
Tiga bulan bukan waktu yang sebentar bagi Bila. Dengan segala keluhan yang dia rasakan, dia berhasil bertahan di negara orang, sendirian, tanpa bantuan siapapun.
"Kamu hebat!" ucap Bila sambil mengelus perutnya. Dia rutin mengecek kandungannya itu dan hasilnya memuaskan, sangat sehat. Setidaknya itu yang dikatakan dokter.
Pandangan Bila menerawang jauh ke masa depan. Dia berharap anaknya akan hidup bahagia walau tanpa Ayah. Dia harap mereka berdua akan hidup bersama selamanya.
"Tak bisa aku pungkiri, aku rindu rumah." Air mata Bila mulai menggenang di pelupuk matanya. Satu kali saja dia berkedip, maka air matanya akan jatuh.
"Apa aku akan bisa melewati persalinan sendiri?" tanyanya. Sebenarnya dia sangat khawatir, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.
****
Indonesia
"Selamat siang, anak-anak." Seorang guru dengan pakaian yang sangat ceria membuka kelas dengan bahagia.
"Siang Bu!!" Sahut semua orang di kelas itu dengan kompak.
"Ini terakhir kita belajar di semester ini ya dan kalian akan menghadapi libur semester setelah empat hari kalian melaksanakan ujian."
"Aahhh." Semua siswa mendengus kesal saat mereka mendengar kata ujian. Ujian adalah hal yang paling mereka benci.
"Ibu harap, kalian bisa melewati ujian kali ini dengan lancar dan mendapatkan nilai yang memuaskan," ucap guru itu yang mendapatkan anggukan dari siswanya.
"Untuk pelajaran terakhir hari ini, kalian belajar sendiri ya. Soalnya masih ada hal yang harus ibu kerjakan. Jangan berisik!" Guru itu memberikan peringatan pada muridnya.
Sorakan sangat bergemuruh dari kelas itu ketika mereka mengetahui jika hari ini mereka belajar dengan bebas.
"Bebas woyy, kantin kuy!" ucap seseorang di kelas itu sebelum kemudian mereka pergi dari sana menuju kantin.
Sementara itu, Raveno sangat malas beraktifitas. Dia beranjak dari duduknya dan hendak menuju rooftop. Salah satu tempat yang menjadi tempat istirahatnya ketika lelah.
Pria itu menjadi incaran para wanita setelah dia berhasil memenangkan olimpiade bahasa inggris bulan lalu. Bagaimana tidak, pria itu tak hanya tampan melainkan juga pintar. Siapa yang tak akan terjatuh pada pesona pria itu?
"Rav, mau ke mana?" Seorang gadis yang datang entah dari mana tiba-tiba bergelayut manja di lengan Raveno.
Raveno sempat terlonjak karena kedatangannya sebelum dia kembali mengontrol raut wajahnya agar tenang.
__ADS_1
"Lo apaan sih! Lepasin!" sentak Raveno. Dia berusaha menjauhkan lengannya dari jangkauan gadis itu.
"Kamu kenapa sih? Kan aku cuma mau bareng sama kamu," rengek gadis itu. Sudah sejak satu bulan yang lalu gadis itu bersikap seperti ini.
"Melinda, berapa kali harus gue bilang sama lo kalau gue risih. Bisa gak sih lo jauh-jauh dari gue?!" Raveno sedikit menyentak karena dia sudah jengah dengan kelakuan wanita yang satu ini.
"Tapi Rav, kapan kamu mau terima aku? Udah lama loh aku suka sama kamu. Tapi beberapa kali kamu tolak aku." Wanita itu menunduk sendu.
Raveno merotasikan bola matanya. "Ya kalau gue udah tolak, lo harusnya sadar diri kalau gue gak mau sama lo!"
"Tapi aku maunya cuma sama kamu." Netra Melinda terlihat berkaca-kaca karen ucapan Raveno.
"Dan gue tetep gak mau!" Raveno pergi dari sana tanpa memperdulikan Melinda yang telah meneteskan air matanya.
Matanya menatap kepergian Raveno dengan rasa sakit. "Lihat aja apa yang bakal gue lakuin buat bikin lo bertekuk lutut sama gue."
