
Raveno kembali ke sekolah setelah dia memastikan semuanya. Dia mengetuk gerbang sekolah yang sudah terkunci rapat.
“Sialan!” umpatnya. “Pak bukain gerbangnya!” teriak Raveno dari luar. Sang satpam yang tak sengaja terlelap terbangun ketika mendengar suara teriakan yang cukup nyaring.
Dia menghampiri asal suara itu hingga dia melihat orang yang tadi kabur begitu saja. “Mau ngapain kamu?!” sentak satpam itu.
“Mau masuk, Pak,” jawab Raveno apa adanya. “Masuk aja. Bisa gak? Tadi kan waktu pergi kamu juga gak minta bantuan saya. Kenapa sekarang saya harus bantu kamu?” Skak, Raveno tak bisa menjawabnya.
“Tunggu di sini.” Raveno mengangguk pasrah daripada dia tak bisa masuk. Tentu saja dia harus masuk, tas dan ponselnya ada di dalam kelas. Jika saja tadi dia membawa barang-barangnya, mungkin dia tak harus kembali ke sekolah.
Satpam itu membuka gerbang. Setelah gerbang terbuka, suara bariton terdengar dari arah belakang satpam itu.
“Oh ini yang tadi kabur?” tanya pria itu. Seorang pria paruh baya dengan perut gendut dan kepala botak di bagian depannya menghampiri Raveno yang sedang memasukan motornya ke area sekolah.
Raveno memejamkan matanya saat dia sadar satpam itu sedang menjebaknya. Untuk menghindari Raveno kembali kabur, satpam itu segera menutup gerbang dan menguncinya.
“Maaf Pak. Tadi ada sesuatu yang mendadak,” alasan Raveno. Pria paruh baya itu, Pak Iwan melipat tangannya di depan dada.
“Gak ada alasan. Ikut saya sekarang!!” perintahnya. “Iya bentar Pak. Nyimpen motor dulu.” Dengan kesal Raveno menyimpan motornya di parkiran dan segera mengikuti langkah pria botak itu.
Raveno sudah menduga jika guru kedisiplinan yang ada di depannya itu akan membawanya ke lapangan dan menghormat bendera hingga jam pulang atau setidaknya sampai jam istirahat.
“Pak ini mau ke mana? Lapangan kan ada di sana?” Raveno bertanya karena Pak Iwan ternyata tak membawanya ke lapangan.
“Ikut saja!” bentaknya. Raveno akhirnya menyerah. Biarlah dia mengikuti keinginan guru satu itu untuk sekarang.
Toilet, Ya. Raveno dibawa ke sebuah toilet yang sudah jarang digunakan. Sangat kotor dan bau. Ketika sampai di sana, spontan Raveno menutup hidungnya.
“Astaga gila, bau banget,” proter Raveno yang tentu saja didengar oleh Pak Iwan.
“Nah sekarang kamu bersihin toilet ini sampai bersih. Kalau belum bersih jangan dulu keluar. Jangan kira saya bakal ninggalin kamu di sini dan kamu bisa kabur. Saya ada di depan toilet.”
__ADS_1
“Tapi Pak – “
“Gak ada tapi-tapi. Sekarang bersihkan!” Ucapan Raveno terhenti karena Pak Iwan tak membiarkannya bicara.
Raveno menghela nafas berat. “Sialan banget tuh guru,” desisnya berharap tak terdengar oleh guru kedisiplinan itu.
“Saya masih dengar apa yang kamu katakan, Raveno!” Raveno menunduk dan memejamkan matanya dengan erat. Bodoh, tentu saja guru itu masih bisa mendengar karena jarak mereka yang memang tak terlalu jauh.
Raveno tak banyak bicara lagi, dia segera membersihkan toilet itu hingga benar-benar bersih. Beruntunglah nodanya bukan noda membandal yang susah dibersihkan.
“Bapak, kenapa pacar saya di suruh bersihin toilet?” Sebuah suara cempreng terdengar di indera pendengaran Raveno.
Dia merotasikan bola matanya saat dirasa dia mengenai suara itu. “Makin bikin ruwet aja nih orang,” ujar Raveno.
