatannya.


“Kalau dia gak peduli sama lo, gak mungkin dia datang tiap hari ke sini cuma buat dapatin maaf dari orang tua lo juga lo. Bukannya gue mau ikut campur, tapi gue sebagai temannya juga ngerasa sakit. Sama kaya yang dia rasakan. Bukannya gue bela dia, gue juga hajar dia waktu dia bilang dia nolak anaknya sendiri, tapi dia janji mau minta maaf dan perbaikin semuanya. Apa perjuangan dia selama ini gak ada artinya di mata lo?”


Perlahan berbagai kenangan yang dulu dia lewati dengan Jeff hinggap dalam pikirannya termasuk ketika pria itu tak pulang semalaman di depan rumahnya dan berakhir demam.


Apa Bila selama ini sangat jahat pada Jeff. “Oke kalau lo emang udah gak peduli sama dia. Seenggaknya kasih dia kejelasan biar dia gak harus cape-cape ngejar lo lagi. Gue permisi.” Victor beranjak dari duduknya. Dia hendak pergi dari sana.


“Lo mau ke mana?” tanya Bila spontan sebelum Victor benar-benar pergi dari sana.


“Cari sahabat gue.” Victor memang menghentikan langkahnya tapi dia tak menoleh sama sekali.


“Gue boleh ikut?” cicit Bila yang membuat Victor akhirnya membalikan badannya dengan kening yang mengerut.


“Buat apa? Lo mau sakitin dia lagi?” ucap Victor dengan nada meremehkan. “Kalau lo ikut cuma mau buat dia sakit mening gak usah. Kasih dia jeda buat sembuhin mental sama hatinya.” Victor kembali berjalan.


“Gue khawatir!” Akhirnya pertahanan Bila runtuh. Air matanya mengalir deras dengan tubuh yang bergetar.


Rasa sakitnya yang dulu memang masih ada, tapi kali ini rasa khawatirnya lebih besar. Benar kata Victor, mungkin ini sudah cukup. Bila sudah menghukum Jeff selama empat bulan.


“Gue mau ikut cari Jeff.” Ucapan Bila membuat Victor bernafas lega. Mungkin kedatangannya kesini hari ini adalah benar.


“Oke. Lo tahu ke mana kira-kira dia pergi?” tanya Victor. “Kita cari di apartemennya dulu aja,” ucap Bila sambil mengusap air matanya. Bahkan ingusnya tak berhenti keluar.


Victor terkejut. “Dia punya apartemen?” tanyanya heran. Setau dia, Jeff tak punya apartemen. Dia hanya tahu Jeff tinggal dengan orang tuanya atau di rumah kakeknya.


Bila mengangguk. “Punya. Gue tau tempatnya,” ucap Bila. Tanpa menunggu lebih lama, Victor mengangguk dan mengajak Bila untuk masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang setelah Bila menitipkan ijin pada satpam rumahnya.


 


__ADS_2