Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
85. Kesalah Pahaman


__ADS_3

Raveno dan Melinda kembali ke apartemen mereka. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan sama sekali. 


Jika Raveno memang jarang bicara, tapi Melinda tak biasanya menjadi pendiam seperti ini. 


"Mel, kamu kenapa?" tanya Raveno saat Melinda sedang membuka kunci apartemen mereka. 


Melinda hanya bergumam tanpa menjawab atau memandang Raveno.


Sampai mereka masuk, Raveno masih terheran-heran dengan sikap Melinda. 


Karena geram dengan sikap Melinda, Raveno menarik gadis itu dan mendudukkannya di sofa. 


"Kenapa? Ada apa? Kalau ada masalah itu ngomong. Gue bukan dukun yang bisa baca fikiran lo." Raveno memandang lekat netra Melinda. 


"Gak apa-apa." Walaupun bibir gadis itu mengatakan tak apa, tapi sorot matanya tak bisa berbohong. Bahkan sikapnya pada Raveno juga agak berbeda. 


"Gue tau ada yang salah sama lo. Jangan bohong sama gue." Raveno memaksa gadis itu agar mengatakan apa yang terjadi. 


"Mel," panggil Raveno saat tak kunjung ada balasan dari gadisnya. 


"Apa Raveno," jawab Melinda dengan sedikit panjang. 


"Bilang apa yang terjadi? Atau Dewa bilang yang enggak-enggak sama lo?" tebak Raveno. 


Melinda mulai menatap lekat netra pria yang ada di hadapannya. 


"Rav, jawab jujur. Papah aku gak kasih uang kan ke kamu?" Saat itu juga tubuh Raveno menegang. 


"Papah kamu beneran kasih kok. Dia bilang buat biaya hidup kamu," dusta Raveno. 


"Rav, aku juga tau kalau sekarang kamu lagi bohong. Tolong jawab jujur," lirih Melinda yany membuat Raveno menyerah. 


"Dari mana kamu tau?" tanya Raveno. Ketika pria itu sudah mengaku, Melinda menghela nafas berat. Rupanya selama ini dia memang hidup dari hasil keringat Raveno. 


"Kenapa?" Bukannya menjawab, Melinda malah balik bertanya. 


"Karena aku mau," jawab pria itu singkat.


"Kalau tau gini, aku mening disiksa sama Papah aku, Rav. Daripada harus nyusahin kamu," lirih Melinda. 


"Aku berterima kasih karena kamu mau nanggung hidup aku, tapi aku gak bisa terus nyusahin kamu," lanjutnya. 


Raveno mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Melinda. 


"Gak boleh ngomong gitu. Semua gue lakuin karena emang gue mau. Jadi stop permasalahin ini," mohon Raveno. 


"Kalau gitu hitung ini sebagai utang," timpal Melinda. 


"Lo mau gue hitung ini sebagai utang?" tanya Raveno memastika apa yang diinginkan gadis itu. 


Melinda mengangguk mengiyakan ucapan Raveno. 

__ADS_1


"Kalau gitu, gue mau lo bayar dengan jangan tinggalin gue sampai kapanpun."


Melinda menganga mendengar apa yang dikatakan Raveno. 


"Gak bisa gitu dong!" protes Melinda tak terima. 


"Bisa dong, kan gue yang kasih lo uang. Terserah gue juga dong mau balasan apa dari lo."


"Ya tapi gak gitu juga," lirih Melinda. 


"Oh, jadi lo mau tinggalin gue?" tanya Raveno sambil menaika  sebelah alisnya. 


"B-bukan gitu," jawab Melinda tergagap. 


"Terus? Jadi lo lebih milih balikin duit gue setelah itu kabur atau tetap sama gue dan gak usah pikirin biaya hidup lo?" Raveno memberikan pilihan pada Melinda. 


"E-mm… "


"Oke waktunya habis. Lo pilih tinggal sama gue dan jangan pikirin apapaun." 


Raveno bangkit dari duduknya untuk membersihkan badannya. 


"Rav tunggu dulu. Mel belum jawab loh!" Melinda hendak protes, namun sayang Raveno sudah terlebih dulu masuk ke kamarnya. 


"Dasar nyebelin!" kesalnya. 


Melinda akhirnya menyerah. Tapi dia bertekad, jika nanti dia sudah kerja, dia akan membayar semuanya pada Raveno. 