“Siapa kamu? Mau saya suruh bersihin toilet juga?!” bentak Pak Iwan yang langsung membuat wanita itu menciut.
“E-enggak Pak.” Gadis itu adalah Melinda. Kalian masih mengingatnya? Gadis yang tak pernah menyerah mengejar Raveno.
Gadis itu berdiri tegap di samping Pak Iwan tanpa suara apapun lagi. “Lagi apa kamu masih di sini?” tanya Pak Iwan aneh dengan gadis yang satu itu.
Tapi sepertinya dia tak bisa. Yang dia bisa hanya menunggu dan menemaninya saja karena dia juga takut dengan Pak Iwan.
Pak Iwan tak ingin pusing dengan gadis yang satu itu akhirnya dia membiarkannya. Tak lama Raveno keluar dari toilet dengan keringan yang mengucur di pelipisnya.
Jangan lupakan bajunya yang juga basah karena keringat. “Udah selesai Pak,” lapor Raveno. Dia masih mengatur nafasnya yang terengah.
“Astaga Rav, kamu keringetan banget.” Tanpa menunggu Pak Iwan menjawab, Melinda segera menghampiri Raveno dan berusaha mengusap keringat pria itu.
Tapi, Raveno menghindar dan menghempaskan tangan Melinda begitu saja. Hal tersebut tak luput dari pandangan Pak Iwan.
“Kalian beresin lah tuh masalah keluarga,” ucapnya random sebelum kemudan dia pergi dari sana. Tugasnya menghukum Raveno sudah selesai jadi sekarang dia pergi dari sana untuk beristirahat.
__ADS_1
“Lo apa-apaan sih?” tanya Raveno risih dengan perlakuan Melinda padanya.
“Aku cuma khawatir sama kamu,” rengek gadis itu. Raveno menghela nafas kesal. “Gue udaah gede, gak perlu dikhawatirin,” protesnya.
“Ya udah sih itu kan hak aku.” Enggan mendengar bualan Melinda semakin lanjut, Raveno meninggalkan gadis itu begitu saja.
“Ihh Rav tunggu.” Melinda tak menyerah. Dia mengejar Raveno dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan pria jangkung itu.
“Jangan ikutin gue atau gue bakal benci sama lo selamanya.” Raveno berhenti dan menekankan setiap kata pada Melinda.
Gadis itu terdiam di sana dengan perasaan bingung. Jika mengejar, dia akan dibenci, jika tidak mengejar, dia kangen sama Raveno.
“Ah udah lah, nanti lagi aja.” Akhirnya dia memilih opsi kedua dengan pertimbangan dia masih bisa menemui Raveno nanti.
Raveno bernafas lega saat dia sadar Melinda tak lagi mengikutinya. “Udah kaya anak ayam aja,” ujarnya mengingat Melinda yang selalu mengekor kemana saja.
Ada sedikit senyum di bibirnya ketika dia membayangkan bagaimana Melinda selalu mengikutinya.
“Dih apaan sih!” ucap Raveno pada dirinya sendiri sambil menampar pelan pipinya.
“Kenapa gue jadi mikirin dia?” Raveno bergidik ngeri membayangkan hal itu.
UKS adalah tujuan utamanya saat ini. Hanya di tempat itu dia bisa bersantai seletah hukuman yang diberikan oleh guru kedisiplinan itu.
Tepat sekali, suasana di sana sangat sepi. Tak ada seorangpun yang datang ke sana selain Raveno.
Dengan bebas, Raveno membuka baju seragamnya karena berkeringat. Dia menyimpan baju itu di sandaran kursi dan dia memilih membasuh wajahnya.
“Kalau tau bakal gini, gue gak akan nekat keluar sekolah cuma buat nemuin Bila,” ucapnya. Dia menata rambutnya yang berantakan setelah hukumannya.
Dia kembali memakai bajunya setelah keringatnya agak kering. “Heyy awas-awas!” seorang petugas kesehatan datang ke sana dan meminta Raveno menyingkir.
__ADS_1
Ada seseorang yang dibawa dengan tandu. Seorang wanita yang sangat Raveno kenali. Matanya membulat saat melihat hal itu.
“Kenapa dia?” Entah kenapa dia menjadi panik sendiri melihat gadis yang ada di atas tandu itu.