
Stevani dan Keisya terpaksa berdesakan di bis ketika pulang sekolah. Rencana awal, mereka akan pergi ke rumah Bila untuk menanyakan apa yang dikatakan Jeff tadi di sekolah.
Tapi sayangnya, mereka kehabisan uang jajan mereka hingga hanya cukup untuk mereka naik bis saja.
“Aduh, Pak. Jangan dorong-dorong dong,” seru Keisya saat pria di belakannya sedari tadi tak henti menyenggol punggungnya.
“Saya gak dorong. Emang bis-nya aja yang sempit. Jadi kaya gini. Kamu kalau mau bebas, jangan naik bis,” jawab Si Bapak itu.
Keisya tak menjawab lagi. Dia lebih memilih diam daripada berdebat dengan orang itu. Padahal apa yang dikatakan Keisya memang benar, sedari tadi bapak itu terus saja menyenggol punggungnya.
Semakin lama di biarkan, Keisya merasa ada yang menyentuh bagian bokongnya. Sontak dia berbalik dan melihat dengan tajam pada orang itu.
“Dasar cabul!” sentaknya. Dengan spontan, tangan Keisya melayang untuk menampar pipi orang itu.
Semua perhatian langsung terarah pada mereka. Bus berhenti, Keisya menarik pria itu keluar dari bus begitupun Stevani yang ikut keluar.
“Kenapa sih Kei?” tanya Stevani yang belum sadar dengan semuanya.
“Orang ini dari tadi dorong-dorong, eh gak taunya tangannya gak sopan pegang pantat gue!” kesal Keisya. Gadis itu belum melepaskan tangannya di kerah baju pria itu.”
“Siapa sang cabul? Gak ada ya saya pegang-pegang kamu, lagian rata gitu!!” pria itu berusaha melakukan pembelaan.
“Udah jadi pelaku, gak ngaku lagi. Kurang ajar.” Sekali lagi Keisya menampar pria itu. Kini tangan Stevani yang terangkat untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Keisya sebelum kemudian pria itu lari dengan cepat.
Keisya berusaha mengejarnya. “Eh jangan pergi lo!!” teriaknya. Namun sayang, dia kalah cepat dengan pria itu.
“Sialan! Awas aja kalau ketemu lagi gue bunuh tuh orang,” ujar Keisya. Stevani yang sedari tadi mengikuti Keisya berlari kini berjongkok dan menarik nafas dengan cepat.
Nafasnya tersenggal karena rasa lelahnya. “Lo gak apa-apa?” tanya Keisya juga masih dengan nafas yang memburu.
Stevani menggelengkan kepalanya. Dia hanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk memulihkan keadaanya.
__ADS_1
“Yah bus-nya udah pergi. Mau jalan kaki aja? Lagian ini udah dekat,” ujar Keisya saat dia melihat ke arah bus.
“Gak apa-apa. Kita jalan aja, nanti kita sekalian minta makan sama bila,” ucap Stevani dengan enteng.
Keisya terkekeh. Pada akhirnya mereka berjalan menyusuri trotoar. Membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit untuk mereka tiba di rumah Bila.
“Bil, ini kita. Lo ada di rumah?” sapa Stevani sambil mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka dan memperlihatkan Bila di sana dengan baju rumahannya.
Bila terlihat seperti ibu rumah tangga karena dia sekarang mengenakan baju hamil ditambah rambut yang dia jedai ke atas.
“Eh kalian. Ayo masuk,” ajak Bila. Begitu terkejutnya mereka karena di sana tak hanya ada Bila, tapi juga Jeff.
“Pak Jeff, kenapa di sini!!” Keduanya berteriak kaget. “Lah, kan ini rumah pacar saya, gak apa-apa dong,” jawabnya.
“Tau mau ke sini, tadi saya nebeng,” kesalnya. “Lah, kamu kan gak ngomong, mana saya tau kamu mau ke sini.” Benar juga apa yang dikatakan gurunya itu. Mereka tak mengatakan akan ke rumah Bila.
