
“Ah kenalin, dia Melinda teman Abang di sekolah,” jawab Raveno memperkenalkan Melinda pada adiknya.
“Oh iya.” Dita memandang aneh Melinda. Bukannya tak suka, tapi dia aneh saja melihat gadis yang pagi-pagi begini sudah ada di rumahnya.
“Kak Melinda dari mana?” tanya Dita spontan. Ingin saja dia bertanya begitu.
Melinda gelagapan tak tahu harus menjawab apa. “Dia tidur di sini semalam. Lo sih belajar mulu gak keluar kamar, jadi gak tau kan?” Bukan Melinda yang menjawab tapi Raveno.
Dita mengangguk dengan mulut yang membentuk huruf o. “Yuk makan dulu, nanti kalian kesiangan.” Bunda mereka akhirnya bersuara.
Mereka sarapan dengan tenang hingga makanan yang ada di meja makan habis termakan. “Lo diem di rumah aja, jangan sekolah dulu. Nanti kalau udah benar-benar sehat baru sekolah,” ucap Raveno.
“Aku udah baikan kok. Masih bisa sekolah,” jawab Melinda. Raveno menggeleng tetap tidak mengizinkan Melinda untuk sekolah.
“Bunda Abang minta tolong jaga dia ya. Jangan biarin dia sekolah dulu.” Akhirnya Raveno meminta bantuan Bundanya karena dia yakin Melinda akan pergi ke sekolah.
Raveno sudah tahu sekarang jika Melinda adalah gadis yang keras kepala. “Iya Bang. Lagian Bunda juga gak akan kemana-mana kok,” jawab Bundanya yang kemudian dianggukki oleh Raveno.
“Ya udah kalau gitu Abang berangkat dulu ya.” Raveno menggendong tasnya. “Dengerin kata gue, jangan kemana-mana.” Raveno mengelus surai Melinda di depan Bunda dan Dita.
Hal itu membuat Dita membelalakkan matanya tak menyangkan Abangnya akan melakukan itu karena yang dia tahu Abangnya itu adalah pria yang dingin pada siapapun.
Sementara itu Melinda mengangguk. Dia mengantar Raveno ke depan rumah, begitupun Bundanya.
“Antar gue dulu Bang. Males bawa motor,” ucap Dita. “Gak usah bilang gitu juga gue udah tau. Setiap hari juga lo males bawa motor, makanya gue harus jadi ojek lo dulu setiap pagi.”
Melinda terkekeh melihat pertengkaran kedua orang itu begitupun Bundanya. “Udah ah, kalian ini rebut mulu. Sana berangkat, nanti telat!” perintah Bundanya.
“Abang berangkat dulu, Bun. Mel gue berangkat dulu.” Kali ini selain pada Bundanya, Raveno juga meminta izin pada Melinda. Mereka berdua mengangguk sebelum kemudian melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan mereka.
Setelah dua orang itu pergi, Melinda sebenarnya menjadi agak canggung berada berdua dengan Bunda Raveno. Waktu pertemuan pertama mereka dia merasa biasa saja karena saat itu dia juga datang dengan keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
“Sayang, masuk yuk,” ajak Bunda Raveno. Sengaja dia berucap dengan lembut karena takut mengejutkan Melinda yang sepertinya sedang melamun.
“Ah, iya Bunda ayo.” Bunda Raveno menggandeng tangan Melinda dan membawa gadis itu ke dalam rumah.
Mereka berdua duduk di sofa. “Kamu baik-baik aja? Sejak kamu datang semalam, Bunda belum ngomong sama sekali dengan kamu.”
Melinda memandang Bunda Raveno dengan lekat diiringi dengan senyuman di wajahnya.
“Baik Bunda. Mel gak kenapa-kenapa,” jawab Melinda. Melinda seperti teringat sesuatu. “Bun, Raveno gak cerita apa-apa?” tanya Melinda. Akan semalu apa dia jika Bunda Raveno sampai tahu apa yang menjadi penyebab dia datang ke sana.
Gelengan Bunda Raveno membuat Melinda menghela nafas lega. “Maaf Bunda, Melinda jadi ngerepotin. Tapi setelah ini Mel bakal pulang kok,” ucap Melinda dengan senyumannya.