Dia masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih. 


Jeff masuk ke ruang rawat Bila setelah agak larut. Dia sudah memastikan jika Bila telah tidur. 


"Sayang, maaf. Aku lakuin ini semua karena gak mau kamu kenapa-kenapa."


Jeff duduk di kursi yang ada di samping brankar Bila. Dia menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya. 


"Kalau aja aku lebih berani, semua ini gak akan terjadi." 


Jeff menangis tersedu sambil menunduk menggenggam tangan Bila.


Dia terus menangis meluapkan rasa sesal dan rasa kecewa pada dirinya sendiri. 


Cukup lama Jeff menangis dan tanpa dia sadari jika gadis yang saat ini sedang berbaring di hadapannya juga meneteskan air matanya. 


"Sayang," tanya Jeff saat dia menyadari jika tubuh istrinya bergetar. 


Apa gadis itu juga menangis? "Kamu nangis?" tanya Jeff berusaha membangunkan Bila. 


"Ada yang sakit? Apa yang sakit?" Bila membuka matanya namun tangisnya masih belum reda.


"Tunggu sebentar, aku panggil dokter dulu." Hendak saja Jeff mau pergi dari sana untuk memanggil dokter, tapi tangannya dicekal oleh Bila. 

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Jeff heran karena istrinya menahannya. 


Bila menggeleng dengan raut memohon agar Jeff tak pergi dari sana. 


"Kenapa? Ada yang sakit?" Jeff kembali bertanya dengan nada lebih lembut. 


Bila menggeleng. Dia malah menatap Jeff dengan lekat. 


"Kenapa kamu pergi?" lirih Bila. Jeff membulatkan matanya. 


"Maaf." Bukannya menjawab, Jeff malah meminta maaf pada Bila yang kemudian mendapatkan gelengan kepala dari Bila. 


"Aku gak butuh maaf kamu. Aku cuma butuh penjelasan kenapa kamu pergi?" desak Bila.


"Tapi kamu tau aku pergi ke mana?" tanya Jeff yang kemudian diangguki oleh Bila. 


"Gimana kamu bisa tau?" Jeff merasa aneh karena Bila bisa mengetahuinya. 


"Sebelum kamu buka pesan itu, aku udah baca duluan. Tapi aku gak nyangka kamu bakal mau dia ajak belanja," isak Bila. 


"E-enggak, gak gitu, Sayang." Jeff sibuk menenangkan Bila dan berusaha menjelaskan pada istrinya jika dia salah paham. 


"Terus gimana?" tanya Bila. 


"Dia ngancam buat nyakitin kamu kalau aku gak ikut dia," jawab Jeff pada akhirnya. 


Tangis Bila pecah. Akhirnya dia mengetahui alasan di balik kepergian suaminya. 


"Jangan nangis, aku minta maaf," ucap Jeff sambil menghapus air mata Bila yang terus mengalir. 


"Aku tau aku salah. Kalau saja aku lebih berani, aku gak harus pergi dan gak akan ninggalin kamu sendiri."


Bila diam mendengar ucapan Jeff sebelum kemudian dia mengangguk. 


"Udah ya, kasian Azka lagi bobo," ucap Jeff. 


Akhirnya mereka bisa menyelesaikan masalah ini. Dan seperti yang telah Jeff katakan jika semuanya hanya salah paham. 


"Terus kamu bakal gimana sama anak kamu dan dia?" Yang bila maksud adalah anak Jeff dan Laras. 


Jeff menggeleng. "Untuk saat ini aku hanya akan memberikan uang padanya. Tapi sekarang aku tak yakin jika dia sedang hamil." 


Bila mengernyit mendengar ucapan Jeff. Bagaimana bisa dia meragukan keberadaan anaknya sendiri. 


"Tapi kamu gak harus ikut pusing. Kamu percaya sama aku kan?" tanya Jeff. 


Bila diam untuk sesaat karena bingung apakah dia harus kembali percaya pada Jeff atau tidak. 


"Kamu gak harus jawab sekarang. Aku akan buktiin kalau kamu prioritas aku."


Bila mengangguk. Jeff memeluk istrinya dengan erat. 

__ADS_1


"Maaf dan makasih udah terima aku berulang kali."


Mereka berpelukan cukup lama sampai mereka melepaskan pelukannya dan pergi untuk terlelap.


__ADS_2