Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
47. KDRT


__ADS_3

Seperti sebuah keajaiban, lagi-lagi keinginan Bila terwujud dengan mudah. Kemarin, ketika dia ingin martabak, Jeff tiba-tiba datang dengan membawa martabak. Kali ini dia butuh teman untuk bercerita dan kedua sahabatnya datang.


Walaupun kedatangan mereka tak lama, tapi itu cukup membuat rasa rindu Bila terobati. Bila kembali ke kamarnya setelah kedua temannya pulang.


“Bi, Bila di mana?” Seorang wanita yang baru saja selesai bekerja menghampiri Bi Inah yang sedang berbenah di dapur.


“Mungkin di kamar, Nya. Tadi ada temannya datang ke sini, tapi kayanya udah pulang,” jelas Bi Inah.


Bunda Erina mendengarkan penjelasan Bi Inah sambil meneguk air yang semula dia ambil.


“Dia udah makan?” Bunda Erina kembali bertanya. “Belum, ini makanannya masih utuh. Tadi sih udah Bibi suruh makan, tapi katanya nunggu Nyonya sama Tuan pulang.”


Bunda Erina segera mengangguk sebelum kemudian dia pergi ke kamarnya untuk membersihkan badannya. Tak lama setelah kepulangan Bunda Erina, Tuan Harla datang.


Mereka memang berjanji untuk pulang tak terlalu larut karena ingin makan bersama dengan Bila.


Bila turun dengan ponsel di tangannya. Dia sibuk melihat media sosial yang rupanya sedang gencar membincangkan seputar KDRT. Bila meringis ngeri saat membaca artikel tentang hal itu.


“Kenapa Non?” Bi Inah bertanya karena Bila memasang raut wajah anehnya itu.


“Ini Bi, lagi baca yang kasus KDRT itu. Kasian korbannya sampai memar-memar. Dia juga dicekik,” ujar Bila.


Bi Inah ikut meringis mendengar penuturan Bila. “Emang Bibi gak lihat berita?” tanya Bila. Heran saja berita se-viral ini dan Bi Inah tidak mengetahuinya.


Bi Inah menggeleng. “Bibi belum lihat televisi sampai sekarang, Non,” jawab Bi Inah.


“Wah padahal udah ramai dari kemarin loh.” Bi Inah mengangguk sementara Bila kembali fokus pada layar ponselnya.


“Bunda sama Ayah belum pulang?” Bila menyimpan ponselnya setelah dia selesai membaca artikel itu.


“Udah, mungkin lagi bersih-bersih.” Bila mengangguk memilih menunggu kedua orang tuanya di sana.

__ADS_1


“Makan bareng ya Bi,” mohon Bila. Makan sendiri ketika di Korea tak menjadikan hal itu sebagai kebiasaan. Bila tetap saja kesepian jika makan sendiri.


Lebih enak makan bersama dan diselingi dengan senda gurau. Makanya dia selalu mengajak Bi Inah dan Mang Parman makan bersama.


“Bibi udah makan Non, soalnya tadi magh Bibi kayanya kambuh.” Bila mengangguk. Agak kecewa sebenarnya, tapi apa lagi yang bisa dia lakukan daripada Bibinya itu jatuh sakit.


“Ya udah, Bibi boleh panggilin Mang Parman?” Ketika Bila meminta tolong pada Bi Inah, kedua orang tuanya datang. Bi Inah pergi untuk memanggil Mang Parman.


Bunda Erina mengelus kepala putrinya dengan senyuman yang mengembang begitupun Tuan Harla.


“Kamu baik-baik aja kan di rumah?” tanya Bunda Erina yang diangguki oleh Bila.


“Baik kok Bun. Tadi ada Stevani sama Keisya yang datang. Teman Bila waktu di sekolah,” jelas Bila.


“Wah iya? Seru dong. Kalian ngomongin apa aja?” tanya Bunda Erina antusias. Setidaknya dia bisa mengalihkan pikiran Bila dari hal yang membuatnya kesal.


“Seru, tadi ngomongin banyak hal.” Tak perlu kan Bila menjelaskan apa saja yang merek bicarakan.


Bunda Erina mengangguk. Namun pembicaraan mereka terhenti saat perut seseorang berbunyi dan minta diisi.


