
Hari terus berlalu, setiap hari Jeff datang ke rumah Bila untuk mendapatkan maaf dari orang tua Bila. Biarlah dia akan meminta maaf pada Bila nanti setelah dia kembali mendapatkan restu dari orang tuanya.
Sama seperti hari sebelumnya, saat ini dia tepat berada di depan rumah Bila. Namun dia menghentikan mobilnya ketika dia melihat sebuah motor memasuki halaman rumah Bila.
Matanya memicing untuk memastikan siapa yang masuk ke sana.
“Raveno?” tanyanya. Entah penglihatannya salah atau benar, tapi dari warna motor dan juga helm yang dia gunakan juga sama.
Jeff memilih menunggu di sana. Dia tak ingin Raveno tahu tentang urusannya dengan Bila. “Tapi aku juga penasaran,” ujarnya.
Meski begitu, Jeff tetap bertahan di sana. Biarlah nanti dia akan bertanya pada orang tua Bila apa yang dibicarakan anak itu.
Sementara itu dengan ragu Raveno mengetuk pintu rumah Bila. “Iya, cari siapa ya?” Seorang wanita paruh baya datang membukakan pintu untuk Raveno.
“Cari Ayah dan Bundanya Bila,” jawab Raveno canggung.
“Oh, silahkan masuk. Duduk dulu, biar Bibi panggilkan.” Wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan Raveno yang sudah duduk dengan nyaman di sofa yang berada di sana.
Tak membutuhkan waktu lama, Tuan Harla dan juga sang istri datang menghampiri Raveno. Belakangan ini mereka berdua memang jarang berangkat ke kantor mengingat kesehatan Bunda Erina yang menurun.
“Siang Om, Tante.” Raveno bangkit dan memberikan salam pada kedua orang itu.
“Siang. Silahkan duduk.” Tuan Harla yang menjawab.
“Jadi, boleh kami tahu siapa kamu?” tanya Tuan Harla memulai pembicaraan. Pasalnya dia belum pernah bertemu dengan orang ini sama sekali.
“Oh iya Om, Tante. Kenalin, saya Raveno teman sekolahnya Bila. Saya juga pernah bimbingan belajar bareng Bila buat olimpiade.” Raveno mulai memperkenalkan dirinya.
“Jika tujuan kamu datang ke sini untuk mencari Bila, maka kamu gak bisa ketemu Bila. Dia gak ada di rumah,” jelas Tuan Harla.
Raveno mengangguk. “Saya tahu Om. Justru saya ke sini ingin menyampaikan pesan dari Bila,” ucapnya.
Bunda Erina dan Tuan Harla sedikit terlonjak mendengar penuturan Raveno. “Maksud kamu apa?” Kali ini Bunda Erina yang bertanya.
__ADS_1
“Liburan kemarin saya pergi ke Korea, Om, Tan. Kebetulan di sana saya bertemu dengan Bila. Awalnya dia tak mau menemui saya, tapi saya berusaha untuk terus menemui dia karena saya merasa ada yang janggal dengan dia. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya Bila mau berbicara dan mengatakan semua yang terjadi pada saya. Dia juga menitipkan pesan untuk kalian,” jelas Raveno.
“Dia berpesan apa?” tanya Tuan Harla semakin penasaran.
“Maaf sebelumnya, Om. Apa kalian tahu jika Bila sedang mengandung?” Dengan takut, Raveno berusaha menanyakan hal tersebut pada kedua orang tua Bila.
“Ya kita tahu.”
“Apa kalian juga sudah tahu siapa yang melakukannya.” Kali ini mereka hanya mengangguk. Rasanya sangat sakit mengingat apa yang terjadi pada putri mereka.
“Bila bilang, beberapa hari lalu dia juga bertemu dengan Pak Jeff di sana. Tapi dengan keras Bila menolaknya. Dia bahkan mengatakan jika dia sudah menggugurkan anaknya.”
Kedua orang tua Bila tertegun. Apakah Bila benar-benar menggugurkan kandungannya?
“Gak seperti itu Om. Bila bukan orang jahat. Dia mempertahankan anak itu. Kandungannya sudah berusia menginjak empat bulan.”
