
Hari terus berlalu dan Jeff masih dengan keegoisannya. Dia tetap tak ingin menerima darah dagingnya itu. Beberapa kali Bila menemuinya dan mengatakan untuk tanggung jawab. Namun, jawaban yang sama masih diberikan Jeff.
"Kenapa aku harus menerima ini?" lirih Bila. Dia mengakui dosanya. Tapi entah mengapa dia masih belum bisa mempercayai kehamilannya.
Saat ini Bila sedang berada di balkon kamarnya. Dia mengelus pelan perutnya yang masih rata. Bila masih harus bersekolah satu tahun lagi dan dia yakin dia tak bisa seterusnya menyembunyikan kehamilannya.
"Haruskah aku pergi?" monolognya.
Akhirnya Bila memutuskan untuk pergi dari sana. Saat ini tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menghilang. Dia tak ingin dianggap buruk oleh keluarga dan teman-temannya.
Bila mengemas barangnya. Beruntung orang tuanya belum pulang dan Bi Inah juga Mang Parman masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Bila menulis sebuah surat agar orang tuanya tak begitu khawatir.
"Ayah, Bunda Bila pamit pergi, ya. Jangan cari Bila karena Bila akan baik-baik saja. Maaf tak bisa berpamitan langsung dengan kalian. Bila hanya bisa menulis surat singkat ini. Bila pergi untuk menenangkan diri dari beberapa masalah yang Bila hadapi. Kalau Bila sudah membaik, Bila akan kembali. Maaf selama ini sudah merepotkan Ayah dan Bunda. Bila pergi, Bila sayang kalian."
^^^^^^Salsabila Auristela*-^^^^^^
Begitulah kiranya isi surat yang Bila buat. Dia menyimpan surat itu di atas nakas di kamarnya. Bila pergi dari rumah dengan tabungan yang dia miliki.
Gadis itu berhasil keluar dari halaman rumah. Yang dia butuhkan saat ini adalah sebuah taxi. Bila memesan taxi online untuk menuju bandara.
Sepanjang jalan, gadis itu hanya termenung. Memperhatikan setiap detail keramaian kota yang sudah dia tinggali sejak lahir.
Di sebuah bandara. Bila akan pergi ke Korea. Tak ada siapapun di sana yang dia kenal. Tapi dia sangat menyukai negara itu.
Sementara itu di rumah Bila, Bi Inah digegerkan dengan ketidakberadaan Bila di kamarnya dan hanya secarik surat yang dia temukan.
"Iya Tuan. Non Bila tak ada di kamarnya. Dia juga meninggalkan sebuah surat," ucap Bi Inah. Dia menelpon Tuannya.
"Terakhir kali kau melihatnya di mana? Mungkin dia sedang berada di kamar mandi." Ayah Bila berusaha berpikir positif, namun hal itu disanggah oleh sebuah surat yang ada di nakas samping ranjang Bila.
"Tidak Tuan. Non Bila sepertinya benar-benar pergi." Tuan Harla menutup panggilannya dan segera pergi meninggalkan kantornya.
Bi Inah dan Mang Parman masih tak menyerah. Mereka mencoba menghubungi Bila. Namun, panggilannya selalu ditolak.
Sementara itu, Tuan Harla mencoba menelpon Jeff di tengah perjalanannya menuju rumah.
__ADS_1
"Jeff kau di mana? Bila bersamamu?" tanya Tuan Harla ketika telponnya tersambung.
"Tidak Ayah. Aku sedang ada urusan dengan temanku, jadi dia tak bersamaku. Ada apa?" tanya Jeff heran. Tak biasanya Tuan Harla menanyakan keberadaan Bila.
"Bila pergi. Dia tak mengatakan akan ke mana." Tuan Harla mengadu pada Jeff tentang kepergian putrinya.
"Mungkin dia bermain dengan teman-temannya." Jeff menjawabnya dengan tenang.
Sementara itu Tuan Harla sudah sampai di rumahnya. Dia seger melihat kamar Bila dan di sana sudah ada Mang Parman dan Bi Inah yang sedang memegang surat.
Tuan Harla segera merebut surat itu dan membacanya. Matanya terbelalak dan rahangnya mengeras.
"Dia pergi jauh. Dia mengatakan dia memiliki masalah."