Walaupun dia berkata pada Raveno takut untuk pulang, tapi tak ada jalan lain. Dia tak memiliki tempat lain untuk pulang selain rumahnya.
“Gak ada ceritanya kamu repotin Bunda. Justru Bunda senang kamu di sini. Ayahnya Veno kan jarang pulang, jadi di rumah sepi banget. Kalau kamu di sini pasti bakal rame,” jawab Bunda Raveno.
Melinda tersenyum heran dengan kebaikan Bunda Raveno. “Makasih Bunda,” ucapnya.
Dia juga tak tahu apakah Raveno akan mengizinkannya atau tidak. Tapi dia tak bisa tinggal di sana selamanya, apalagi dia seorang wanita sementara Raveno seorang pria. Apa kata tetangga nanti.
“Rav gak akan nahan Mel kok. Mel tahu sendiri gimana Rav rishi banget sama Mel,” kekehnya. Walau sekarang dia sudah tahu bagaimana perasaan pria itu terhadapnya, tapi dia masih tahu diri untuk tidak terlalu berharap pada pria itu.
“Bunda gak ikutan ya kalau sampai dia marah sama kamu.” Melinda mengangguk paham.
****
Raveno tiba di sekolah setelah dia mengantarkan Dita terlebih dahulu. Ucapannya tentang dia yang menjadi ojek setiap pagi memang benar. Itulah alasan kenapa dia tak pernah membawa seorang gadis di motornya.
Suasana sekolah cukup ramai, mungkin karena ini sudah lebih dari jam tujuh. Untuk memanfaatkan waktu agar tak terbuang, Raveno pergi ke kantin karena dia tahu jam masuk masih lama.
Meskipun sekolah sudah ramai, tapi beruntung kantin masih sepi sehingga Raveno bisa bebas duduk di mana saja.
__ADS_1
“Bu es teh manis satu ya,” ucap Raveno pada ibu kantin. “Siap Den!”
Sebenarnya itu hanya formalitas. Raveno sudah makan, dia pergi ke sini hanya karena dia ingin menelpon Ayahnya.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mencari nomor Ayahnya sebelum kemudian dia menyentuh tombol hijau di ponselnya.
Cukup lama Raveno menunggu hingga Ayahnya mengangkat panggilannya.
“Halo Bang? Kenapa?” tanya orang di seberang sana yang tak lain adalah Ayahnya sendiri.
“Yah, ada yang mau Abang omongin, Ayah lagi sibuk gak?” Raveno harus memastikan terlebih dahulu apakah ayahnya itu sedang sibuk atau tidak.
“Enggak, Ayah baru aja pulang. Ini mau istirahat,” jawabnya.
“Gini Yah. Emm gimana ya … “ Raveno bingung harus memulai dari mana berbicara dengan Ayahnya.
“Ngomong aja kenapa sih, kaya sama orang lain aja,” kekeh Ayahnya. Mereka memang dekat, tapi karena belakangan ini ayahnya jarang pulang, Raveno menjadi agak canggung dengan ayahnya itu.
“Abang suka sama cewe Yah,” ucap Raveno agak malu.
“Lah ya udah, masalahnya di mana? Kalau kamu suka sama cowok, baru jadi pertanyaan,” jawab Ayahnya.
“Abang belum selesai Yah. Jadi dia itu ada masalah di rumahnya yang kalau Abang biarin dia di rumah, fisik sama mentalnya bisa sakit. Kalau Abang biarin dia tinggal di rumah kita gimana? Ayah kasih izin gak?” tanya Raveno. Akhirnya dia bisa menjelaskan semuanya.
“Heh!! Kamu ini ada-ada aja. Mana boleh, kalian belum sah. Tapi sebenarnya sih Ayah gak masalah, tapi apa kata tetangga nanti kalau kalian belum nikah kamu udah ajak dia tinggal serumah?”
“Tapi Yah, kalau Abang biarin dia tinggal di rumahnya sendiri, Abang gak bisa menjamin keselamatannya,” lirihnya.
“Ya udah gini aja … “
Raveno mengangguk mendengar penjelasan selanjutnya yang diberikan oleh Ayahnya.
__ADS_1