Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
46. Bertemu Sahabat


__ADS_3

Beberapa hari setelah Jeff mengantarkan martabak ke rumah Bila, Bila kembali dingin. Dia sama sekali tak bisa ditemui. Bahkan Bila meminta pada satpam penjaga rumahnya agar tak membiarkan Jeff masuk ke rumahnya.


Di sinilah Jeff sekarang. Dengan bungkusan makanan yang dia bawa. Dia memang tak pernah menyerah. Meskipun Bila menolaknya, dia akan selalu membawakan makanan untuk gadis itu.


“Ya udah, kalau saya gak boleh masuk, tolong kasih ini sama Bila ya, Pak.” Akhirnya Jeff memberikan bungkusan itu padaa satpam untuk memberikannya pada Bila.


Satpam itu mengangguk. “Baik, Den. Maaf ya, saya hanya menjalankan perintah.” Sebenarnya satpam itu merasa tak enak hati, tapi bagaimana lagi, Bila langsung yang memerintahkannya.


“Gak apa-apa. Kalau gitu saya pergi dulu.” Siang ini Jeff memang sengaja izin dari sekolah untuk sekedar memberikan makanan itu pada Bila.


Tentu saja dia akan kembali lagi ke sekolah. Suasana sekolah ramai seperti biasa, apalagi ini adalah jam istirahat.


“Pak Jeff!!” Baru saja Jeff membuka helm yang dia kenakan, sebuah suara yang sangat keras membuat perhatiannya teralihkan.


Dia melihat siapa yang datang menghampirinya. “Pak, Bila udah balik?” tanya Stevani setelah sampai di hadapan gurunya itu.


“Udah.” Setelah Jeff menjawab demikian, senyum Stevani dan Keisya mengembang lebar.


“Berarti dia bakal sekolah lagi kan Pak?” Keisya sekarang sudah lebih tenang dibandingkan dengan terakhir kali dia bertemu dengan Jeff.


“Saya gak yakin. Kayanya dia gak bakal sekolah lagi. Kata Bundanya dia gak mau sekolah.” Sebenarnya Jeff juga sangat sedih dengan hal itu.


Tapi mau bagaimana lagi jika itu yang diinginkan oleh Bila dia akan menghormati itu.


“Yahh, padahal kita mau ketemu Bila.” Stevani menghela nafas kecewa. “Main aja ke rumahnya. Yang gak mau dia temui adalah saya, jadi mungkin kalian akan diterima di sana,” jawab Jeff.


Jeff tahu, meskipun Bila tak ingin bertemu dengan banyak orang yang dia kenal, gadis itu juga membutuhkan setidaknya seorang sahabat untuk diajak berbagi.


Keisya memandang Stevani dengan senyumannya. Apa yang dikatakan Jeff ada benarnya juga. “Nanti pulang sekolah?” tanya Keisya pada Stevani yang dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.


“Oke Pak. Makasih informasinya.” Mereka berdua meninggalkan Jeff setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Jeff menggelengkan kepalanya. “Baguslah, mungkin aku bisa menjadikan mereka sebagai sumber informasi,” desis Jeff sebelum kemudian pria itu pergi ke ruangannya.


****

__ADS_1


Sementara itu Bila di rumah hari ini sendirian. Akhirnya setelah sekian lama orang tuanya tak pergi bekerja, hari ini mereka pergi bekerja.


Mulai sekarang, Bila akan berusaha mengerti dengan pekerjaan orang tuanya karena akhirnya dia merasakan bagaimana obsesi seorang orang tua untuk menghidupi anaknya.


“Bosen ya? Sama, Mommy juga bosen. Mau main ke luar, mau belanja, mau hangout sama teman-teman.” Bila mengelus perutnya.


Dia menghela nafasnya dalam. Andai dia mempunya satu saja teman untuk bercerita atau melakukan hal aneh bersamanya.


“Non Bila,” panggil Bi Inah dari depan kamarnya. “Iya Bi?” Bila mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang saat ini berdiri di ambang pintu kamarnya.


“Itu ada yang cari. Katanya temannya Non Bila.” Bila mengernyitkan keningnya saat mendengar hal itu.


Teman yang mana? Apakah ini cara baru Jeff untuk menemuinya? “Bibi yakin itu bukan Jeff?” tanya Bila meyakinkaan.