Ucapan Tuan Harla membuat Jeff tertegun. Dia terdiam cukup lama hingga dia berpamitan untuk menutup telpon.
"Ayah sudah dulu. Aku akan menelpon Bila." Jeff mencoba menghubungi nomor Bila. Aktif, namun tak diangkat. Bila tak menerima telponnya.
Di seberang sana, Bila melihat Jeff yang menelponnya. Dia hanya menatap layar ponsel dengan datar. Dia sudah tak ingin mengemis pada Jeff apalagi dia harus menggugurkan kandungannya.
Hingga panggilan Jeff berakhir, Bila segera mencabut kartu ponselnya dan membuangnya. Biarlah dia akan membelinya lagi nanti di Korea.
****
Jeff masih mencoba menelpon Bila. Jika beberapa saat lalu Bila tak mengangkatnya, maka saat ini nomornya tidak aktif.
Jeff pergi ke rumah Stevani dan Keisya untuk menanyakan keberadaan Bila. Siapa tahu Bila pergi ke rumah temannya itu.
"Eh Bapak. Ada apa Pak?" tanya Stevani setelah membuka pintu.
"Ada Bila?" tanya Jeff langsung. Stevani termenung dengan pertanyaan Jeff.
"Kayanya Bapak sala rumah deh," ucap Stevani sambil terkekeh untuk menutupi kecanggungannya.
Jeff menggeleng. "Bila pergi dari rumah. Saya pikir di ada di sini," jawab Jeff.
Stevani menggeleng lemah. "Dia tidak ke sini Pak."
__ADS_1
Jawaban Stevani membuat Jeff hampir putus asa jika saja dia tidak mengingat masih ada Keisya yang belum dia datangi.
"Oke. Kalau begitu saya pergi dulu." Jeff hendak berlalu dari sana sebelum suara Stevani menginterupsinya.
"Emangnya Bila pergi ke mana Pak?" tanya Stevani penasaran.
"Ya kalau saya tau, saya juga gak akan nanya kamu." Stevani langsung terdiam saat mendapatkan jawaban dari gurunya. Gadis itu menggaruk kepalanya.
"Bener sih," desisnya. Sementara itu Jeff melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah Keisya.
Rumah Keisya sangat sederhana namun nyaman. Jeff sedikit melupakan tujuan utamanya saat melihat pekarangan rumah yang sangat indah itu.
"Permisi," ucap Jeff sambil mengetuk pintu.
Seorang wanita tua datang dari dalam dan menyapa Jeff. "Cari siapa, Nak?"
Jeff sedikit terkejut karena Nenek ini yang datang menghampirinya.
"Apa benar ini rumah Keisya?" tanya Jeff ramah. Belum juga wanita tua itu menjawab, suara seorang gadis terdengar dari dalam rumah.
"Ada siapa Nek?" tanyanya. Tak lama, gadis itu keluar sambil mengikat rambutnya. Matanya terbelalak terlihat terkejut saat menangkap Jeff berada di hadapannya.
"Eh Pak. Ada apa ya? Silahkan masuk dulu," ucapnya.
"Nenek ke dalam dulu ya." Wanita paruh baya itu akhirnya pergi diiringi anggukan dari Keisya.
"Di sini ada Bila?" tanya Jeff. Keisya sedikit bingung dengan pertanyaan Jeff.
"Mungkin Bila ada di rumahnya Pak. Dia tak ada di sini." Dan di sinilah akhirnya Jeff menghela napas putus asa.
"Memang ada apa ini Pak?" tanya Keisya.
"Bila pergi dari rumah. Tapi dia tak mengatakan apapun. Entah dia pergi ke mana." Jeff mencoba menjelaskan situasinya pada Keisya.
"Apa?!" Lagi lagi Keisya terkejut. Dia membelalakkan matanya saat mendengar penuturan Jeff.
"Oke kalau gitu. Saya pergi dulu." Jeff pergi dari sana. Sepanjang perjalanan dia terus berpikir, ke mana kira-kira Bila pergi dengan meninggalkan surat.
__ADS_1
"Ke mana kamu pergi?" tanyanya khawatir. "Apa karena aku menolak anak itu?"
Jeff tenggelam dalam pikirannya hingga dia kembali ke apartemennya.