Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
80. Bersama


__ADS_3

Jeff tiba di rumah Bila sekitar jam setengah sepuluh malam. Jam malamnya menjadi tidak bebas semenjak dia menikah karena dia tahu jika dia memiliki tanggung jawab.


“Bun.” Seseorang yang dipanggil itu menolehkan kepalanya ketika dia dipanggil.


“Udah pulang, kok cepat banget,” ucap Bunda Erina yang dianggukki oleh Jeff. “Iya, Bun. Gak lama kok, cuma temu kangen aja,” kekehnya.


Bundanya tersenyum menanggapi ucapan Jeff. “Bila di kamar?” tanya pria itu sambil menunjuk ke arah kamar Bila.


“Hmm, tapi kayanya mood dia lagi hancur deh. Kenapa sih kalian ini?” tanyanya penasaran. Namun, Jeff menggeleng. Dia harus bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri tanpa bantuan orang tuanya.


“Biar Jeff yang selesaikan sendiri, Bun. Gak enak juga kalau tiap ada masalah, kita ngadu terus sama kalian.” Rupanya kedua putranya itu sama-sama ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.


“Ya udah, selesaikan baik-baik, ya. Jangan sampai kejadian yang udah-udah keulang lagi.” Bunda Erina mencoba memperingati putranya. Hal itu mendapatkan anggukkan dari Jeff.


“Kalau gitu Jeff ke atas dulu ya, Bun,” pamitnya. “Iya. Mungkin dia tidur karena dari tadi gak turun-turun.” Jeff mengangguk paham.


Jeff pergi ke atas untuk menemui istrinya. Dia mengetuk pintu kamar Bila namun tak kunjung ada balasan dari dalam.


Ketika tak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu kamar itu. Dia membukanya dengan pelan dan hati-hati takut mengganggu sang empu yang tengah beristirahat.


Benar saja apa yang dikatakan Bundanya, gadis itu tertidur sangat pulas, bahkan dia sama sekali tak menyadari kedatangan Jeff.


“Udah tidur ternyata,” ucapnya. Karena tak ingin membangunkan istrinya, akhirnya dia memilih kembali keluar.


“Bun, kayanya kita nginep dulu di sini deh. Bila udah tidur, Jeff gak tega bangunin dia,” izin Jeff pada bundanya yang kebetulan masih ada di ruang keluarga.


“Hmm nginep aja. Lagian ini udah malam juga.” Jeff mengangguk setelah mendapatkan izin dari Bundanya.


“Ayah kalau udah kerja tekun banget, ya. Sampai jam segini juga belum pulang.” Jeff sebenarnya merasa iri dengan Ayahnya itu yang bisa melakukan pekerjaannya dengan giat seperti sekarang.


“Tekun banget malah. Tapi kita nyesal sih pernah setekun itu sampai kita melupakan Bila,” lirih Bundanya.

__ADS_1


Dia kembali teringat ke masa lalu, di mana dirinya sangat gila kerja hingga bisa tak pulang selama sebulan penuh.


“Jadi, waktu dulu Jeff suka main ke rumah, dan kalian gak ada itu kalian kerja?” tanya Jeff.


“Iya. Kita berdua kerja. Kita mikirnya, kalau ada uang pasti semuanya bakal berjalan dengan lancar. Bila juga pasti akan bahagia karena dia bisa membeli apapun dengan uang yang kita berikan,” jelasnya.


“Tapi siapa sangka, justru yang dia butuhkan saat itu bukan uang yang kita hasilkan, tapi keberadaan kita di sisinya. Kita sangat terlambat. Kamu tahu? Kita baru sadar itu setelah dia pergi ke Korea,” lanjutnya.


Jeff mengangguk seraya tersenyum. “Mungkin emang udah gini harusnya. Kalau waktu itu Bila gak pergi ke Korea, mungkin Bunda dan Ayah belum sadar sampai sekarang,” tambahnya.


“Iya. Bunda bersyukur banget bisa sadar pas Bila masih belum benar-benar marah dengan yang kita lakukan.”


Sesi cerita mereka sangat panjang hingga hari semakin larut. “Tidur, gih. Ini udah malam,” perintah Bundanya.


“Bunda gak tidur juga?” tanya Jeff yang dibalas dengan gelengan oleh wanita paruh baya itu.