Seringaian mulai terbit di wajah Melinda saat ada sebuah ide terlintas dalam pikirannya.
Sementara itu Raveno berjalan menuju rooftop. Tempat itu masih menjadi tujuan utamanya setelah dia bertemu dengan Melinda tadi.
"Aahhh ke mana sebenarnya Bila pergi?" tanyanya sambil memejamkan mata. Dia terlalu lelah dengan segala hal yang datang dalam hidupnya.
Mengenal Bila mengubah hidupnya. Proporsi tubuh Bila yang sempurna membuat Raveno sering membayangkan gadis itu. Bahkan saat ini.
Pria itu melihat ke arah pusatnya. "****!" umpatnya saat dia sadar jika dia terangsang hanya dengan memikirkan Bila saja.
Pria itu terbangun dan mulai melakukan olahraga. Tapi nihil, miliknya itu bukannya tertidur tapi masih berdiri dengan tegak.
"Gak ada cara lain," ucapnya.
Raveno mendudukkan dirinya di sofa dan mulai membuka resleting celananya. Dia sedikit menurunkan celananya hingga miliknya berhasil keluar.
Raveno mulai menjamahnya. Dia mengelus pelan, sebelum kemudian bergerak lebih cepat.
Matanya memutih menikmati setiap sensasi yang dia dapatkan hanya dengan membayangkan Bila.
"Aarrgghh Bil!" desisnya diiringi dengan getaran hebat yang datang dari tubuhnya.
__ADS_1
Reaksi itu sungguh luar biasa hingga Raveno sampai pada puncaknya. Dia mengerang dengan keras seraya melengkungkan badannya.
Nikmat, satu kata yang bisa dia ekspresikan untuk apa yang dia rasakan saat ini.
Raveno membersihkan semuanya dengan tisu yang selalu dia bawa di dalam sakunya.
Dia terengah sambil menyandarkan badannya di sandaran sofa. "Sialan! Hanya dengan membayangkan? Gimana rasanya kalau langsung?" sebuah seringaian tampak di wajah pria itu yang membuat wajahnya semakin menawan, apalagi dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.
Dia menenangkan deru napasnya. Rencananya untuk tenang saat ini gagal karena justru dia harus bermain sendiri apalagi di rooftop sekolah.
Tak lama pintu rooftop terbuka menampilkan gadis yang sangat tak ingin Raveno lihat.
Melinda, gadis itu rupanya menyusulnya setelah apa yang Raveno lakukan padanya tadi.
"Ck, ngapain lo ngikutin gue?" Raveno bertanya dengan kesal. Dia bahkan tak menatap wajah Melinda saking kesalnya.
"Mel kan mau sama Raveno. Gapapa dong kalau Mel duduk di sini," ucap gadis itu manja.
Untung saja gadis itu tak datang ketika Raveno sedang bermain. Jika tidak, semuanya akan kacau.
"Terserah lo!" Raveno tak akan lagi memperdulikan keberadaan Melinda. Dia hanya akan diam dan mengabaikan gadis itu.
"Rav, nanti anterin melinda pulang ya," rengek Melinda sambil menyimpan kepalanya di bahu Raveno.
Raveno melihat sekilas ke arah Melinda. Saat ini dia terlalu lelah untuk menghindari gadis itu. Jadi, Raveno hanya diam di tempatnya.
Sementara itu Melinda tersenyum senang karena Raveno tak mencoba menjauhkannya.
"Gak bisa! Gue mau keluar dulu," tolak Raveno. Bohong, semua yang dikatakan Raveno adalah sebuah kebohongan.
Faktanya dia hanya tak ingin pulang dengan Melodi. Dia merasa risih karena gadis itu yang terus mendekatinya bahkan setelah beberapa kali dia tolak.
"Gapapa, Mel ikut Raveno dulu. Nanti Rav lanjut anterin Mel. Mel gak ada yang jemput." Melinda membuat raut wajah memelas.
Raveno yang tak bisa melihat seorang wanita seperti ini akhirnya menghela napas dan menganggukkan kepalanya pasrah.
"Yeyyy, Raveno memang terbaik," ucap Melinda kegirangan.
__ADS_1