Bila dan Bundanya tergelak ketika mendengar hal itu. “Ya udah ayo makan,” ucap Bunda Erina.


Bertepatan dengan hal itu, Bi Inah datang dengan Mang Parman di sampingnya. “Eh Mang, Bi, sini makan bareng,” ujar Bunda Erina saat melihat kedua orang itu.


“Bibi udah makan duluan tadi Nya, soalnya magh Bibi kambuh,” jawab Bi Inah.


“Wahh hati-hati Bi jangan dibiarin gitu aja. Kalau perlu nanti kita periksa ke dokter,” timpal Tuan Harla.


“Gak perlu Tuan, makasih. Minum obat juga sembuh,” tolak Bi Inah halus.


“Enggak Bi. Besok kita periksa ke dokter ya.” Akhirnya Bi Inah tak bisa lagi menolak. Dia hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


“Mamang juga udah makan?” Mungkin saja Mang Parma juga sudah makan. Namun, pria paruh baya itu menggeleng.


“Belum Nya,” kekehnya. “Ya udah ayo makan bareng.” Mang Parman mengangguk dan mulai duduk di kursi yang masih kosong.


“Bibi juga jangan kemana-mana. Nyemil aja di sini.” Bi Inah mengangguk saat Bila memintanya untuk duduk di sana.


Tak bisa dipungkiri lagi jika suasana makan yang ramai seperti ini membuat hangat. Tak hanya secara fisik, tapi hati mereka terasa penuh. Tak ada lagi ruang kosong.


“Bila harap, Bila bisa terus makan seperti ini sama kalian,” ucap Bila yang membuat hati Bunda Erina tersentuh.


Dia sadar, hanya keberadaan mereka selama ini yang dibutuhkan oleh Bila. Bukan pengasuh, ucapan semangat, apalagi uang. Bila hanya memerlukan sebuah keluarga yang utuh dan selalu ada disaat Bila terjatuh maupun bahagia.


Bila makan dengan lahap. Dia sangat bersyukur trimester pertama bisa dia lewati dengan lancar. Bila bisa mengontrol dirinya meskipun saat itu dia benar-benar sedih karena tak ada yang mendukungnya.


“Kayanya cucu Oma lapar banget ya?” kekeh Bunda Erina saat melihat Bila makan dengan lahap.


Bila yang sadar akan hal itu spontan memandang Bundanya. “Bila lapar dari tadi Bun,” ucap Bila sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


Bunda Erina menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya. “Lain kali kalau lapar makan duluan aja, gak usah nunggu Bunda sama Ayah. Kasian anak kamu.” Bunda Erina menasihati Bila.


Bila mengangguk. Awalnya dia juga mau makan duluan, tapi karena Bi Inah bilang jika Bunda dan Ayahnya sudah datang, makanya Bila lebih memilih untuk menunggu.


Mereka selesai makan bersamaan. Bi Inah membereskan piring bekas mereka makan. Mang Parman bangkit dari duduknya. “Makasih makanannya Nya, Tuan.”


“Sama-sama Mang. Lain kali kalau kita lagi makan bareng, ikut gabung aja ya.” Mang Parman mengangguk menanggapi ucapan Tuan Harla.


Setelah itu Mang Parman kembali ke kamarnya. Sementara Bila, Tuan Harla dan Bunda Erina pergi ke ruang keluarga.


Tak banyak yang mereka lakukan. Hanya Bila yang bermanja pada Bundanya dan Tuan Harla yang sibuk melihat tontonan di televisi.


“Dari tadi berita KDRT mulu, bosen Bila dengarnya,” ucap Bila sambil memeluk Bundanya dari samping. Memang, saat ini televisi di hadapannya sedang menampilkan kasus KDRT yang sama seperti yang dibaca Bila tadi.

__ADS_1


Bunda Erina terkekeh mendengar hal itu. “Terus kamu mau dengar berita apa?”


“Ya berita yang bahagia-bahagia aja gitu loh. Kan jadi takut kalau bahas ini terus.” Ucapan Bila seketika membuat Bunda Erina dan Tuan Harla terdiam dan saling tatap.


__ADS_2