Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
63. Lampu Hijau Calon Mertua


__ADS_3

Pada akhirnya Jeff dan Bila pulang ke rumah mereka. “Kamu tadi ketemu Raveno?” tanya Jeff di tengah perjalanan pulang mereka.


Entah kenapa Jeff tiba-tiba teringat hal itu dan ini adalah kesempatan yang tepat untuk membahasnya.


“Dari mana kamu tau?” tanya Bila heran. Jeff terkekeh. “Tadi dia keluar dari sekolah. Aku cuma nebak aja padahal,” jawab Jeff.


“Iya tadi dia datang ke rumah. Kebetulan banget aku juga lagi di rumah.”


“Dia bilang apa?” tanya Jeff penasaran. “Dia tanya tentang pernikahan aku. Kayanya dia gak percaya kalau aku udah nikah,” jelas Bila.


“Tapi darimana dia tau ya?” lanjut Bila ketika dia sadar dia tak pernah memberitahu siapapun di sekolah kecuali Keisya dan Stevani.


“Ya siapa lagi kalau bukan dua teman kamu itu. Mulut mereka kan ember,” jawab Vano. Meski Bila tak ingin mengakui jika yang dikatakan suaminya itu adalah sebuah kebenaran, tapi pada akhirnya dia mengangguk juga.


“Dasar! Aku kira mereka bisa dipercaya,” kekehnya. Bila memang tak menginginkan teman-teman lainnya tahu tentang pernikahan mereka. Tapi jika tahu juga tak menjadi masalah yang besar baginya.


“Kayanya mereka gak sengaja ngomongin kamu abis itu Raveno dengar,” tebak Jeff tak ingin berburuk sangka lebih lanjut pada teman Bila itu.


Bila mengangguk. “Kamu tau kalau Raveno suka sama kamu?” tanya Jeff. Sebagai sesama pria, Jeff juga tahu jika Raveno memiliki ketertarikan pada istrinya itu.


“Hmm, dia juga udah pernah bilang kok.” Yang satu ini Jeff baru mengetahuinya.


“Terus kamu gimana?” Jeff khawatir Bila sempat menerima pria itu. “Aku tolak karena aku sadar kalau hati aku cuma buat kamu.”


Mungkin kalimat itu terdengar seperti sebuah gombalan, tapi pada kenyataannya memang begitu.


Sejauh apapun mereka berpisah, selama apapun waktu yang mereka habiskan untuk tak saling bertemu, rasa sayang itu masih tetap sama dan utuh.


Jeff tersenyum lebar, bangga karena tak ada yang bisa menggantikannya di hati Bila.


Mereka tiba di rumah mereka. “Aku siapin air dulu ya.” Tanpa duduk terlebih dahulu, Bila segera menyiapkan air hangat untuk Jeff mandi.


Sementara itu Jeff duduk di sofa dan menyalakan televisi. Dia menonton hal-hal yang sebenarnya membosankan, tapi akan lebih bosan jika dia tak melakukan apapun.


**** 

__ADS_1


Di lain sisi, setelah Raveno selesai membawa Melinda ke rumah sakit dan mengecek kesehatan gadis itu, Raveno tak langsung membawa Melinda pulang.


Dia malah membawa Melinda ke rumahnya. Entah setan apa yang merasuki tubuhnya hingga dia berani melakukan hal ini.


“Kamu yakin bawa aku ke rumah kamu?” Melinda berusaha meyakinkan pria itu. Dia tak mau Raveno menyesal nantinya.


“Jangan terlalu percaya diri. Gue ke rumah cuma mau ambil jaket. Gak dengar tadi kata dokter? Lo gak boleh kena dingin,” jelas Raveno.


Mendengar ada suara ribut dari arah luar, Bunda Raveno segera melihat. Dia takut ada hal berbahaya yang tengah terjadi.


“Loh, Bang. Kenapa gak masuk? Kok malah ngobrol di luar,” ujar Bundanya ketika melihat Raveno masih di dekat motornya dan membawa seorang gadis.


“Gak lama kok Bun. Cuma mau ambi jaket!” Raveno sedikit berteriak karena jarak mereka yang cukup jauh.


Bukannya menjawab Raveno, Bundanya malah menghampiri Raveno. “Gak baik tamu dibiarin di luar.” Bundanya mengelus lengan Raveno lembut.