Ada raut lega yang terpancar di wajah orang tua Bila saat Raveno menjelaskan semuanya.
Tangis Bunda Erina pecah saat mengetahui apa sebenarnya yang dirasakan oleh putrinya. “Demi Tuhan, jikapun dia hamil, aku tak akan menolak bahkan sampai menyuruhnya untuk membunuh anaknya sendiri,” lirihnya pada sang Suami berusaha menyangkal pemikiran Bila.
“Iya aku tahu karena aku juga tak akan melakukannya. Tenanglah, kita dengarkan dulu hingga selesai.” Setelah mengatakan hal itu, fokus Tuan Harla kembali pada Raveno.
“Apa dia mengatakan hal lain selain itu?” tanya Tuan Harla.
“Saya mengajaknya pulang karena dia terus berucap merindukan kalian. Tapi dia menolak. Dia ingin mendapatkan kepastian dulu dari kalian,” ucap Raveno.
Tuan Harla dan istrinya mengerutkan kening mereka dan saling memandang satu sama lain sebelum kemudian mereka kembali fokus pada Raveno.
“Apa itu?” tanya mereka.
“Jika kalian bisa menerima Bila dengan keadaannya yang sekarang, dia akan kembali. Hanya saja, dia tak ingin bertemu dengan Pak Jeff sama sekali. Hanya kalian, hanya keluarga ini yang ingin dia temui. Bahkan dia mengatakan tak akan melanjutkan sekolahnya. Dia hanya ingin fokus pada anaknya untuk saat ini.”
“Kenapa dia harus menyampaikan ini melalui kamu? Kami orang tuanya, tentu saja kami akan menerima dia apapun yang terjadi dan apapun keinginannya.”
__ADS_1
“Bisa kau berikan aku alamatnya, aku yang akan menemuinya sendiri,” ucap Tuan Harla pada akhirnya.
Raveno mengambil secarik kertas di saku jaketnya. Dia sudah mempersiapkannya dari awal karena dia yakin hal ini akan terjadi.
“Jadi selama ini dia tinggal di sana sendirian?” lirih Bunda Erina. Sedari tadi air matanya tak berhenti menetes.
“Ya, Tante. Dia bekerja sebagai guru les Bahasa Inggris. Dia menyewa sebuah rumah untuk tinggal di sana. Dia juga memasak sendiri untuk makannya.”
Ada rasa bangga dalam hati Bunda Erina. Itu berarti Bila kecilnya sudah tumbuh dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.
“Syukurlah tak terjadi sesuatu padanya.”
“Terima kasih karena telah menyampaikan ini pada kami. Kami sangat berhutang padamu,” ujar Tuan Harla.
“Sama-sama, Om. Kalau begitu saya pulang dulu. Untuk saat ini hanya itu yang bisa saya sampaikan.” Raveno tersenyum lega karena telah menyampaikan semuanya pada orang tua Bila.
Kedua orang tua Bila mengangguk dan mempersilahkan Raveno pulang. Mereka bahkan mengantar Raveno hingga motor Raveno hilang dari pandangan mereka.
Setelah kepergian pria itu, keduanya tersenyum dengan Tuan Harla yang merangkul bahu sang istri.
Baru saja mereka akan membalikan badan dan kembali ke dalam rumah, deru mesin mobil membuat mereka mau tak mau harus membalikan badannya lagi.
Mereka terdiam untuk beberapa saat menunggu sang pemilik mobil itu keluar dari mobilnya.
“Dia emang gak kapok,” desis Tuan Harla.
“Siang Ayah, Bunda,” sapanya. Wajahnya sudah tidak beraturan. Banyak luka lebam di wajahnya namun dia masih memaksakan untuk tersenyum.
“Mau apa lagi kamu ke sini?!” bentak Tuan Harla.
“Jeff mau minta maaf, Ayah. Dan yang tadi temannya Bila, kan?” tanyanya tanpa ragu. Dia sangat penasaran dengan kedatangan pria itu ke sana.
“Bukan urusanmu!!!”
__ADS_1