“Enggak deh. Bunda masih mau tungguin Ayah pulang. Katanya sih dia bakal pulang, tapi gak tau jam berapa,” kekehnya.


“Kalau gitu Jeff duluan ya, Bun.” Bunda Erina mengangguk sebelum kemudian Jeff pergi dari sana menuju kamarnya.


“Selamat malam, Canti,” ucap Jeff disusul dengan kecupan ringan di kening gadis itu. Jeff ikut membaringkan badannya dan terlelap. 


**** 


Malam ini setelah pulang bekerja, Raveno pulang ke apartemennya. Dia sering sekali tidur di sana semenjak Melinda menempati apartemen itu.


“Mau mandi dulu?” tawar Melinda saat melihat Raveno baru saja pulang. Sebenarnya ini sudah larut, tapi biasanya Raveno akan mandi sebelum tidur.


Benar saja, karena beberapa detik setelah Melinda mengatakan hal itu, Raveno akhirnya mengangguk.


“Mau disiapin air hangat?” tanyanya. “Enggak usah. Sana lo tidur aja, ini udah malam,” ucap Raveno.

__ADS_1


“Ya udah sana mandi dulu aja, aku mau tungguin kamu,” jawabnya. Jika sudah seperti ini, Raveno memaksa sekeras apapun pada gadis itu untuk tidur, maka jawabannya tetap tidak.


Kalian tahu sendiri bagaiamana keras kepalanya Melinda. Akhirnya tanpa mengatakan hal apapun lagi, Raveno pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Sementara Melinda duduk bersandar di sofa ruang tamu. Banyak sekali sesuatu yang hinggap dalam pikirannya jika sudah larut seperti ini.


“Apa Papah gak apa-apa di sana sendirian?” Memang sering kali Melinda merasa khawatir dengan Papahnya. Tentu saja dia khawatir, meski Papahnya itu selalu melakukan hal kasar padanya, tapi tetap saja jika dia adalah Papahnya.


“Kakak sama Mama sekarang di mana?” Sejak kepergian orang-orang itu, Melinda sama sekali belum bertemu lagi dengan mereka.


Meskipun dia ingin, dia tak bisa karena memang dia tak tahu keberadaan dua orang itu.


Cukup lama dia berurusan dengan pikirannya yang tak kunjung reda, hingga sebuah tangan melingkar di lehernya.


Melinda bisa merasakan jika orang itu juga menyimpan kepalanya di bahu Melinda bahkan menelusupkannya ke ceruk leher gadis itu.


“Mikirin apa?” bisiknya tepat di telinga Melinda. Merinding, itulah yang dirasakan oleh Melinda saat mendapatkan perlakuan Raveno.


“Bukan apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum. Gadis itu mengangkat tangannya untuk menyentuh lengan Raveno yang masih setia berada di sana.


“Ayo tidur, udah malam,” ajak Melinda. Raveno menjauhkan tubuhnya dari gadis itu. Melinda yang sudah bebas dari pelukan Raveno, kini ikut berdiri untuk kembali ke kamarnya.


“Jangan mikirin hal berat apapun. Sekarang istirahat,” perintah Raveno pada gadis yang ada di hadapannya. Ucapan Raveno itu diangguki oleh Melinda.


“Selamat malam,” ucapnya pada Raveno sebelum dia memasuki kamarnya.


“Hhmm selamat malam.” Keduanya masuk ke kamar masing-masing. Semenjak tinggal bersama, Raveno belum berani tidur sekamar dengan Melinda karena berbagai alasan.


Tapi hubungan mereka sejauh ini memang baik-baik saja. Raveno yang kadang pulang ke apartemen dan tidur di sana.


Hari minggu yang mereka gunakan untuk belanja atau hari-hari biasa di mana Raveno akan menjemputnya untuk pergi ke sekolah.

__ADS_1


Setelah Melinda sering berangkat dengan Raveno, memang banyak sekali orang yang membicarakan mereka.


Mengatakan jika Melinda memaksa Raveno, atau hal lainnya yang tak masuk akal sama sekali. Tapi lagi-lagi Raveno selalu mengatakan, “Jangan dengerin mereka.” Kalimat penenang yang cukup ampuh untuk Melinda.


__ADS_2