“Masuk Sayang.” Bukan pada Raveno, tapi Bundanya mengatakan itu pada Melinda.


Melinda yang merasa terpanggil segera menganggukkan kepalanya dan memandang Raveno sombong sebelum kemudian dia mengekor Bunda Raveno.


Akhirnya dia juga ikut masuk ke dalam rumah. “Duduk dulu, biar Bunda bikinin teh,” ucap Bunda Raveno.


“Ah gak usah Bunda. Mel gak lama kok,” jawab gadis itu sungkan. “Jadi, nama kamu ... “


“Melinda, Bunda.” Melinda melanjutkan kalimat Bunda Raveno dengan menyebutkan namanya.


“Melinda, nama yang cantik. Tunggu sebentar ya, bunda bikinin minum dulu.” Tanpa bisa menolak, gadis itu hanya mengangguk.


Sekarang di sana hanya ada Raveno dan Melinda. “Makasih ya Rav udah kenalin Mel ke calon mertuanya Mel,” kekeh gadis itu kegirangan.


Raveno berdecak. “Mimpi lo!” sentaknya. “Mel bilang apa barusan? Jadi Mel pacarnya Raveno?”


Ya, Bunda Raveno mendengar apa yang baru saja dikatakan Melinda. Melinda hanya diam dengan senyum malu-malunya.


“Bukan Bunda. Dia cuma benalu yang selalu ngikutin Abang,” protes Raveno tak terima.

__ADS_1


“Hush!! Abang ngomongnya,” ucap Bundanya. “Bunda gak pernah ya ajarin kamu ngomong gitu,” lanjutnya.


Raveno hanya dia menanggapi perkataan Bundanya. Sebenarnya siapa yang anaknya di sini, dia atau justru Melinda.


“Lagi proses perjuangin Raveno kok Bun, tenang aja.” Meskipun Raveno sudah menyebutnya benalu, tapi Melinda sudah kebal dengan hal itu. 


Banyak ucapan Raveno yang lebih menyakitkan daripada itu. “Kalau gitu semangat ya.” Bundanya malah memberikan semangat pada Melinda.


Melinda mengangguk kemudian tersenyum bahagia. “Nih minum dulu,” tawar Bundanya.


“Jangan lama-lama minumnya, nanti keburu malam,” ucap Raveno yang kemudian diangguki oleh Melinda.


Benar saja, dalam sekali tegukan minuman itu sudah tandas. “Udah selesai,” ucap Melinda.


Raveno menganga. Dia memang bilang untuk jangan lama, tapi bukan berarti Melinda harus menghabiskannya dalam satu kali minum.


Melinda tersenyum sementara itu Raveno berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil jaket lebih tepatnya hoodie.


Hoodie hitam milik Raveno dia serahkan pada Melinda. “Nih pakai,” perintah pria itu.


Tanpa berkata apapun lagi, Melinda segera memakainya. “Wah gede banget,” ujarnya tanpa sadar.


Ya hoodie itu terlalu besar jika dipakai oleh Melinda. Bahkan panjangnya mencapai lutut gadis itu. Tangannya juga sangat kepanjangan.


“Raveno gede banget,” desisnya. “Udah gak usah protes, ayo pulang!” Melinda mengangguk. Dia beralih pada Bunda Raveno dan berpamitan.


“Bunda, Mel pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi.” Melinda bersalaman kemudian melambaikan tangannya pada Bunda Raveno walaupun saat ini tangannya itu tenggelam oleh lengan hoodie yang dia kenakan.


“Hati-hati Sayang. Sering-sering main ke sini,” jawab Bundanya. Melinda mengangguk dan segera menaiki motor Raveno.


Setelah cukup jauh dari Rumah Raveno, Raveno baru membuka suaranya. “Jangan dengerin Bunda gue. Lo gak perlu main ke rumah lagi. Ini yang terakhir,” ucap Raveno.


Melinda di belakang malah meledek Raveno yang terus menerus menasehatinya. Melinda menanggapi ucapan pria itu masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri.


Mana mungkin dia akan menyerah pada Raveno ketika Bunda dari pria itu sudah memberikan lampu hijau.

__ADS_1


“Iya iya, berisik kamu tuh!” Raveno bungkam ketika Melinda sudah membentaknya. Untuk kali pertama Melinda berani membentaknya.


__ADS_2