“Bukan Non. Cewe dua orang,” jelas Bi Inah. Bila sedikit berpikir sebelum kemudian dia membelalakan matanya.


“Jangan-jangan ... “


Bila segera beranjak dari ranjangnya untuk melihat apakah hal ini sesuai dengan yang dia pikirkan atau tidak.


Bila menuruni anak tangga dengan pelan. Tentu saja dia tak ingin menyakiti anaknya. Matanya memicing saat mulai bisa menangkap siapa orang yang saat ini sedang duduk di ruang tamu.


Benar sekali dugaannya. Dua gadis yang dikatakan Bi Inah adalah Stevani dan Keisya. Dua temannya ketika di sekolah dulu.


“Bila!!” seru kedua temannya itu. Mereka berdiri dan segera memeluk Bila dengan erat.


“Akhh, jangan kenceng-kenceng,” ucap Bila sambil menjauhkan tubuh kedua temannya. Stevaani dan Keisya sontak menjauh dari Bila dengan pandangan yang mengarah pada perut Bila.


Bila yang sadar akan hal itu segera menutupi perutnya dengan long cardi yang dia gunakan. “Kita udah tau, gak usah ditutupin,” ucap Keisya yang membuat Bila lagi-lagi membelalakkan matanya.


“Kalian tau? Dari mana?” tanya Bila terkejut. “Siapa lagi kalau bukan pacar lo,” jawabnya.


“Kok bisa!!?” kesal Bila. Maksudnya, kok bisa Jeff mengatakan hal ini kepada kedua temannya.


“Kayanya dia terlalu yakin sama kita kalau kita gak bakal kasih tau siapapun,” timpal Stevani.

__ADS_1


“Tapi kalian gak kasih tau siapa-siapa kan?” Bila mulai khawatir teman-temannya yang lain akan mengetahui tentang hal ini.


“Enggak lah!” sentah Keisya. Bila menghela nafas lega mendengar penuturan temannya.


Setelah selesai mengurus tentang kehamilan Bila, Bile mempersilahkan kedua temannya kembali duduk.


“Lo jahat banget pergi gak bilang-bilang,” ujar Stevani dengan bibir yang mengerucut.


“Ya bukan kabur namanya kalau bilang-bilang,” kekeh Bila.


“Eh ngomong-ngomong, ponakan gue umur berapa sekarang?” Kali ini Stevani yang bertanya.


“Bentar lagi udah empat,” jawab Bila sambil mengelus perutnya sayang.


“Cepat lahir ya, nanti kita main bareng.” Keisya juga ikut mengelus perut Bila.


“Enak aja! Jangan cepet-cepet lah, sesuai sama seharusnya aja sembilan bulan pokoknya,” ucap Bila.


Ngeri membayangkan anaknya lahir prematur. “Hehehe, iya itu maksud gue.” Tak lama Bi Inah datang dengan minuman dan cemilan di atas nampan.


“Silahkan Non. Temannya Non Bila ya?” tanya Bi Inah yang diangguki oleh dua orang itu. “Makasih, Bi.” Bi Inah mengangguk dan kembali ke dapur.


“Tapi kalian kan belum pernah ke sini, kok tau rumah gue sih?” tanya Bila heran.


“Kita emang gak pernah ke sini, tapi Pak Jeff sering banget kan?” goda Stevani. Akhirnya Bila mengerti dari mana kedua temannya ini tahu alamat rumahnya.


Mereka berbicang tentang berbagai hal hingga pembahasan sensitif yang sangat membuat Bila enggan membicarakannya.


“Lo gak mau sekolah lagi Bil? Sayang loh,” ujar Stevani.


Raut wajah Bila berubah tak enak saat pertanyaan itu dilayangkan. Keisya yang peka akan hal itu sontak menyenggol lengan Stevani. Stevani memandang Keisya dengan gundah.


“Kayanya enggak. Gak mungkin juga gue sekolah dengan perut gue yang buncit, kan?” kekeh Bila. Namun, terlihat ada harapan di sana.


Dalam hati kecilnya dia juga ingin sekali sekolah, tapi keadaan seakan tak mengijinkannya.

__ADS_1


“Sorry, Bil,” ucap Stevani yang sadar dengan pertanyaannya beberapa menit lalu.


Bila tersenyum tenang. “Santai aja.”


__ADS_2