“Iya sih. Mana tadi kena pelecehan seksual lagi!” ujar Keisya. Mata Bila terbelalak saat mendengar hal itu.
“Gimana ceritanya bisa kena pelecehan?” tanya Bila penasaran.
“Terus orangnya? Lo bisa laporin dia ke polisi,” ujar Bila. “Tadinya iya. Tapi dia keburu laari, jadi gue gak sempat bawa dia ke kantor polisi,” jawab Keisya kecewa.
“Tapi lo gak apa-apa kan?” tanya Bila khawatir. Keisya menggeleng. Bukan sama sekali tak kenapa-kenapa, rasa trauma pasti ada, tapi badannya tak ada yang terluka sedikitpun.
Setelah mereka duduk, barulah mereka kembali berbicara. “Lagian, mau apa kamu ke sini?” lanjut Jeff.
“Ini mau nanya ini.” Stevani memberikan undangan yang tadi diberikan oleh Jeff di sekolah. Alis Jeff terangkat pertanda pria itu bingung.
“Kenapa sama undangannya?” tanya Jeff. Dia bingung dengan dua temat Bila itu.
“Emang lo bener mau nikah sama Pak Jeff?” tanya Stevani langsung pada inti permasalahannya.
__ADS_1
Bila mengangguk dengan yakin. “Emang kenapa?” tanyanya pada kedua temanny.
“Bukannya waktu itu lo bilang gak mau ketemu sama Pak Jeff lagi? Kenapa sekarang di ajak nikah malah mau?” Keisya bertanya heran.
“Eh kalian jangan cuci otak Bila ya. Udah benar Bila terima lamaran saya.”
“Pak Jeff yang terhormat, emang siapa yang mau cuci otak Bila? Orang kita cuma nanya doang,” jawab Keisya keberatan.
“Iya, tapi pertanyaan kalian ada unsur meragukan saya dan itu pasti akan berpengaruh sama keputusan Bila,” kesalnya.
Memang tak benar jika Bila berteman dengan orang yang tak mendukungnya sama sekali. Mungkin selain meminta restu kedua orang tua Bila, Jeff juga harus meminta restu pada dua teman Bila itu.
“Gak ada ya Pak. Saya murni cuma nanya, ya kalau Bila tetap mau lanjut saya dukung. Tapi kalau mau berhenti ya saya lebih dukung.”
Dari kalimat iu Jeff bisa tahu jika keduaa temannya itu tak terlalu menyukainya. “Enggak, Bila tetap akan nikah sama saya. Orang di dalam perutnya juga ada anak saja.” Jeff merasa punya kekuatan karena dia sudah menghamili Bila.
Kedua teman Bila diam tak lagi bisa menjawab. “Gue harap kalian datang ke pesta pernikahan kita ya.” Kali ini Bila yang berbicara.
Stevani dan Keisya mengangguk. “Setelah nikah lo masih tinggal di sini kan?” tanya Stevani.
Bila menoleh pada Jeff meminta jawaban karena kehidupan Bila setelah menikah menjadi milik suaminya, maka dia menanyakan hal itu juga pada Jeff.
“Kayanya kita ke apartemen aku aja sebelum aku beli rumah buat kamu,” saran Jeff.
“Tuh dengar kan jawabannya?” tanya Bila pada kedua temannya.
“Iya iya. Kita masih boleh main kan?” Stevani khawatir mereka tak akan bisa lagi menemui Bila.
“Bisa kok. Kalian tinggal ke apartemen aja,” jawab Bila. Senyum kedua temannya mengembang.
“Aduh, kapan sih ponakan gue lahir? Udah gak sabar pengen gendong.” Tiba-tiba Keisya membahas yang lain.
__ADS_1
“Sama gue juga. Gue yang kasih nama anak lo deh,” usul Stevani.
“Gak, gak boleh! Emang kalian siapa main mau namain anak orang aja. Kalau mau namain anak, ya buat dulu lah anaknya!” kesal Jeff. Entah mengapa setiap berbicara dengan teman Bila, emosinya selalu memuncak.